Menulis menyelesaikan janji yang terlepas dari busurnya kata--kata berangkai penuh makna, tapi belum lunas juga. Kepada siapa yang kena biarlah menyasar kemana saja yang terpenting tepat kesasarannya. Apanya yang kena? Hanya perasa yang tahu kalau tidak bisa sentimental. Merangkai kata-kata butuh yang namanya kemampuan. Kemampuan yang mengalir seperti air yang menyalir dari mata air bukan dari air mata. Menulislah seperti air mengalir dari mana saja.
Awal mula mengenal
group menulis karena iseng-iseng alias coba-coba, tak ada keinginan, tak ada
hasrat. Setelah masuk salah satu group
yang ada Om Jay dan Bu Kanjeng, mode on silent reader diaktifkan hanya menjadi
pembaca info aktif, no action satu hurufpun. Itupun group pertama masuk tanpa
titik koma sampai pada masa tertentu masih mode on nyimak. Setelah banyaknya info
tentang group menulis dengan kesekian kalinya entah kenapa masuklah ke group
menulis sekarang, group menulis gelombang 15. Ada apa dengan angka 15? Entahlah, dari sekian angka, di group 15 dimulai namanya kebangkitan baru sedikit
keinginan menulis. Sedikit sudah mending daripada tidak ada sama sekali. Atau
mungkin 15 adalah angka misterius di daerah rahasia di Amerika ya?
Setelah masuk group 15
perangai mode on silent reader masih aktif dipakai, sampai Om Jay sebagai admin
menyuruh keluar dari group bila tidak mau menulis resume di blog pribadi. Ketawa
sendiri ketika menulis tulisan berangkai huruf-huruf dibuatnya, mengenang diancam dulu baru bertindak.
Menulis juga akhirnya dengan permateri pertama bu Kanjeng, menulis cuma tiga
kalimat. Mendinganlah dari pada judulnya doang isinya layar putih segi empat. Hari demi hari pun berlalu semenjak 03
Agustus 2020, begitupun dengan narasumber yang memberikan ilmunya silih
berganti satu demi satu mengamalkan kemampuan menulisnya dari berbagai profesi.
Berkenalan dilayar segi empat layar monitor dengan berbagai keahlian dengan
bidangnya masing-masing, seru, bagaimana menerangkannya kalau cuma kita yang
rasa?
Setelah dipikir pikir
sampai sejauh ini buat apa menulis? untuk mendapatkan sertifikat ya? Buat buku
untuk menambah angka kredit kah? Marah juga bacanya sudah sejauh ini menulis
juga belum paham-paham. Menulislah tanpa alasan mungkin itu jawaban sederhana
karena kalau sudah punya alasan ekornya panjang yang berakhir dengan tanda
titik.
Dibalik group menulis
ini sebenarnya tipe dasar T.A penelitian secara eksperiment S1 memang menulis,
kesampaiannya ditahun 2020, lama juga ya sejak kelulusan tahun 2013. Buat apa
juga mengenang masa lalu dengan deretan angka tahunannya. Sudahilah masa lampau
dengan menghias masa depan dengan cerita semenarik pelangi. Buatlah kisah hidup
masa depan dengan coretan huruf berangkai kata-kata yang menjadi jejak penanda
pernah ada untuk menyemarakan hidup di layar monitor ini.
Menulispun seperti ayam
gadis bertelor. Kadang ada kandang ngak. Ya maklum saja, sekarang posisi bukan
di daerah kota dengan akses telekomunikasi yang stand by 24 jam nonstop. Apalagi
listrik yang bisa dihitung jamnya kapan hidup dalam sehari. Punya medsospun
mati suri, lah iya lah listrik sama sinyalnya tak ada ketika mau masuk, ada sih ada, sekedar kalau ada yang menanya 'apa punya medsos?' tapi contentnya sudah hari-hari berlalupun masih diwaktu masa lalu tidak ada yang up to date. Untung saja
bernafasnya pakai oksigen bukan pakai tegangan listrik sama sinyal otomatis.
Itulah kehidupan tulisan ini. Malangnya ketika diklat sama seminar melalui
webinar alamat apa coba? Kalau Om Jay bilang ‘mati gaya’dan saya tambahkan ‘mati
daya’, untung saja hidup bukan dikendalikan pakai remot kontrol.
Beruntunglah orang yang
berada di daerah yang listrik sama sinyal telekomunikasinya lancar, dan penggunaan
kartu sim card bisa apa saja, manfaatkanlah dengan semaksimal mungkin. Ada dipelosok
Indonesia yang jauh lebih parah kehidupannya. Yang penting dari semua itu adalah
rasa syukur akan nikmat hidup sehinga dapat berkenalan di layar segi empat
melalui rangkaian kata-kata. Syukur juga group menulisnya melalui asinkron WAG
coba sinkron. Sudah terbayang kondisinya bila dimanjakan oleh telekomunikasi
yang sudah seperti oksigen bagi yang hidup dengannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar