Senin, 24 Juni 2024

Harga Ikan dengan Harga Manusia


 Ketika salah seorang santri sedang membersihkan aquarium Kyainya, ia memandang ikan arwana merah dengan takjub. Tanpa dia sadari, Kyainya sudah berada di belakangnya..

" Tahukah kamu berapa harganya ikan yang kamu lihat itu?". Tanya sang Kyai.. "Saya tidak tahu". Jawab si Santri..

"Cobalah kamu tawarkan kepada tetangga-tetanggamu!!". Perintah sang Kyai. Ia memotret ikan itu, dan menawarkan kepada tetangga-tetangganya.

Kemudian ia kembali menghadap kembali menemui Kyainya. "Ditawar berapa rata-rata ikannya nak?" tanya Kyai.  "80.000 Rupiah Kyai". Jawaban dari Santri dengan sangat jelas.

 "Coba kamu tawarkan lagi ke salah satu toko ikan hias!!". Kyai memerintahkan lagi.. "Baiklah Kyai", Jawab si santri. Kemudian ia beranjak menuju ke salah satu toko ikan hias..

"Berapa harga ikan yang dia tawarkan itu?". Tanya kyainya lagi.. "900.000 Rupiah Kyai". Jawab santri dengan perasaan gembira, dia menerka Kyai akan melepaskan ikannya dengan harga itu..

"Sekarang coba tawarkan lagi kepada Si Fulan, katakan padanya bahwa ikannya sudah pernah ikut lomba". Kyai memerintahkan lagi. 

"Ya Kyai". Santri itu menjawab, setelahnya ia pergi menemui si Fulan yang dikatakan gurunya. Setelah selesai, ia kembali menghadap Kyainya. "Berapa yang dia tawarkan untuk ikannya?". Tanya Kyainya.

"90 juta Rupiah Kyai". Jawab santrinya lagi. Da sangat terkejut setelah menyaksikan sendiri dimana harga satu ikan yang bisa tidak sama dengan yang lainnya.

Lalu kyainya berkata "Nak, setelah kamu melihat harga ikan itu, aku sedang mengajarkan kepadamu bahwa kamu hanya akan mendapatkan harga yang tepat jika kamu berada di lingkungan yang tepat.".

Kita semua adalah orang yang biasa, dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita sama sekali.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ رَائِعُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَفْهَمُنَا

 

Kita adalah orang yang sangat menarik di mata orang yang memahami akan diri kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مُمَيِّزُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يُحِبُّنَا

 

Kita istimewa di mata orang yang sangat menyayangi diri kita

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مَغْرُوْرُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْسُدُنَا

 

Dan kita semua adalah orang-orang yang menjengkelkan di mata orang-orang yang dengki pada kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ سَيِّئُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْقِدُ عَلَيْنَا

 

Dan kita semua adalah orang jahat di mata orang-orang yang menyimpan dendam terhadap kita.

لِكُلِّ شَخْصٍ نَظْرَتُهُ، فَلاَ تَتْعَبْ نَفْسَكَ لِتُحْسِنَ عِنْدَ الآخَرِيْنَ

 

Pada akhirnya, setiap orang memiliki cara pandangannya masing masing melihat sesuatu, maka tidak perlu berusaha agar terlihat baik agar diterima orang lain. Tapi berusahalah terus dalam melakukan kebaikan dan menjalankan kegiatan dengan keikhlasan.

 

Kita berada di pihak yang mana?


 Salah seorang siswa sekolah dasar sangat mengagumi gambar lukisan yang dia buat. Dia menganggapnya sebagai karya terbaiknya. Dengan pikiran terbuka, ia menempatkan lukisannya di etalase umum sekolahnya. Dia ingin gambarnya diapresiasi oleh siswa lain. Di bawah gambar lukisan yang dia buat dia menulis: ``Jika ada yang menemukan kesalahan pada gambar ini, harap tandai dengan tinta merah."

Sore harinya, dia menemukan bahwa gambar lukisan terbaiknya penuh dengan coretan merah. Banyak sekali coretan sehingga gambar lukisan aslinya tidak dapat dikenali lagi. Dia merasa gagal karena belum berusaha cukup keras menampilkan karya terbaiknya, jadi dia mengeluh kepada gurunya tentang hal itu.

Seorang guru yang bijaksana menasihati: "Tolong taruh kembali gambar lukisan terbaikmu ke etalase sekolah besok. Tuliskan kalimat berikut di bawah gambarmu: ``Jika kamu menemukan kesalahan pada gambar lukisan ini, Mohon perbaiki dengan kuas yang telah disediakan untuk memperbaikinya".

Dan dia mengikuti saran gurunya. Dia memperhatikan dari kejauhan, tidak seorangpun mendekati lukisan itu. Hingga sore harinya, tidak ada satupun teman sekolahnya yang mencoba memperbaiki lukisan tersebut. Dia kembali menemui gurunya. Guru menjelaskan: “Banyak orang yang bisa mencari dan menemukan kesalahan sekecil apapun dan kekurangannya. Tapi, hanya sedikit orang yang bisa memperbaiki.

Begitulah keadaan kehidupan dunia kita saat ini. Banyak sekali orang yang mampu untuk mengkritik atau mencela. Namun, hanya sedikit yang menemukan solusinya.