Jumat, 24 Januari 2025

Menulis Setiap Hari

"Menulislah Setiap Hari Dan Buktikan Apa yang Terjadi" 
(Om Jay/ Kakek Jay)


Pertemuan Pertama Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 32
Rabu, 22 Januari 2025
Narasumber : Dr. Wijaya Kusuma, M.Pd.
Moderator    : Helwiyah, S.Pd., M.Pd.

Jalanku berkelok tidaklah mulus. 
Setapak ku tempuh terasa lama 
Belajar memulai menulis dengan tulus 
Meninggalkan jejak dengan nama

Rahasia Omjay bisa menulis setiap hari bukan mantra kaleng-kaleng. Hal ini didukung oleh 
1} kebiasaan dan disiplin : Om jay menjadikan menulis sebagai bagian dari rutinitas hariannya setiap hari
2) waktu yang stabil: menentukan waktu tertentu dikala sibuknya untuk menulis
3) target harian : menetapkan jumlah kata atau halaman yang harus ia capai dalam sehari.

Menulis adalah salah satu keterampilan penting untuk dikembangkan oleh setiap orang dimana aktivitasnya melibatkan kemampuan berpikir, komunikasi, dan kreativitas. Kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi penulis profesional, tetapi juga untuk siapa saja yang ingin meningkatkan keterampilan berpikir kritis terutama sebagai alat dalam menyampaikan informasi, sarana untuk menggali ide, memperbaiki kemampuan berpikir, dan mengungkapkan perasaan. Kebiasaan menulis setiap hari, meskipun dalam jumlah kecil, dapat memberikan dampak besar pada pengembangan diri dan produktivitas yang dapat memperkaya kehidupan pribadi maupun profesional.

Manfaat Menulis Setiap Hari

1. Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Analitis

Menulis memaksa kita untuk merangkai ide-ide secara logis dan sistematis. Ketika seseorang menulis, mereka belajar mengorganisasi pikiran mereka sehingga pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih jelas dan terstruktur. Sebuah penelitian oleh Kellogg (2008) menunjukkan bahwa menulis melibatkan fungsi kognitif tingkat tinggi, termasuk analisis, sintesis, dan evaluasi.

2. Mengasah Kreativitas

Kreativitas bukan hanya diperlukan dalam karya seni atau sastra, tetapi juga dalam memecahkan masalah sehari-hari. Menulis setiap hari, baik dalam bentuk jurnal, cerita pendek, atau artikel, dapat membantu melatih otak untuk berpikir out-of-the-box. Menurut Kaufman dan Beghetto (2009), praktik kreatif seperti menulis membantu meningkatkan fleksibilitas kognitif.

Kegiatan menulis setiap hari memaksa otak untuk terus berpikir kreatif. Ini tidak hanya berlaku pada tulisan fiksi, tetapi juga dalam bentuk non-fiksi seperti esai, jurnal, atau catatan harian. Kreativitas ini dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pekerjaan dan hubungan interpersonal.

3. Meningkatkan Kemampuan Komunikasi

Kemampuan menulis yang baik mendukung komunikasi yang efektif. Dengan menulis setiap hari, seseorang dapat memperkaya kosakata, memperbaiki tata bahasa, meningkatkan pemahaman terhadap struktur kalimat dan memahami cara menyampaikan ide secara persuasif. Semakin sering seseorang menulis, semakin baik mereka mengenal kekayaan bahasanya. Hal ini sangat penting dalam dunia kerja dan kehidupan sehari-hari.

Sebuah studi yang diterbitkan oleh National Literacy Trust (2012) menemukan bahwa individu yang terbiasa menulis setiap hari menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam keterampilan literasi mereka.

4. Mengurangi Stres dan Meningkatkan Kesejahteraan Mental

Menulis juga dikenal sebagai bentuk terapi yang efektif. Menurut Pennebaker (1997), menulis ekspresif dapat membantu mengelola emosi, mengurangi stres dan kecemasan, dan meningkatkan kesehatan mental. Dengan menuangkan emosi dalam bentuk tulisan, seseorang dapat lebih memahami perasaan mereka sendiri.  Dengan menuliskan apa yang dirasakan, seseorang dapat memahami dan menghadapi perasaan mereka dengan lebih baik.

5. Melatih Kemampuan Berpikir Logis dan Sistematis

Menulis membantu melatih otak untuk berpikir secara logis dan sistematis. Ketika seseorang menulis, mereka harus menyusun ide-ide secara runtut sehingga pesan yang ingin disampaikan menjadi jelas. Hal ini memperkuat kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut sebuah penelitian oleh Kellogg dan Raulerson (2007), menulis melibatkan keterampilan kognitif tingkat tinggi seperti perencanaan, organisasi, dan evaluasi. Dengan menulis setiap hari, individu terbiasa mengasah keterampilan ini.

Cara Memulai Kebiasaan Menulis Setiap Hari

1. Tetapkan Tujuan Menulis

Memulai kebiasaan menulis memerlukan tujuan yang jelas. Apakah Kita ingin menulis untuk meningkatkan keterampilan, menyelesaikan proyek tertentu, atau sekadar mencatat pengalaman harian? Dengan tujuan yang spesifik, Kita akan lebih termotivasi untuk menulis setiap hari.

2. Luangkan Waktu Khusus untuk Menulis

Konsistensi adalah kunci dalam membangun kebiasaan. Tentukan waktu tertentu setiap hari untuk menulis, misalnya di pagi hari sebelum memulai aktivitas atau di malam hari sebagai refleksi. Durasi tidak perlu lama; bahkan 15-30 menit sudah cukup untuk memulai. Dengan cara ini, menulis menjadi bagian dari rutinitas harian Kita.

3. Mulai dari Hal Sederhana

Tidak perlu langsung menulis artikel panjang atau karya sastra. Mulailah dengan catatan harian, daftar ide, atau bahkan satu paragraf singkat. Kebiasaan menulis akan berkembang seiring waktu.

4. Manfaatkan Teknologi

Di era digital, teknologi memberikan banyak kemudahan untuk menulis. Aplikasi seperti Google Docs, Evernote, atau bahkan blog pribadi dapat membantu Kita mencatat ide-ide dan menyimpan tulisan secara terorganisir.

5. Jangan Takut Gagal

Kesempurnaan bukan tujuan utama dalam menulis, terutama saat memulai kebiasaan ini. Fokuslah pada proses daripada hasil akhir. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Ketika menulis, jangan terlalu khawatir tentang tata bahasa atau ejaan yang sempurna. Fokuslah pada menyampaikan ide terlebih dahulu. Ingatlah bahwa setiap tulisan, meskipun terlihat sederhana, adalah langkah menuju peningkatan. Kita selalu bisa mengedit tulisan nanti.

6. Gunakan Tema atau Topik yang Menarik

Jika Kita merasa kesulitan untuk menulis, pilihlah tema atau topik yang menarik minat Kita. Bisa tentang hobi, pengalaman, opini terhadap isu tertentu, atau sekadar imajinasi bebas. Hal ini akan membuat aktivitas menulis lebih menyenangkan.

Tantangan dalam Menulis Setiap Hari

1. Kurangnya Waktu

Kesibukan sehari-hari sering menjadi alasan utama orang tidak menulis. Solusinya adalah dengan menetapkan prioritas dan mencari waktu luang. Misalnya, mengganti waktu scroll media sosial dengan menulis dalam waktu singkat, misalnya 10-15 menit setiap hari.

2. Rasa Malas atau Writer's Block

Tidak jarang seseorang merasa malas untuk menulis, terutama ketika tidak memiliki ide. Writer's block adalah hal yang wajar dalam menulis. Untuk mengatasinya, cobalah membaca buku, mendengarkan musik sebagai sumber inspirasi, menonton video inspiratif, atau berjalan-jalan untuk mencari ide segar. Teknik freewriting, yaitu menulis tanpa memikirkan struktur atau kualitas, juga dapat membantu mengatasi kebuntuan.

3. Takut Tulisan Tidak Bagus

Banyak orang ragu untuk menulis karena takut tulisan mereka tidak sempurna, takut tulisan mereka tidak bagus atau tidak layak dibaca. Namun, ingatlah bahwa menulis adalah proses belajar untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Kualitas tulisan akan meningkat seiring waktu dengan latihan yang konsisten. Tulisan pertama tidak harus sempurna; yang penting adalah Kita terus menulis dan memperbaiki diri.

Inspirasi dari Penulis Terkenal

Banyak penulis terkenal yang menjadikan menulis setiap hari sebagai bagian dari rutinitas mereka. Stephen King, misalnya, menulis setidaknya 2000 kata setiap hari tanpa henti, bahkan ketika sedang tidak terinspirasi. Ernest Hemingway juga dikenal dengan kebiasaannya menulis di pagi hari, sebelum hari menjadi terlalu sibuk selalu berusaha menulis setidaknya 500 kata setiap hari. Ia percaya bahwa kebiasaan ini membantunya mempertahankan kualitas tulisannya.

Selain itu, Haruki Murakami memiliki rutinitas ketat yang melibatkan menulis selama 4-6 jam setiap hari sebagai bagian dari rutinitas hariannya. Ia percaya bahwa konsistensi adalah kunci utama dalam menghasilkan karya berkualitas.

Peran Menulis dalam Melestarikan Bahasa dan Budaya

Menulis dalam bahasa sendiri memiliki peran penting dalam melestarikan warisan budaya. Dengan menulis, seseorang dapat merekam cerita, tradisi, dan nilai-nilai yang mungkin hilang seiring waktu. Hal ini juga membantu memperkaya dan memperkuat bahasa lokal.

Menurut Crystal (2000), bahasa adalah cerminan budaya. Oleh karena itu, menulis dalam bahasa sendiri tidak hanya bermanfaat untuk individu, tetapi juga untuk masyarakat secara keseluruhan.

Peran Teknologi dalam Mendukung Kebiasaan Menulis

Di era digital, teknologi dapat menjadi alat yang efektif untuk mendukung kebiasaan menulis. Berikut adalah beberapa cara teknologi membantu:

Aplikasi Menulis: Ada banyak aplikasi seperti Microsoft Word, Google Docs, atau Evernote yang mempermudah proses menulis dan menyimpan tulisan.
Media Sosial: Platform seperti blog atau media sosial seperti Instagram dan Twitter dapat digunakan untuk membagikan tulisan dan mendapatkan umpan balik dari pembaca.
Pengingat Digital: Gunakan aplikasi pengingat untuk menetapkan waktu khusus menulis setiap hari.

Namun, penting untuk menggunakan teknologi secara bijak agar tidak terganggu oleh hal-hal lain seperti media sosial yang justru menghabiskan waktu.

Mengukur Kemajuan dalam Menulis

Untuk melihat perkembangan dalam menulis, Kita dapat:

  1. Membandingkan Tulisan Lama dengan Tulisan Baru: Perhatikan peningkatan dalam gaya, struktur, dan kedalaman ide.
  2. Mendapatkan Umpan Balik: Mintalah orang lain untuk membaca tulisan kita dan memberikan masukan.
  3. Melihat Frekuensi dan Konsistensi: Periksa apakah kita berhasil menulis setiap hari atau sesuai target yang ditetapkan.

Kesimpulan

Menulis setiap hari adalah kebiasaan yang bermanfaat bagi siapa saja yang ingin meningkatkan keterampilan berpikir, komunikasi, dan kreativitas. Dengan strategi yang tepat dan tekad yang kuat, kebiasaan ini dapat membawa perubahan positif dalam kehidupan pribadi maupun profesional.

Meskipun ada tantangan seperti kurangnya waktu atau rasa takut gagal, manfaat yang diperoleh jauh lebih besar. Menulis tidak hanya membantu individu untuk berkembang, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian bahasa dan budaya. Jadi, mulailah menulis hari ini, sekecil apa pun, dan nikmati prosesnya.

Impian dan Harapan hanya akan jadi bualan semata
Selama diam tak melangkah
Jika tak mau lagi kecewa
Rubahlah jadi tujuan yang terarah.

Referensi:

  1. Crystal, D. (2000). Language Death. Cambridge University Press.
  2. Kaufman, J. C., & Beghetto, R. A. (2009). Beyond big and little: The four-c model of creativity. Review of General Psychology, 13(1), 1-12.
  3. Kellogg, R. T. (2008). Training writing skills: A cognitive developmental perspective. Journal of Writing Research, 1(1), 1-26.
  4. Kellogg, R. T., & Raulerson, B. A. (2007). Improving the writing skills of college students. Psychonomic Bulletin & Review, 14(2), 237-242.
  5. Kusuma, Wijaya. (2012). Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi. PT. Indeks: Jakarta.
  6. National Literacy Trust. (2012). The impact of writing on literacy development.
  7. Pennebaker, J. W. (1997). Writing about emotional experiences as a therapeutic process. Psychological Science, 8(3), 162-166.
 

Sabtu, 18 Januari 2025

MEMBANGUN DIGITAL SPACE YANG AMAN UNTUK ANAK


Tanggal: 16 Desember 2024

di Group WA 10.000 GMLD (Guru Motivator Literasi Digital) 1 PGRI

Waktu : 14.00-15.30 WIB

Moderator: Siti Rokayah

Narasumber : Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.

Situs: https://pgri.or.id

Pertemuan GMLD (Guru Motivator Literasi Digital) 1 PGRI terdiri dari 20 episode sejak16 Desember 2024 sampai dengan 4 Januari 2025 yaitu :

1. Membangun Digital Space yang Aman Untuk Anak

2. Yuk Kelola Jejak Digital yang Baik

3. Mengembangkan Minat Dan Bakat Melalui Dunia Digital

4. Yuk Cegah Cyberbullying

5. Strategi Menangkal Hoax

6. Menjadi Pejuang Kebenaran di Tengah Gempuran Hoax

7. Menyalurkan Hobi di Platform Digital

8. Cara Ampuh Memaksimalkan Potensi di Digital World

9. Inklusivitas di Dunia Digital

10. Anak Muda Berani Bikin Perubahan di Dunia Digital

11. Keterampilan Digital untuk Masa Depan Yang Cerah

12. Mengekspresikan Diri yang Baik di Media Sosial

13. Berbincang dengan Hoax, Media Sosial dan Dunia Digital

14. Literasi Digital Menciptakan Kemampuan dan Kesempatan

15. Menjelajahi Alam Digital yang Luas

16. Pengembangan Kualitas Hidup melalui Program Literasi Digital

17. Bijak dalam Ber-Media Sosial

18. Ciptakan Peluang melalui Literasi Digital

19. Era Teknologi Bebas namun Tanggung Jawab

20. Berbagi Praktik Baik Literasi Digital

 Kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) adalah program pelatihan yang diselenggarakan oleh PGRI dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia. Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam:

 Tujuan

1. Meningkatkan kesadaran dan kemampuan literasi digital.

2. Mengembangkan kompetensi guru dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses belajar-mengajar.

3. Meningkatkan kemampuan guru sebagai motivator dan fasilitator pembelajaran.

4. Mengembangkan budaya digital yang positif di sekolah.

Materi Pelatihan

1. Literasi digital dasar (pengenalan, keamanan, dan etika online).

2. Penggunaan teknologi pembelajaran (LMS, aplikasi pembelajaran).

3. Desain pembelajaran berbasis teknologi.

4. Pengelolaan kelas digital.

5. Cyberbullying dan keamanan online.

6. Media sosial dan komunikasi efektif.

Manfaat

1. Meningkatkan kemampuan guru dalam mengintegrasikan teknologi.

2. Meningkatkan kualitas pembelajaran.

3. Membangun komunitas guru yang berbagi pengetahuan.

4. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya literasi digital.

Kriteria Peserta

1. Guru PAUD, TK, SD, SMP, SMA, dan SMK.

2. Memiliki kemampuan dasar komputer dan internet.

3. Berkomitmen mengikuti pelatihan secara penuh.

4. Memiliki rekomendasi dari sekolah atau dinas pendidikan.

 Sumber Informasi

1. Situs web https://pgri.or.id dan bukan Kemendikbud.

2. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

3. Direktorat Pembinaan Guru.

Program GMLD bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan guru untuk menghadapi era digital.

       Digital Space istilah kerenya mungkin dikenal dengan Ruang Digital. Berbicara ruang digital kita akan berhadapan dengan layar segiempat bersudut yang mengharuskan secara online terhubung dengan device yang saling terkoneksi satu dengan yang lainnya dalam sistem internet. Kalau yang dikatakan ruang mungkin tempat berdiam diri yang pastinya kita bisa bernapas ataupun tidak seperti ruang angkasa.

    Dari judulnyanya saja sudah berat untuk menjabarkan makna yang akan kita dapatkan di hari pertama pelatihan. Setelah ditelisik satu persatu tidak lepas kita berhadapan dengan kata kunci “digital”. Mmm… mungkin digital yang akan dibahas selama 20 pertemuan berupa teknologi yang akan kita gunakan dalam mengolah dan menyimpan informasi atau suatu komunkasi dalam pemakaiannya membutuhkan perangkat elektronik yang sesuai zamannya dengan peraturan yang mengikatnya.

     Berhubung penulis berada pada zona rawan dalam tanda kutip mati gaya dan mati daya ketika berhubungan dalam penyambung arus menuju digital yang disarankan. Hal ini karena tegangan listrik tak akan mendukung untuk tetap stand bye ada dalam 24 jam sehari Ada kalanya akan ada listrik padam di tepat penulis. Diperparah dengan kondisi alam yang tak mendukung kegiatan secara online. Dunia gelap dengan padam listrik sudah menjadi makanan sehari hari sebelum membahas digital tentunya. Efek dari listrik ini akan menghilangan segala sinyal internet apapun kartunya atau lost signal.

Membangun ruang digital yang aman untuk anak dapat dilakukan dengan bersama sama memahami perkembangan digital, psikologi dan perkembangan dunia digital, memberi tahu resiko kejahatan cyber, dan mencari cara dalam berinternet yang sehat.

1)     Perkembangan digital akan terus berkembang sesuai kecepatan data yang terkumpul

2)   Kita harus memahami psikologi anak dan perkembangannya dalam dunia digital sesuai tingkat pemahamnnya melalui taxonomi bloom bila berhubungan dengan kognitifnya.

3)    Tindakan preventif agar anak tidak berdampak pada resiko kejahaan cyber.

4) Berusaha berinternet secara sehat karena tanpa sadar kita memperi peluang mereka dalam mengakses/membuka yang belum saatnya mengetahui.

     Ada Istilah CABE (Cakap, Aman, Budaya dan Etika digital) untuk menanggulangi keamanan digital. Hal ini akan menjadi resiko yang akan didapat anak berupa kecanduan games, cyberbully, pelanggaran privasi, kejahatan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu bila tak ditanggulangi.

    Sebagai orang tua yang seharusnya dilakukan dalam membentengi anak agar tak terpapar dari pengaruh negatif konten yang tak sehat yaitu: Smart tidak menyebarkan data pribadi, Alert tidak mengklik sembarangan, Strong kata sandi yang tidak mudah diretas, Kind kelola aktivitas online agar rekam jejak digital aman dari keajhatan, and Brave cegah segala bentuk kejahatan diruang digital.

     Selain itu jadikan diri kita contoh teladan bagi mereka bahwa contoh terbaik itu orang tua mereka sehingga terbangun ruang digital yang aman.