Minggu, 17 April 2022

Guru Literat Aktor Pembangun Negeri

           Berdasarkan indikator literasi Progress in International Reading Literacy Studies (PIRLS) Indonesia berada pada peringkat ke-42 dari 45 negara pada tahun 2011.  Memberi gambaran kepada pemerhati pendidikan tentang daya literasi bangsa di mata dunia. Sebegitukah urutan literasi Indonesia? Kemana saja jiwa merdeka berliterasi membangun negeri memperjuangkan kemerdekaan bangsa sebagaimana memperebutkan kemerdekaan dari penjajahan?.

Literasi bukanlah kata asing bagi bangsa yang berakar pada budaya negeri.  Dikutip dari KBBI literasi merupakan suatu kemampuan dari individu untuk mengolah sebuah informasi dan pengetahuan atau wawasan serta kecakapan hidup. Hadir dalam ranah kehidupan di setiap sudut negeri. Memberi ruh kepada insan yang haus akan ilmu kehidupan. Kepada guru sebagai agen sosial yang diminta oleh masyarakat untuk memberikan bantuan kepada warga yang akan dan sedang berada di bangku sekolah meningkatkan literasi.  Terkadang ada kata yang teruntai ‘berilah aku guru yang HEBAT (Hadapi tantangan, Energi maksimal, Bangun motivasi, Ambil kesempatan dan Teguh berprinsip) literasi, yang dengan kurikulum yang jelek sekalipun akan dapat dihasilkan lulusan yang hebat literasi’.

Literat dapat ditandai bila seseorang sudah kompeten dan cakap dalam beradaptasi, berfikir positif dan membicarakan solusi. Guru literat  mampu mengurai data yang beredar di kancah dunia menjadi rumus meningkatkan literasi. Menciptakan karya yang tidak lekang oleh waktu. Buku cetak maupun digital. Konten inspiratif dan karya digital lainnya. Perhitungan yang dapat ditingkatkan yaitu indikator Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca). Pada tahun 2019 Litbang Kemendikbud menyatakan tingkat aktivitas literasi berjumlah 37,32 % yang berarti pada posisi rendah. Komponen kegiatannya terbentuk atas empat indeks dimensi; kecakapan 75,92%, akses 23, 09%, alternatif 40, 49 % dan budaya 28,50 %. Sehingga guru literat dapat memperdayakan keadaan atas dasar kesadaran belajar, kemampuan memahami realita, dan mampu menstranformasikan pikiran ke dalam tindakan nyata di Era society 5.0. dimana kita ketahui bersama bahwa kemampuan membaca merupakan fondasi dari pembangunan kualitas bangsa.

Sebagai seorang guru yang memiliki kompetensi pada bidang  yang diampunya di satuan pendidikan, perlu menguasai 6 literasi dasar; baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial serta budaya dan kewarganegaraan. Salah satunya  menguasai literasi digital. Pada tahun 2020, Indek Keberadaan Digital (Digital Civility Index) Indonesia adalah salah satu yang terburuk di dunia, urutan 29 dari 32 Negara, dan yang paling buruk di asia Tenggara berdasarkan hasil Microsoft Indonesia Mews Center, 11 Feb 2020. Dari data tersebut memberikan gambaran bahwa dimanakah posisi guru dalam data tersebut, bila gurunya gagap dalam mengakses, memanfaatkan, mendistribusikan dalam pengunaan perangkat teknologi, informasi dan komunikasi.  

Sumber yang berasal dari BPS (2022) dan Kominfo  (2020) dapat di analisa bahwa akses masyarakat ke teknologi informasi semakin meningkat, namun tidak diikuti oleh kemampuan memilah informasi. Dibuktikan dengan lima tahun terakhir, akses masyarakat terhadap Teknologi Informassi dan Komunikasi  (TIK) meningkat sangat pesat. Proporsi masyarakat usia 15-19 dengan keterampilan TIK meningkat dari 27,04% (2015) menjadi 64,26 % (2020). Meski demikian, masih terdapat isu kesenjangan antarwilayah di mana pada tahun 2020 terdapat wilayah dengan proporsi masyarakat yang memiliki keterampilan TIK sebesar 30,93%. Inovasi Teknologi Digital diperlukan sebagai upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengakses, mengelola, serta memanfaatkan informasi dan pengetahuan untuk peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan.

 Masyarakat berpengetahuan atau masyarakat literat menjadi fondasi sosial yang sangat kokoh untuk mendorong proses transformasi masyarakat menuju kehidupan yang sejahtera serta mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki watak kosmopolitanisme dan berkarakter dalam budaya literasi. Seorang guru yang merupakan bagian dari tokoh masyarakat menjadi tolak ukur dalam meningkatkan literasi bangsa. Hal ini sekaligus menyampaikan visi Presiden periode 2020-2024, yaitu: “Terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong melalui penguatan budaya literasi”.

Hal ini bisa kita lihat dari berbagai negara seperti Jepang yang menempati peringkat paling tinggi dalam hal literasi dan numerasi, namun lebih dari 20% penduduk dewasa dengan kemahiran paling tinggi justru tidak ada di pasar kerja. Norwegia hanya 9% penduduk dewasa yang mahir literasi dan numerasi yang tidak ada di pasar kerja. Begitu juga dengan Italia lebih serius lagi, kurang dari 5% angkatan kerja yang mahir literasi dan numerassi, 1 dari 4 orang tidak tercatat berada di pasar kerja dan 5% yang lainnya menganggur berdasarkan sumber OECD, Skilled for life? Key Findings From The Survey of Adult Skills (2013).

Melirik  dari sumber https://knowledge4all.com/country-profile?Countryld=1054

di atas. Indonesia memiliki kinerja yang moderat di dalam kapasitas ilmu pengetahuan. Meraih peringkat ke-87 dari 154 negara dalam Global Knowledge Index 2021. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu melakukan upaya peningkatan kapasitas di bidang pengetahuan melalui berbagai strategi program dan kegiatan yang tepat, termasuk pengembangan akses teknologi informassi dan penguatan literasi baru.

Menyingkapi data tersebat berbagai inovasi yang lahir di revolusi industry 4.0 mempercepat perubahan pembelajaran dari kelas konvensional menjadi hybrid learning/ blended learning atau kelas campuran. Percepatan terjadi dikala kondisi Covid-19 mengguncang dunia. Sanggup tak sanggup guru dipaksa merubah pola nyaman untuk mempelajari inovasi pembelajaran. LIterasi digital menjadi alternatif tersendiri dalam menguasai inovasi pembelajaran. Berkah yang tidak dapat diukur ketika guru mengambil peluang untuk meningkatkan kompetensi dengan berbagai pelatihan dan sejenisnya pada masa itu. Mereka menerima berbagai input pemahaman kedalam pikirannya. Menyerap informasi untuk memilah dan memilih keputusan terbaik yang mudah digunakan serta berorientasi pada siswa.

Guru yang melek teknologi sanggup menerapkan pola keterampilan abad 21 Creativity, Critical Thinking, Communication, dan Collaboration  (4C) secara maksimal. Terus berinovasi mencipta dan berkarya. Banyak terobosan baru muncul selama kondisi covid melanda. Merubah semua paradigma berpikir pemangku kepentingan pendidikan. Muncul guru literat yang terus berprestasi menunjukan kemampuannya. Keluar dari sekat-sekat yang membelenggu menjadi hamparan luas tanpa batas meningkatkan karirnya (penulis, blogger, youtuber, enterpreneur dll). Memunculkan nama-nama baru kepermukaan menatap perubahan pendidikan masa depan.

Terbuka lebarnya pemanfaatan OER Open Educational Resources dalam kegiatan pembelajaran  menemukan informasi memberdekakan guru menerima input pengetahuan dari segala arah. Guru yang sejatinya manusia yang tidak pernah berhenti belajar terus bermetamorfosa mencerminkan hakikat pembelajar dari ajaran bapak pendidikan Ki hajar Dewantara. Ketika teknologi berperan penting dalam perekonomian dan aneka jenis pekerjaan yang memerlukan kemampuan analisis dan keterampilan komunikasi, ada korelassi positif antara kemampuan literasi (reading skills) dan produktivitas tinggi.

Bagi seorang guru dalam membangun negeri tidak harus selalu dengan upaya yang besar, tetapi  cukup dengan  meningkatkan kompetensi yang berasal dari dalam diri individu untuk terus berkembang. Jejak perjuangan sekarang akan tampak bila sudah melangkah lebih jauh. Berdiri sendiri tanpa melangkah karena takut bergerak tidak akan membuat bumi berhenti berputar. Teruslah melangkah sedikit demi sedikit. Awal besar dimulai dari langkah permulaan. Sekarang belum terlambat untuk maju sebab bangsa yang maju adalah bangsa pembaca.

Minggu, 15 November 2020

Berkenalan dengan Group Menulis!

Menulis menyelesaikan janji yang terlepas dari busurnya kata--kata berangkai penuh makna, tapi belum lunas juga. Kepada siapa yang kena biarlah menyasar kemana saja yang terpenting tepat kesasarannya. Apanya yang kena? Hanya perasa yang tahu kalau tidak bisa  sentimental. Merangkai kata-kata butuh yang namanya kemampuan. Kemampuan yang mengalir seperti air yang menyalir dari mata air bukan dari air mata. Menulislah seperti air mengalir dari mana saja.

Awal mula mengenal group menulis karena iseng-iseng alias coba-coba, tak ada keinginan, tak ada hasrat. Setelah masuk salah satu group yang ada Om Jay dan Bu Kanjeng, mode on silent reader diaktifkan hanya menjadi pembaca info aktif, no action satu hurufpun. Itupun group pertama masuk tanpa titik koma sampai pada masa tertentu masih mode on nyimak. Setelah banyaknya info tentang group menulis dengan kesekian kalinya entah kenapa masuklah ke group menulis sekarang, group menulis gelombang 15. Ada apa dengan angka 15? Entahlah, dari sekian angka, di group 15 dimulai namanya kebangkitan baru sedikit keinginan menulis. Sedikit sudah mending daripada tidak ada sama sekali. Atau mungkin 15 adalah angka misterius di daerah rahasia di Amerika ya?

Setelah masuk group 15 perangai mode on silent reader masih aktif dipakai, sampai Om Jay sebagai admin menyuruh keluar dari group bila tidak mau menulis resume di blog pribadi. Ketawa sendiri ketika menulis tulisan berangkai huruf-huruf dibuatnya, mengenang diancam dulu baru bertindak. Menulis juga akhirnya dengan permateri pertama bu Kanjeng, menulis cuma tiga kalimat. Mendinganlah dari pada judulnya doang isinya layar putih segi empat.  Hari demi hari pun berlalu semenjak 03 Agustus 2020, begitupun dengan narasumber yang memberikan ilmunya silih berganti satu demi satu mengamalkan kemampuan menulisnya dari berbagai profesi. Berkenalan dilayar segi empat layar monitor dengan berbagai keahlian dengan bidangnya masing-masing, seru, bagaimana menerangkannya kalau cuma kita yang rasa?

Setelah dipikir pikir sampai sejauh ini buat apa menulis? untuk mendapatkan sertifikat ya? Buat buku untuk menambah angka kredit kah? Marah juga bacanya sudah sejauh ini menulis juga belum paham-paham. Menulislah tanpa alasan mungkin itu jawaban sederhana karena kalau sudah punya alasan ekornya panjang yang berakhir dengan tanda titik.

Dibalik group menulis ini sebenarnya tipe dasar T.A penelitian secara eksperiment S1 memang menulis, kesampaiannya ditahun 2020, lama juga ya sejak kelulusan tahun 2013. Buat apa juga mengenang masa lalu dengan deretan angka tahunannya. Sudahilah masa lampau dengan menghias masa depan dengan cerita semenarik pelangi. Buatlah kisah hidup masa depan dengan coretan huruf berangkai kata-kata yang menjadi jejak penanda pernah ada untuk menyemarakan hidup di layar monitor ini.

Menulispun seperti ayam gadis bertelor. Kadang ada kandang ngak. Ya maklum saja, sekarang posisi bukan di daerah kota dengan akses telekomunikasi yang stand by 24 jam nonstop. Apalagi listrik yang bisa dihitung jamnya kapan hidup dalam sehari. Punya medsospun mati suri, lah iya lah listrik sama sinyalnya tak ada ketika mau masuk, ada sih ada, sekedar kalau ada yang menanya 'apa punya medsos?' tapi contentnya sudah hari-hari berlalupun masih diwaktu masa lalu tidak ada yang up to date. Untung saja bernafasnya pakai oksigen bukan pakai tegangan listrik sama sinyal otomatis. Itulah kehidupan tulisan ini. Malangnya ketika diklat sama seminar melalui webinar alamat apa coba? Kalau Om Jay bilang ‘mati gaya’dan saya tambahkan ‘mati daya’, untung saja hidup bukan dikendalikan pakai remot kontrol.  

Beruntunglah orang yang berada di daerah yang listrik sama sinyal telekomunikasinya lancar, dan penggunaan kartu sim card bisa apa saja, manfaatkanlah dengan semaksimal mungkin. Ada dipelosok Indonesia yang jauh lebih parah kehidupannya. Yang penting dari semua itu adalah rasa syukur akan nikmat hidup sehinga dapat berkenalan di layar segi empat melalui rangkaian kata-kata. Syukur juga group menulisnya melalui asinkron WAG coba sinkron. Sudah terbayang kondisinya bila dimanjakan oleh telekomunikasi yang sudah seperti oksigen bagi yang hidup dengannya.