Senin, 18 Agustus 2025

Menulis Dongeng dan Cerita Fabel


Moderator    : Maesoroh, M.Pd.
Narasumber : Helwiyah, S.Pd., M.Pd.

Menulis dongeng bukan sekadar merangkai cerita, melainkan menanam benih keajaiban dalam hati pembaca. Fabel, misalnya, menjadi cermin kehidupan: hewan berbicara, manusia belajar, dan imajinasi tumbuh tanpa batas. Pena penulis ibarat tongkat sihir yang menghadirkan dunia baru sekaligus menyampaikan pesan moral.

Pengertian dan Ciri Dongeng
Dongeng adalah cerita fiksi yang bersifat imajinatif, biasanya sederhana, singkat, dan sarat makna.


Ciri khas dongeng antara lain:
  •  Mengandung pesan moral, hiburan, atau pendidikan.
  • Tokoh bisa berupa manusia, hewan, bahkan tumbuhan yang seolah hidup.
  • Latar waktu dan tempat tidak terbatas.
  • Alur cerita sederhana, biasanya dengan konflik dan solusi.
  • Bahasa bisa sederhana, namun menarik bila dirangkai indah.

Fungsi Dongeng 
Dongeng berperan penting dalam perkembangan imajinasi dan karakter anak. Ia menjadi media yang efektif untuk menanamkan nilai, memberi nasihat, sekaligus hiburan yang menyenangkan


Tips Menulis Dongeng
Beberapa hal yang disampaikan narasumber terkait proses menulis antara lain:
  • Menentukan judul: sebaiknya setelah cerita selesai, agar mewakili isi.
  • Menyusun alur: buat tujuan, lalu kembangkan konflik dan solusi.
  • Dialog: gunakan permainan kata agar cerita hidup.
  • Pesan moral: harus sampai dengan jujur, sederhana, dan sesuai usia pembaca.
  • Motivasi: berangkat dari dalam diri, menulis sebagai tantangan untuk mengasah kemampuan.
  • Tantangan utama: keberanian memulai dan mengatasi rasa ragu.
Pertanyaan Peserta & Jawaban Narasumber

  • Konflik dalam dongeng tidak harus masalah besar; cukup hal sederhana seperti rasa iri, kebohongan, atau kesedihan.
  • Keindahan bahasa lahir dari banyak membaca dan berlatih.
  • Rasa tidak percaya diri wajar, namun harus diatasi dengan keberanian memulai dan menerima kritik. Writer’s block bisa dihadapi dengan jeda sejenak lalu kembali menulis.
  • Isi dongeng harus sesuai sasaran pembaca, agar tidak sekadar “menghibur kosong” melainkan juga mendidik.
  •  Dongeng vs kisah nyata: dongeng bersifat fiktif, sedangkan kisah nyata bisa menjadi cerpen atau kisah inspiratif.
  •  Fabel untuk dewasa memungkinkan, meski jika sudah menyinggung isu sosial realistis ia lebih mendekati cerpen
  • Latar bisa nyata atau imajiner, tergantung kebutuhan cerita.
Penutup

Diskusi ditutup dengan pesan bahwa menulis dongeng adalah sarana menebar nilai kebaikan dengan cara menyenangkan. Setiap orang bisa memulainya tanpa harus menunggu sempurna. Kritik dan latihan akan membentuk keterampilan, dan yang terpenting adalah keberanian untuk terus berkarya.




TEKNIK PENULISAN RESUME



Moderator     : Mutmainah, M.Pd.

Setelah melahirkan buku pertamanya, penulis diajak bergabung bersama tim solid Omjay dengan peran awal sebagai "kang flyer". Dari sana, peran berkembang menjadi moderator, narasumber, layouter, desainer cover buku, hingga editor.

Membuat resume pelatihan adalah proses merangkum informasi utama yang telah disampaikan dalam pelatihan. Secara umum, resume adalah ringkasan dari sebuah tulisan, buku, artikel, atau materi pelatihan. Tujuannya untuk menyederhanakan isi agar mudah dipahami dan diingat. Resume berbeda dengan ringkasan biasa karena tetap menampilkan pokok-pokok penting tanpa menghilangkan inti informasi. Dalam bahasa Indonesia, resume identik dengan ringkasan, sementara dalam bahasa Inggris resume lebih dikenal sebagai daftar riwayat hidup (CV).

Dalam praktiknya, resume bisa ditulis dengan cepat menggunakan beberapa trik sederhana: menyisihkan waktu sebentar sebelum kegiatan dimulai, menulis pembuka yang relevan dengan materi, menutup dengan kesimpulan, serta menyajikannya dalam paragraf singkat agar tidak membosankan. Resume yang informatif ditandai dengan struktur rapi, bahasa padat, jelas, dan menunjukkan pemahaman isi, sedangkan resume yang membosankan cenderung bertele-tele, terlalu panjang, atau sebaliknya terlalu singkat tanpa makna.

Bahasa dalam resume dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk akademik, sebaiknya formal, sementara untuk blog atau media sosial boleh lebih santai asalkan tetap jelas. Bahkan, resume bisa dikembangkan menjadi sebuah buku dengan langkah sederhana: menyusun daftar isi, memilih kumpulan resume terbaik, merapikannya di MS Word, lalu mencari penerbit.

Dalam diskusi, juga muncul perbandingan resume dengan resensi dan sinopsis. Resume hanya merangkum isi, sementara resensi menambahkan ulasan dan opini penulis, dan sinopsis lebih ditujukan untuk memperkenalkan cerita. Agar terhindar dari plagiasi, penulis resume disarankan memahami isi materi terlebih dahulu, menuliskannya dengan gaya bahasa sendiri, serta mencantumkan sumber bila mengutip langsung.

Selain itu, membangun visibilitas resume di blog dapat dilakukan dengan mengoptimalkan SEO, menggunakan kata kunci yang relevan, menulis konten bermanfaat, menambahkan gambar, serta aktif berbagi di media sosial.

Sebagai penutup, ada pesan penting yang dapat dijadikan pegangan: “Menulis adalah terapi. Kita tidak perlu melakukannya agar terlihat keren di hadapan orang lain, melainkan sebagai cara untuk memberi makna dan perubahan.”