Jumat, 29 Agustus 2025

Mengelola Majalah Sekolah


Moderator: Nur Dwi Yanti 
Narasumber : Widya Arema

Malam ini, suasana kelas menulis KBMN-33 terasa istimewa. Dipandu oleh Nur Dwi Yanti—akrab disapa NDY—sebagai moderator, pertemuan dibuka dengan sebuah kutipan Albert Einstein yang sarat makna: “Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think.” Pendidikan bukan sekadar menghafal fakta, melainkan melatih pikiran agar terbiasa berpikir.

Kutipan ini menjadi pintu masuk menuju tema besar diskusi: Majalah Sekolah. Tema yang sederhana, sering luput dari perhatian, namun sesungguhnya menyimpan potensi luar biasa sebagai sarana literasi, kreativitas, sekaligus refleksi bagi seluruh warga sekolah.

NDY memperkenalkan narasumber malam itu, seorang sahabat sekaligus adiknya sendiri, Ibu Widya Arema. Sosok yang sudah lama berkecimpung di dunia literasi, khususnya dalam pengelolaan majalah sekolah. Melalui paparannya, peserta diajak menyelami bahwa majalah sekolah bukan sekadar kumpulan berita atau dokumentasi, melainkan wadah ekspresi dan identitas sekolah.

Seperti kata Pramoedya Ananta Toer yang juga disampaikan dalam sesi ini: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah.” Dengan menulis, seseorang menorehkan jejak yang tidak akan mudah hilang, bahkan bisa menjadi warisan berharga.


Widya: Dari Lembar Kosong Menjadi Jejak Bermakna

Widya mengawali pemaparan dengan narasi puitis. Baginya, menulis adalah perjalanan hati. Setiap kata yang lahir dari nurani bisa membentuk jiwa, menyalakan semangat, sekaligus menjadi cermin bagi siapa pun yang membacanya.

Ia menceritakan perjalanannya bergabung di KBMN sejak gelombang 21, tepat saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Dari awalnya hanya peserta, kini ia berdiri sebagai narasumber. Selama perjalanan itu, Widya telah menorehkan puluhan antologi dan tiga karya solo. Namun yang paling membahagiakan baginya bukanlah jumlah karya, melainkan kesempatan bertemu guru-guru hebat dari seluruh Indonesia, bersahabat, dan berkolaborasi dalam literasi.

Ia juga menyampaikan rasa syukur pada Om Jay dan tim solid KBMN yang selalu memberikan ruang bagi para penulis untuk berkembang. Baginya, literasi adalah tabungan kebaikan—setiap tulisan yang dibuat akan menjadi bekal berharga, bahkan hingga kehidupan setelah mati.


Majalah Sekolah: Dari Fotokopi Hingga Full Colour

Sesi berlanjut pada pengalaman konkret Widya dalam mengelola majalah sekolah di MI Khadijah. Majalah ini sudah terbit sejak tahun 2010, dan sejak 2015 ia dipercaya menjadi pemimpin redaksi. Perjalanannya tidak mudah. Edisi pertama majalah hanya berupa lembar folio yang difotokopi, dijepit di tengah, jauh dari tampilan profesional. Namun semangat konsistensi dan kolaborasi menjadikannya terus berkembang hingga kini.

Baginya, yang mahal bukan biaya cetak, melainkan semangat para guru. Guru yang rela berkorban waktu dan tenaga untuk menyediakan jendela informasi bagi siswa, orang tua, hingga masyarakat sekitar.

Widya merinci beberapa langkah penting dalam membangun majalah sekolah:

  1. Menemukan tim yang sevisi. Dibutuhkan rekan sejawat yang memiliki semangat literasi.

  2. Menyusun proposal. Meliputi latar belakang, tujuan, struktur redaksi, hingga rencana pendanaan.

  3. Menentukan identitas majalah. Nama, isi berita, dan visi yang ingin dibawa.

  4. Mencari sponsor atau rekanan. Untuk mendukung pembiayaan majalah.

Menurutnya, kunci utama ada pada guru. Tidak mungkin siswa mencintai literasi jika gurunya sendiri tidak memiliki budaya literasi. Semua guru harus merasa memiliki majalah sekolah, bukan hanya segelintir tim redaksi. Dengan begitu, semangat menulis akan lebih mudah menular kepada siswa.

Soal pendanaan, Widya menawarkan tiga sumber:

  1. Swadaya dari orang tua.

  2. Dana BOS.

  3. Sponsorship atau rekanan, termasuk orang tua siswa yang memiliki usaha.

Ia menutup bagian ini dengan kalimat motivatif: “Satu ons aksi lebih berharga daripada satu ton niat.”


Sesi Tanya Jawab

Diskusi menjadi semakin hidup dengan pertanyaan dari berbagai peserta.

1. Mardiah dari Banten bertanya soal bagaimana menentukan tema majalah sekolah.
Widya menjawab bahwa tema bisa diambil dari identitas sekolah, minat siswa, momen khusus dalam kalender pendidikan, atau bahkan rubrik yang sudah disusun. Yang penting, tema harus menggugah, misalnya “Majalahku, Cermin Sekolahku” atau “Menulis dengan Hati, Membaca dengan Nurani.”

2. Karno dari Makassar menyoroti soal sponsorship.
Widya menekankan pentingnya proposal yang profesional. Rekanan harus diyakinkan bahwa majalah sekolah adalah media yang bermanfaat bagi promosi usaha mereka. Bentuk kolaborasi bisa berupa iklan, profil usaha, atau kisah inspiratif yang relevan.

3. Herlina bertanya tentang tantangan dan pengelolaan tim redaksi.
Jawaban Widya menyoroti beberapa hambatan: keterbatasan SDM, pendanaan, dukungan sekolah, konsistensi jadwal, hingga minat pembaca. Semua bisa diatasi dengan tim yang solid, rapat rutin, pelibatan siswa, dan penggunaan platform digital untuk kolaborasi.

4. Dede Awaludin dari Majalengka menanyakan aplikasi untuk desain majalah.
Widya merekomendasikan Canva, Photoshop, atau aplikasi serupa. Prinsipnya, desain harus menampilkan identitas sekolah, dengan layout yang rapi, warna harmonis, dan font mudah dibaca.

5. Fazar dari Garut mengajukan pertanyaan strategis: apakah majalah harus dikelola guru saja, dan apakah lebih baik berbentuk digital atau fisik?
Widya menegaskan, di tingkat SMA/SMK sebaiknya majalah dikelola bersama guru dan siswa—terutama OSIS. Soal format, keduanya penting. Majalah digital lebih praktis, interaktif, dan hemat biaya. Sementara majalah fisik memberi kesan intim, cocok untuk dokumentasi jangka panjang.

6. Parman dari Bengkulu menutup sesi tanya jawab dengan pertanyaan tentang langkah sederhana membuat majalah menarik.
Widya menjawab: tentukan tema, susun rubrik tetap, libatkan guru-siswa, gunakan bahasa naratif, desain menarik, tambahkan interaktivitas (seperti QR code), dan sebarkan lewat media digital.


Penutup: Menyalakan Cahaya Literasi

Sebagai penutup, Widya menyampaikan pesan yang menggugah hati:

Menulis bukan sekadar merangkai huruf, melainkan menyalakan cahaya di tengah gelapnya pikiran.

Tulisan mampu mengubah cara pandang, menggerakkan hati, bahkan menjadi warisan berharga bagi dunia pendidikan. Guru, menurutnya, bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga penyalur cahaya ilmu melalui tulisan. Setiap pengalaman mendidik, setiap cerita kecil di kelas, adalah mutiara yang pantas diabadikan.

Ia mengajak semua peserta KBMN-33 untuk terus menulis dengan hati, menggoreskan tinta dengan penuh cinta, dan membuktikan pada dunia bahwa guru adalah pelukis kata yang tidak pernah kehabisan inspirasi.


Refleksi

Dari keseluruhan sesi ini, ada tiga pesan penting yang bisa dipetik:

  1. Majalah sekolah adalah wadah literasi. Ia bukan sekadar dokumentasi, melainkan sarana ekspresi, refleksi, dan pembentukan identitas sekolah.

  2. Guru memegang peran sentral. Mustahil siswa cinta literasi tanpa guru yang meneladankannya.

  3. Konsistensi lebih berharga daripada kesempurnaan. Mulailah dari sederhana, meski hanya fotokopi hitam putih, karena dari situlah benih besar akan tumbuh.

Malam ini, KBMN-33 bukan hanya kelas menulis, melainkan ruang untuk menyalakan api literasi bersama. Dari kisah Widya Arema, para peserta belajar bahwa majalah sekolah bisa menjadi ladang ibadah, sekaligus jendela yang mempertemukan gagasan siswa, guru, dan masyarakat.



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar