Kamis, 04 September 2025

Menulis Biografi



Narasumber : Lely Suryani, S.Pd. SD 

Menulis biografi diibaratkan mengukir kisah hidup menjadi untaian kata yang indah dan bermakna. Dari langkah kecil sampai keputusan besar, dari pengalaman pahit hingga puncak pencapaian, semuanya bisa dirangkai menjadi cerita yang unik, inspiratif, dan menyalakan harapan. Itulah ruh utama dari materi malam ini: mengapa biografi penting, kepada siapa ia ditulis, dan bagaimana cara menuliskannya dengan etis, akurat, dan menyentuh. Momentum belajar ini juga ditandai oleh ajakan untuk “tidak terlewatkan” karena kita akan mengukir biografi bersama editor Melintas yang andal—sebuah kolaborasi yang menegaskan bahwa menulis adalah kerja intelektual sekaligus kerja hati.

Nuansa pembuka yang religius—ucapan salam, puji syukur kepada Allah SWT, serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW—menghadirkan etos kesantunan dalam belajar. Penghormatan ditujukan kepada Om Jay, Guru Blogger Indonesia, para narasumber KBMN, TSO, dan seluruh peserta KBMN Gelombang 33 yang siap “menjelajah kawasan tanpa batas”. Untaian apresiasi untuk Bunda AAM NURHASANAH menegaskan nilai kebersamaan: di KBMN tidak ada senioritas; semua berjalan berdampingan menuju satu tujuan, yakni mengembangkan literasi. Inilah semangat yang menjadi fondasi: berbagi, saling menguatkan, dan tumbuh bersama.

Di tengah suasana itu, Lely Suryani dari Kota Dawet Ayu memperkenalkan diri dan membagikan pengalamannya menulis buku biografi. Ia menekankan bahwa keterampilan menulis biografi adalah kompetensi yang perlu dimiliki calon penulis. Lebih jauh, di ranah KBMN, karya biografi bahkan bisa menjadi salah satu syarat kelulusan, menjadi bukti kompetensi menulis, dan—terutama bagi guru—bisa disematkan di Dapodik. Artinya, biografi tidak semata karya estetis, melainkan juga dokumen profesional yang berdaya guna dan berdaya bukti.

Karena forum ini adalah kelas orang dewasa dan berlangsung secara daring, pola belajarnya dibuat sederhana dan efektif. Pertama, belajar mandiri dengan fokus memahami materi. Kedua, berdiskusi interaktif untuk menjernihkan hal-hal yang belum terang. Ketiga, praktik menuliskan hasil belajar, meski singkat. Keempat, menghasilkan karya sebagai wujud nyata bahwa pengetahuan terserap. Selain itu, peserta dianjurkan membaca beragam buku biografi agar peka pada ragam gaya, struktur, dan pendekatan naratif. Membaca akan memperkaya sudut pandang, menajamkan rasa, dan memberi referensi konkret saat menulis.

Salah satu miskonsepsi yang diluruskan adalah anggapan bahwa biografi hanya pantas ditulis setelah tokohnya wafat, demi menghindari kultus individu. Pandangan ini dikontekstualkan: biografi bisa ditulis untuk siapa saja—baik yang sudah meninggal maupun masih hidup. Rinciannya, ada biografi tokoh wafat, ada otobiografi yang ditulis oleh tokoh itu sendiri, dan ada biografi tokoh yang masih hidup (yang lazim memerlukan wawancara). Menulis tentang tokoh yang masih hidup punya dua nilai utama: menginspirasi publik melalui kisah nyata dan mendokumentasikan kontribusi bagi generasi mendatang. Tantangannya jelas: izin, kerja sama, dan keterbukaan tokoh terhadap aspek-aspek pribadi maupun profesional.

Ditekankan pula bahwa biografi menuntut ketepatan data dan sumber yang valid. Akurasi adalah etika; ia melindungi martabat tokoh dan integritas penulis. Pengalaman hidup tokoh yang disusun dengan cermat akan lebih mudah dipahami dan diapresiasi—terutama bagi para pembaca yang mengidolakan atau menjadikannya teladan. Karena itu, proses penulisan idealnya diawali dengan menyusun draf atau TOC (table of contents). Pilih tokoh yang berdampak pada diri penulis atau lingkungan. Sebagai latihan, mulailah dari biografi singkat orang-orang terdekat. Pengalaman mengedit naskah biografi untuk kenangan kepala sekolah purnabakti menunjukkan betapa pentingnya proses kurasi cerita, pilihan sudut pandang, dan ketelitian verifikasi.

Langkah-langkah menulis dirumuskan runtut dan praktis. Mula-mula, timbang dan pilih calon tokoh; selanjutnya minta izin. Atur jadwal wawancara dan diskusi, lalu laksanakan sesuai kesepakatan. Carilah sumber pendamping—dokumen, arsip, saksi—untuk menguatkan data. Setelah draf selesai, diskusikan lagi untuk revisi dan persetujuan. Jika siap, lanjut ke tahap produksi dan cetak. Untuk tokoh yang telah meninggal, sumber primer dapat diperoleh dari keluarga dan orang terdekatnya. Detail tanggal dan tahun kejadian idealnya dicantumkan secara kronologis; bila tak ada, penanda masa (misalnya “kelas 6 SD” atau “awal kuliah”) cukup membantu. Keterbatasan data bukan aib, selama penulis jujur atas sumbernya.

Pertanyaan penting lain menyentuh aspek empati dan dramaturgi: bagaimana menuturkan momen sulit tanpa membuat tokoh tampak lemah atau terkesan meminta belas kasihan? Jawabnya, fokus pada proses, pilihan, dan daya lenting—bukan semata derita. Tampilkan kebiasaan, cara bicara, kegemaran kecil—detail yang “menghadirkan” tokoh di mata pembaca. Kelebihan wajib diangkat karena itulah yang meneguhkan ketokohan. Kekurangan boleh ditulis jika relevan dan menjadi pijakan tumbuh. Namun semua materi sensitif mesti dikomunikasikan; bila tokoh keberatan, hormati dan keluarkan. Etika ini menjamin kejujuran tanpa sensasi, keterbukaan tanpa pelanggaran privasi.

Kebuntuan menulis—sulit membuat kerangka, mulai mengetik, dan menjaga ritme—ditangani dengan strategi sederhana: rawat semangat dan konsistensi lewat komunitas. Berada di tengah sesama penulis membuat komitmen lebih terjaga. Karena teori mudah pudar, praktik harus diprioritaskan. Mulailah dari menyusun TOC dan menulis di blog pribadi, lalu bagikan tautannya untuk umpan balik. Sebagai referensi struktur, ditunjukkan contoh daftar isi buku “50 Puluh Tahun Lebih Dekat Om Jay”: masa kecil dan sekolah, biodata, pandangan pertama, pandangan keluarga, pandangan teman, pandangan penulis, tulisan-tulisan inspiratif Om Jay, dan tentang guru penulisnya. Contoh ini bukan satu-satunya format, tetapi memberi gambaran ritme penceritaan yang bertahap.

Bagi yang ingin menulis biografi pendiri yayasan namun bingung memulai, arahnya konkret. Sampaikan rencana kepada teman dekat untuk menguji kelayakan ide. Rancang langkah: susun pertanyaan, atur wawancara, kumpulkan dokumen, potret arsip organisasi, dan temui saksi kunci. Tulis sketsa kronologi hidup dan peta tema (pendidikan, visi, karya, krisis, warisan). Kerjakan draf per bab, lakukan cek silang, lalu minta persetujuan. Jaga etika, imbangkan pujian dengan kritik konstruktif, dan pastikan semua klaim bertumpu pada bukti. Dengan pola ini, kebingungan akan terurai menjadi langkah-langkah kecil yang bisa dieksekusi.

Pada akhirnya, menulis biografi adalah kerja merawat ingatan sekaligus menyalakan harapan. Ia menghormati jejak seorang manusia, menautkan kisah personal dengan kemaslahatan sosial, dan menawarkan teladan yang dapat ditiru. Semangat KBMN—tanpa senioritas, penuh kolaborasi, dipandu niat baik TSO dan pendamping seperti Bunda AAM—menjadi lanskap yang subur bagi lahirnya karya yang jujur, rapi, dan bernilai. Malam ini, ajakan yang menggema sederhana: fokus pada pengembangan literasi, digital maupun non-digital; pelajari materinya, diskusikan yang belum jelas, praktikkan walau singkat, dan lahirkan karya. Karena hanya karya yang membuat ilmu tinggal lebih lama di dalam diri.


 

Jumat, 29 Agustus 2025

Mengelola Majalah Sekolah


Moderator: Nur Dwi Yanti 
Narasumber : Widya Arema

Malam ini, suasana kelas menulis KBMN-33 terasa istimewa. Dipandu oleh Nur Dwi Yanti—akrab disapa NDY—sebagai moderator, pertemuan dibuka dengan sebuah kutipan Albert Einstein yang sarat makna: “Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think.” Pendidikan bukan sekadar menghafal fakta, melainkan melatih pikiran agar terbiasa berpikir.

Kutipan ini menjadi pintu masuk menuju tema besar diskusi: Majalah Sekolah. Tema yang sederhana, sering luput dari perhatian, namun sesungguhnya menyimpan potensi luar biasa sebagai sarana literasi, kreativitas, sekaligus refleksi bagi seluruh warga sekolah.

NDY memperkenalkan narasumber malam itu, seorang sahabat sekaligus adiknya sendiri, Ibu Widya Arema. Sosok yang sudah lama berkecimpung di dunia literasi, khususnya dalam pengelolaan majalah sekolah. Melalui paparannya, peserta diajak menyelami bahwa majalah sekolah bukan sekadar kumpulan berita atau dokumentasi, melainkan wadah ekspresi dan identitas sekolah.

Seperti kata Pramoedya Ananta Toer yang juga disampaikan dalam sesi ini: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah.” Dengan menulis, seseorang menorehkan jejak yang tidak akan mudah hilang, bahkan bisa menjadi warisan berharga.


Widya: Dari Lembar Kosong Menjadi Jejak Bermakna

Widya mengawali pemaparan dengan narasi puitis. Baginya, menulis adalah perjalanan hati. Setiap kata yang lahir dari nurani bisa membentuk jiwa, menyalakan semangat, sekaligus menjadi cermin bagi siapa pun yang membacanya.

Ia menceritakan perjalanannya bergabung di KBMN sejak gelombang 21, tepat saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Dari awalnya hanya peserta, kini ia berdiri sebagai narasumber. Selama perjalanan itu, Widya telah menorehkan puluhan antologi dan tiga karya solo. Namun yang paling membahagiakan baginya bukanlah jumlah karya, melainkan kesempatan bertemu guru-guru hebat dari seluruh Indonesia, bersahabat, dan berkolaborasi dalam literasi.

Ia juga menyampaikan rasa syukur pada Om Jay dan tim solid KBMN yang selalu memberikan ruang bagi para penulis untuk berkembang. Baginya, literasi adalah tabungan kebaikan—setiap tulisan yang dibuat akan menjadi bekal berharga, bahkan hingga kehidupan setelah mati.


Majalah Sekolah: Dari Fotokopi Hingga Full Colour

Sesi berlanjut pada pengalaman konkret Widya dalam mengelola majalah sekolah di MI Khadijah. Majalah ini sudah terbit sejak tahun 2010, dan sejak 2015 ia dipercaya menjadi pemimpin redaksi. Perjalanannya tidak mudah. Edisi pertama majalah hanya berupa lembar folio yang difotokopi, dijepit di tengah, jauh dari tampilan profesional. Namun semangat konsistensi dan kolaborasi menjadikannya terus berkembang hingga kini.

Baginya, yang mahal bukan biaya cetak, melainkan semangat para guru. Guru yang rela berkorban waktu dan tenaga untuk menyediakan jendela informasi bagi siswa, orang tua, hingga masyarakat sekitar.

Widya merinci beberapa langkah penting dalam membangun majalah sekolah:

  1. Menemukan tim yang sevisi. Dibutuhkan rekan sejawat yang memiliki semangat literasi.

  2. Menyusun proposal. Meliputi latar belakang, tujuan, struktur redaksi, hingga rencana pendanaan.

  3. Menentukan identitas majalah. Nama, isi berita, dan visi yang ingin dibawa.

  4. Mencari sponsor atau rekanan. Untuk mendukung pembiayaan majalah.

Menurutnya, kunci utama ada pada guru. Tidak mungkin siswa mencintai literasi jika gurunya sendiri tidak memiliki budaya literasi. Semua guru harus merasa memiliki majalah sekolah, bukan hanya segelintir tim redaksi. Dengan begitu, semangat menulis akan lebih mudah menular kepada siswa.

Soal pendanaan, Widya menawarkan tiga sumber:

  1. Swadaya dari orang tua.

  2. Dana BOS.

  3. Sponsorship atau rekanan, termasuk orang tua siswa yang memiliki usaha.

Ia menutup bagian ini dengan kalimat motivatif: “Satu ons aksi lebih berharga daripada satu ton niat.”


Sesi Tanya Jawab

Diskusi menjadi semakin hidup dengan pertanyaan dari berbagai peserta.

1. Mardiah dari Banten bertanya soal bagaimana menentukan tema majalah sekolah.
Widya menjawab bahwa tema bisa diambil dari identitas sekolah, minat siswa, momen khusus dalam kalender pendidikan, atau bahkan rubrik yang sudah disusun. Yang penting, tema harus menggugah, misalnya “Majalahku, Cermin Sekolahku” atau “Menulis dengan Hati, Membaca dengan Nurani.”

2. Karno dari Makassar menyoroti soal sponsorship.
Widya menekankan pentingnya proposal yang profesional. Rekanan harus diyakinkan bahwa majalah sekolah adalah media yang bermanfaat bagi promosi usaha mereka. Bentuk kolaborasi bisa berupa iklan, profil usaha, atau kisah inspiratif yang relevan.

3. Herlina bertanya tentang tantangan dan pengelolaan tim redaksi.
Jawaban Widya menyoroti beberapa hambatan: keterbatasan SDM, pendanaan, dukungan sekolah, konsistensi jadwal, hingga minat pembaca. Semua bisa diatasi dengan tim yang solid, rapat rutin, pelibatan siswa, dan penggunaan platform digital untuk kolaborasi.

4. Dede Awaludin dari Majalengka menanyakan aplikasi untuk desain majalah.
Widya merekomendasikan Canva, Photoshop, atau aplikasi serupa. Prinsipnya, desain harus menampilkan identitas sekolah, dengan layout yang rapi, warna harmonis, dan font mudah dibaca.

5. Fazar dari Garut mengajukan pertanyaan strategis: apakah majalah harus dikelola guru saja, dan apakah lebih baik berbentuk digital atau fisik?
Widya menegaskan, di tingkat SMA/SMK sebaiknya majalah dikelola bersama guru dan siswa—terutama OSIS. Soal format, keduanya penting. Majalah digital lebih praktis, interaktif, dan hemat biaya. Sementara majalah fisik memberi kesan intim, cocok untuk dokumentasi jangka panjang.

6. Parman dari Bengkulu menutup sesi tanya jawab dengan pertanyaan tentang langkah sederhana membuat majalah menarik.
Widya menjawab: tentukan tema, susun rubrik tetap, libatkan guru-siswa, gunakan bahasa naratif, desain menarik, tambahkan interaktivitas (seperti QR code), dan sebarkan lewat media digital.


Penutup: Menyalakan Cahaya Literasi

Sebagai penutup, Widya menyampaikan pesan yang menggugah hati:

Menulis bukan sekadar merangkai huruf, melainkan menyalakan cahaya di tengah gelapnya pikiran.

Tulisan mampu mengubah cara pandang, menggerakkan hati, bahkan menjadi warisan berharga bagi dunia pendidikan. Guru, menurutnya, bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga penyalur cahaya ilmu melalui tulisan. Setiap pengalaman mendidik, setiap cerita kecil di kelas, adalah mutiara yang pantas diabadikan.

Ia mengajak semua peserta KBMN-33 untuk terus menulis dengan hati, menggoreskan tinta dengan penuh cinta, dan membuktikan pada dunia bahwa guru adalah pelukis kata yang tidak pernah kehabisan inspirasi.


Refleksi

Dari keseluruhan sesi ini, ada tiga pesan penting yang bisa dipetik:

  1. Majalah sekolah adalah wadah literasi. Ia bukan sekadar dokumentasi, melainkan sarana ekspresi, refleksi, dan pembentukan identitas sekolah.

  2. Guru memegang peran sentral. Mustahil siswa cinta literasi tanpa guru yang meneladankannya.

  3. Konsistensi lebih berharga daripada kesempurnaan. Mulailah dari sederhana, meski hanya fotokopi hitam putih, karena dari situlah benih besar akan tumbuh.

Malam ini, KBMN-33 bukan hanya kelas menulis, melainkan ruang untuk menyalakan api literasi bersama. Dari kisah Widya Arema, para peserta belajar bahwa majalah sekolah bisa menjadi ladang ibadah, sekaligus jendela yang mempertemukan gagasan siswa, guru, dan masyarakat.