Moderator: Mutmainah, M.Pd.
Narasumber: Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd.
Menulis puisi sering diibaratkan seperti menari dengan kata-kata. Ia bukan sekadar aktivitas menuangkan kalimat ke atas kertas, melainkan proses mengguratkan perasaan dengan bahasa yang indah, menyulam imajinasi dengan harmoni, serta menyuarakan jiwa melalui diksi yang lembut. Tidak heran jika banyak yang menyebut puisi sebagai bentuk ekspresi paling murni dan jujur. Di dalam bait-bait puisi, seseorang dapat menumpahkan perasaan terdalam, mencatat pengalaman hidup, bahkan menyingkap sisi otentik yang barangkali tak bisa diungkapkan melalui bahasa sehari-hari.
Dalam forum Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) ke-33, topik “Seni Menulis Puisi” diangkat sebagai materi utama. Pertemuan ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat, mempertemukan para insan kreatif yang memiliki tekad untuk terus menulis. Sebagai moderator, Emut Lebak mengawali dengan kalimat penuh energi, mengajak semua peserta untuk membuka hati, meluaskan imajinasi, serta berani mengungkapkan keindahan yang ada di dalam diri.
Malam itu terasa istimewa karena materi disampaikan oleh seorang tokoh yang sudah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan sekaligus literasi, yaitu Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd. atau akrab disapa Ibu Hasanah. Beliau lahir di Sukabumi pada 10 Agustus 1967, seorang ibu dari tiga anak yang mendedikasikan hidupnya bagi kemajuan pendidikan dan literasi bangsa. Saat ini, Ibu Hasanah bertugas sebagai Pengawas Madrasah Aliyah di Kantor Kementerian Agama Sukabumi, sekaligus mengajar sebagai dosen di STAI Kharisma Cicurug.
Perjalanan kariernya sarat dengan prestasi. Pada tahun 2021, beliau berhasil meraih predikat Pengawas Berprestasi Tingkat Jawa Barat. Di tahun yang sama, beliau juga menerima penghargaan bergengsi sebagai salah satu penerima Anugerah Guru dan GTK Kemenag Berprestasi Tingkat Nasional, khususnya dalam kategori Pengawas Madrasah Berprestasi. Prestasi ini tentu saja tidak diraih dengan instan. Selain menjalankan tugas pengawasan, beliau senantiasa aktif memberikan motivasi dan dorongan kepada para guru agar terus meningkatkan kualitas diri serta semangat literasi.
Semangat literasi inilah yang menjadi ciri khas perjalanan beliau. Sejak 2021, Ibu Hasanah telah produktif menulis, baik puisi, pantun, cerita, maupun artikel nonfiksi. Karya-karyanya terkumpul dalam lebih dari 70 buku antologi. Tidak heran jika beliau kini dianggap sebagai sosok inspiratif dalam dunia literasi, khususnya di kalangan madrasah.
Dalam sambutannya, Ibu Hasanah menyampaikan rasa terima kasih dan kebahagiaan karena kembali dapat membersamai para penulis hebat KBMN. Beliau menegaskan bahwa dirinya bukanlah seorang pujangga atau sastrawan, melainkan hanya seseorang yang mencintai puisi. Bahkan, kecintaannya terhadap puisi lahir berkat motivasi dari KBMN, yang kemudian mendorongnya untuk terus menulis hingga melahirkan buku.
Apa Itu Seni Menulis Puisi?
Salah satu bagian menarik dalam forum ini adalah ketika pertanyaan dilontarkan: “Apa itu seni menulis puisi?” Jika ditanyakan pada mesin pencari atau kecerdasan buatan seperti ChatGPT, jawabannya akan menjelaskan bahwa seni menulis puisi adalah proses kreatif menggunakan bahasa untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, dan pengalaman dalam bentuk yang indah serta ekspresif.
Puisi dibangun melalui pemilihan kata-kata yang cermat, struktur yang rapi, penggunaan metafora yang kuat, serta irama yang mampu membangkitkan emosi. Ada puisi yang terikat dengan rima dan ritme tertentu, tetapi ada juga puisi modern yang lebih bebas dalam bentuknya. Meski begitu, esensi utamanya tetap sama: menyampaikan makna mendalam melalui bahasa yang padat dan penuh daya pukau.
Ibu Hasanah kemudian memperjelas, bahwa puisi bukan hanya rangkaian kata, melainkan juga ruh dan daya getar batin. Puisi menghadirkan suara jiwa penyair, menghidupkan perasaan, dan kadang menjadi doa yang diam-diam terucap dalam keheningan.
Unsur Penting dalam Menulis Puisi
Dalam penjelasannya, Ibu Hasanah menekankan beberapa unsur yang perlu diperhatikan oleh penulis puisi:
-
Tema – ide pokok atau pesan utama yang ingin disampaikan.
-
Nada dan rasa – sikap penulis terhadap tema, bisa lembut, tajam, reflektif, atau bahkan satir.
-
Amanat – pesan atau nilai yang hendak dititipkan kepada pembaca.
-
Diksi dan gaya bahasa – pemilihan kata-kata yang khas, indah, serta penuh makna.
Selain itu, puisi juga diperkaya oleh imaji, metafora, serta majas yang memperindah makna. Rima dan ritme bisa menambah musikalitas, walau tidak selalu menjadi keharusan dalam puisi modern.
Mengapa Disebut Seni?
Menulis puisi disebut seni karena membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menulis. Ia menuntut kepekaan rasa, kreativitas, dan intuisi untuk menangkap keindahan yang tak kasat mata. Seni puisi terletak pada bagaimana penyair mampu mengubah pengalaman sederhana menjadi ungkapan yang sarat makna, sehingga pembaca merasakan keindahan, kesedihan, kerinduan, atau bahkan harapan yang sama.
KBMN sebagai Ruang Tumbuh
Dalam forum KBMN, suasana belajar selalu terasa hangat dan mendukung. Ibu Hasanah mengajak semua peserta untuk menulis secara bebas. Menurutnya, yang terpenting adalah “menulis, menulis, menulis” tanpa harus terlalu khawatir pada aturan. Tema boleh beragam, ekspresi boleh bebas, sebab yang utama adalah keberanian menuangkan isi hati.
Beliau bahkan memberikan tantangan kecil: dua puisi terbaik yang dihasilkan malam itu akan mendapatkan hadiah berupa buku puisi. Tantangan ini semakin menyemangati peserta untuk serius mengasah kreativitasnya.
Definisi Menurut Ahli
Untuk memperkaya pemahaman, Ibu Hasanah juga menyampaikan definisi puisi menurut KBBI dan pandangan ahli sastra H.B. Jassin. Keduanya menegaskan bahwa puisi adalah karya sastra tulis yang menggunakan bahasa indah, padat, dan penuh makna untuk menciptakan emosi mendalam. Definisi ini memperkuat bahwa puisi memang tidak sekadar rangkaian kata, melainkan karya seni yang hidup.
Penutup Penuh Keakraban
Di akhir pertemuan, suasana semakin akrab. Ibu Hasanah menyampaikan salam hormat kepada Om Jay, Bu Kanjeng, tim solid KBMN, serta semua sahabat yang hadir. Beliau menegaskan bahwa keberadaannya di forum ini bukan sekadar untuk mengajar, tetapi juga untuk saling belajar, berbagi, dan menguatkan.
Ucapan “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” menutup sesi dengan penuh kehangatan. Malam itu bukan hanya pertemuan biasa, tetapi menjadi ruang di mana kata-kata bertransformasi menjadi seni, di mana puisi bukan sekadar bacaan, melainkan napas kehidupan.
Kesimpulan
Resume ini menegaskan bahwa seni menulis puisi adalah keterampilan sekaligus panggilan hati. Ia menuntut keberanian, kreativitas, dan kepekaan rasa. Melalui puisi, seseorang dapat mengekspresikan isi jiwa dengan bahasa yang indah dan penuh makna.
Pertemuan KBMN 33 bersama Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd. tidak hanya membuka wawasan tentang teknik menulis puisi, tetapi juga menghadirkan inspirasi. Bahwa siapa pun, bahkan yang awalnya merasa bukan pujangga, bisa menjadi penulis puisi ketika ada motivasi, ruang belajar, dan semangat untuk terus menulis.
KBMN menjadi wadah yang membuktikan bahwa literasi bukan sekadar kegiatan membaca dan menulis, melainkan gerakan bersama untuk menghidupkan kata, merawat budaya, serta menumbuhkan generasi kreatif yang mencintai sastra.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar