Rabu, 10 September 2025

Proofreading sebelum Menerbitkan Tulisan


Moderator : Sigid Purwo Nugroho, S.H.
Narasumber : Susanto, S.Pd.

Pada kesempatan kali ini, kegiatan rutin KBMN PGRI kembali menghadirkan ruang belajar bersama yang inspiratif. Acara berlangsung pada malam hari mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB, dan sebagaimana biasanya, kegiatan dibagi menjadi empat sesi utama: pembukaan, paparan narasumber, tanya jawab, serta penutup.

Acara dipandu oleh Sigid Purwo Nugroho, alumni KBMN PGRI Gelombang 23 sekaligus anggota Tim Solid Om Jay (TSO). Beliau bertugas sebagai moderator yang memandu jalannya kegiatan, menyapa peserta, serta memastikan setiap sesi berjalan lancar. Sebelum memasuki materi inti, doa bersama dipanjatkan agar kegiatan ini mendatangkan keberkahan, manfaat, serta dicatat sebagai amal kebaikan.

Narasumber dan Materi

Pada malam ini, peserta ditemani oleh narasumber inspiratif, yakni Bapak Susanto, S.Pd., yang akrab disapa “PakD Sus”. Beliau adalah seorang penulis sekaligus pembicara yang kerap berbagi pengalaman serta pengetahuan seputar dunia kepenulisan.

Tema yang diangkat malam ini adalah “Proofreading: Menjadi Editor Profesional untuk Tulisan Kita Sendiri”. Seperti yang dijelaskan moderator, materi ini tidak bertujuan menjadikan peserta editor profesional layaknya mereka yang bekerja di penerbit besar. Namun, peserta didorong untuk mampu menjadi editor bagi karya sendiri sebelum diserahkan kepada pembaca.

Ide dan Proses Menulis

Dalam pemaparan awal, PakD Sus mengingatkan bahwa setiap tulisan selalu berawal dari ide. Ide bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, baik puisi, cerpen, novel, esai, artikel motivasi, maupun karya nonfiksi lainnya. Ketika penulis menuangkan ide menjadi teks, ia telah memulai proses kreatif yang menuntut teknik, keunikan gaya, dan ketekunan.

Sebuah tulisan dinyatakan selesai jika gagasan yang ingin disampaikan sudah terakomodasi secara utuh. Apabila tulisan masih menggantung, berhenti di tengah jalan, atau bahkan hanya sekadar angan-angan, maka itu belum bisa disebut selesai.

Namun, menyelesaikan tulisan bukanlah tahap akhir. Ada satu langkah penting yang tidak boleh dilupakan: proofreading.

Apa itu Proofreading?

Proofreading adalah kegiatan membaca ulang sebuah teks secara cermat dengan tujuan menemukan dan memperbaiki kesalahan sebelum tulisan dipublikasikan. Inilah tahap paling akhir dalam proses menulis.

Seringkali penulis melewatkan detail kecil, seperti ejaan, tanda baca, atau tata bahasa, karena terlalu fokus pada isi. Ada pula penulis yang sengaja melanggar kaidah dengan alasan “ah, hanya salah huruf saja”. Padahal, detail mikro seperti itu justru penting, terlebih dalam penulisan ilmiah maupun publikasi online yang menuntut standar kebahasaan tinggi.

Kesalahan yang dikoreksi dalam proofreading meliputi:

  1. Tata bahasa dan ejaan.

  2. Keterbacaan dan kejelasan kalimat.

  3. Kesesuaian dengan topik dan tema tulisan.

Proofreading pada dasarnya adalah bentuk tanggung jawab penulis terhadap karyanya sendiri, agar pembaca mendapatkan pengalaman membaca yang baik tanpa hambatan.

Diskusi dan Tanya Jawab

Sesi diskusi berlangsung hangat dengan beragam pertanyaan dari peserta.

1. Sukarno dari Makassar
Beliau mengungkapkan kebingungannya: bagaimana bisa melakukan proofreading jika belum yakin benar atau salahnya tulisan? Moderator menanggapi dengan saran praktis: tinggalkan tulisan sejenak, lalu baca kembali di lain waktu. Jarak waktu akan membantu penulis lebih jernih melihat kesalahan. Alternatif lain, serahkan tulisan kepada orang lain untuk dikoreksi, tentu dengan konsekuensi bahwa gaya bahasa bisa sedikit berubah sesuai pembaca kedua.

2. Yuyun dari Sumedang
Dengan cara puitis, beliau bertanya mengenai tiga hal:

  • Bagaimana jika kalimat ambigu tetapi puitis?

  • Apakah ada standar mutlak untuk menilai teks sempurna?

  • Apakah proofreader berhak mengoreksi isi teks?

Jawaban moderator menekankan bahwa tujuan tulisan harus diperhatikan. Jika puisi, maka kaidah bisa lebih longgar. Untuk standar, penulis bisa merujuk pada EYD V, KBBI daring, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, serta pedoman pembentukan istilah. Adapun proofreader memang berwenang mengoreksi, tetapi untuk hal substansi sebaiknya dikonfirmasi kepada penulis.

3. Umi dari Kebumen
Beliau penasaran dengan Ruang Jurnal, platform yang disampaikan narasumber. Dijelaskan bahwa Ruang Jurnal merupakan perusahaan penyedia layanan penyusunan hingga penerbitan jurnal, termasuk konversi disertasi dan penelitian. Layanan ini berorientasi pada profit, namun tetap bisa menjadi solusi bagi penulis akademik.

4. NDY dari Bogor
Pertanyaan berikutnya menyinggung penggunaan alat bantu proofreading digital seperti Grammarly atau AI. Apakah lumrah mengandalkan teknologi? Moderator menjawab bahwa teknologi memang hanya alat bantu. AI bisa mempercepat kerja, tetapi tetap harus divalidasi oleh ilmu dan intuisi penulis. Tanpa itu, hasil bisa membingungkan. Penggunaan teknologi harus seimbang: membantu, bukan menggantikan sepenuhnya.

5. Fazar Azhari dari Garut
Pertanyaan terakhir menyentuh topik menulis jurnal agar mudah tembus SINTA. Narasumber menekankan bahwa hal ini membutuhkan pemahaman sistematika penulisan akademik dan konsistensi. Fazar juga diarahkan untuk mengikuti pelatihan menulis jurnal, baik gratis maupun berbayar, serta aktif mengirimkan tulisan ke penerbit indie.

Catatan Penting dari Narasumber

Dari seluruh rangkaian kegiatan, ada beberapa poin utama yang menjadi catatan penting:

  • Proofreading adalah tahap akhir menulis yang tidak boleh dilewatkan.

  • Kesalahan kecil sekalipun bisa mengurangi kualitas tulisan.

  • Penulis perlu membiasakan diri membaca ulang dan menyempurnakan karyanya.

  • Alat bantu teknologi dapat digunakan, tetapi intuisi dan pemahaman bahasa tetap nomor satu.

  • Dalam karya sastra, proofreader perlu berhati-hati agar tidak mengurangi keindahan artistik teks.

Kesimpulan

Kegiatan literasi malam ini menunjukkan betapa pentingnya langkah kecil bernama proofreading. Meskipun sering dianggap sepele, praktik ini justru menjadi pembeda antara tulisan biasa dan tulisan berkualitas.

Penulis bukan hanya dituntut kreatif dalam melahirkan ide, tetapi juga bertanggung jawab menjaga mutu bahasa. Proofreading adalah cermin kedisiplinan, kesungguhan, sekaligus bentuk penghormatan kepada pembaca.

Dari diskusi ini, peserta memperoleh wawasan praktis: meninggalkan tulisan sejenak untuk dibaca ulang, menggunakan sumber resmi bahasa Indonesia, memanfaatkan teknologi secara bijak, hingga memahami konteks sastra dan akademik. Semua itu menjadi bekal agar karya yang lahir bukan sekadar selesai, melainkan layak untuk dipublikasikan.

Acara ditutup dengan rasa syukur atas ilmu yang dibagikan, disertai harapan agar semangat menulis peserta semakin tumbuh. Kegiatan ini bukan hanya forum belajar, tetapi juga ruang kebersamaan, saling mendukung, dan memperkuat jejaring literasi Nusantara.


 

Minggu, 07 September 2025

Menulis Puisi

 



Moderator: Mutmainah, M.Pd.
Narasumber: Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd.

Menulis puisi sering diibaratkan seperti menari dengan kata-kata. Ia bukan sekadar aktivitas menuangkan kalimat ke atas kertas, melainkan proses mengguratkan perasaan dengan bahasa yang indah, menyulam imajinasi dengan harmoni, serta menyuarakan jiwa melalui diksi yang lembut. Tidak heran jika banyak yang menyebut puisi sebagai bentuk ekspresi paling murni dan jujur. Di dalam bait-bait puisi, seseorang dapat menumpahkan perasaan terdalam, mencatat pengalaman hidup, bahkan menyingkap sisi otentik yang barangkali tak bisa diungkapkan melalui bahasa sehari-hari.

Dalam forum Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) ke-33, topik “Seni Menulis Puisi” diangkat sebagai materi utama. Pertemuan ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat, mempertemukan para insan kreatif yang memiliki tekad untuk terus menulis. Sebagai moderator, Emut Lebak mengawali dengan kalimat penuh energi, mengajak semua peserta untuk membuka hati, meluaskan imajinasi, serta berani mengungkapkan keindahan yang ada di dalam diri.

Malam itu terasa istimewa karena materi disampaikan oleh seorang tokoh yang sudah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan sekaligus literasi, yaitu Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd. atau akrab disapa Ibu Hasanah. Beliau lahir di Sukabumi pada 10 Agustus 1967, seorang ibu dari tiga anak yang mendedikasikan hidupnya bagi kemajuan pendidikan dan literasi bangsa. Saat ini, Ibu Hasanah bertugas sebagai Pengawas Madrasah Aliyah di Kantor Kementerian Agama Sukabumi, sekaligus mengajar sebagai dosen di STAI Kharisma Cicurug.

Perjalanan kariernya sarat dengan prestasi. Pada tahun 2021, beliau berhasil meraih predikat Pengawas Berprestasi Tingkat Jawa Barat. Di tahun yang sama, beliau juga menerima penghargaan bergengsi sebagai salah satu penerima Anugerah Guru dan GTK Kemenag Berprestasi Tingkat Nasional, khususnya dalam kategori Pengawas Madrasah Berprestasi. Prestasi ini tentu saja tidak diraih dengan instan. Selain menjalankan tugas pengawasan, beliau senantiasa aktif memberikan motivasi dan dorongan kepada para guru agar terus meningkatkan kualitas diri serta semangat literasi.

Semangat literasi inilah yang menjadi ciri khas perjalanan beliau. Sejak 2021, Ibu Hasanah telah produktif menulis, baik puisi, pantun, cerita, maupun artikel nonfiksi. Karya-karyanya terkumpul dalam lebih dari 70 buku antologi. Tidak heran jika beliau kini dianggap sebagai sosok inspiratif dalam dunia literasi, khususnya di kalangan madrasah.

Dalam sambutannya, Ibu Hasanah menyampaikan rasa terima kasih dan kebahagiaan karena kembali dapat membersamai para penulis hebat KBMN. Beliau menegaskan bahwa dirinya bukanlah seorang pujangga atau sastrawan, melainkan hanya seseorang yang mencintai puisi. Bahkan, kecintaannya terhadap puisi lahir berkat motivasi dari KBMN, yang kemudian mendorongnya untuk terus menulis hingga melahirkan buku.

Apa Itu Seni Menulis Puisi?

Salah satu bagian menarik dalam forum ini adalah ketika pertanyaan dilontarkan: “Apa itu seni menulis puisi?” Jika ditanyakan pada mesin pencari atau kecerdasan buatan seperti ChatGPT, jawabannya akan menjelaskan bahwa seni menulis puisi adalah proses kreatif menggunakan bahasa untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, dan pengalaman dalam bentuk yang indah serta ekspresif.

Puisi dibangun melalui pemilihan kata-kata yang cermat, struktur yang rapi, penggunaan metafora yang kuat, serta irama yang mampu membangkitkan emosi. Ada puisi yang terikat dengan rima dan ritme tertentu, tetapi ada juga puisi modern yang lebih bebas dalam bentuknya. Meski begitu, esensi utamanya tetap sama: menyampaikan makna mendalam melalui bahasa yang padat dan penuh daya pukau.

Ibu Hasanah kemudian memperjelas, bahwa puisi bukan hanya rangkaian kata, melainkan juga ruh dan daya getar batin. Puisi menghadirkan suara jiwa penyair, menghidupkan perasaan, dan kadang menjadi doa yang diam-diam terucap dalam keheningan.

Unsur Penting dalam Menulis Puisi

Dalam penjelasannya, Ibu Hasanah menekankan beberapa unsur yang perlu diperhatikan oleh penulis puisi:

  1. Tema – ide pokok atau pesan utama yang ingin disampaikan.

  2. Nada dan rasa – sikap penulis terhadap tema, bisa lembut, tajam, reflektif, atau bahkan satir.

  3. Amanat – pesan atau nilai yang hendak dititipkan kepada pembaca.

  4. Diksi dan gaya bahasa – pemilihan kata-kata yang khas, indah, serta penuh makna.

Selain itu, puisi juga diperkaya oleh imaji, metafora, serta majas yang memperindah makna. Rima dan ritme bisa menambah musikalitas, walau tidak selalu menjadi keharusan dalam puisi modern.

Mengapa Disebut Seni?

Menulis puisi disebut seni karena membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menulis. Ia menuntut kepekaan rasa, kreativitas, dan intuisi untuk menangkap keindahan yang tak kasat mata. Seni puisi terletak pada bagaimana penyair mampu mengubah pengalaman sederhana menjadi ungkapan yang sarat makna, sehingga pembaca merasakan keindahan, kesedihan, kerinduan, atau bahkan harapan yang sama.

KBMN sebagai Ruang Tumbuh

Dalam forum KBMN, suasana belajar selalu terasa hangat dan mendukung. Ibu Hasanah mengajak semua peserta untuk menulis secara bebas. Menurutnya, yang terpenting adalah “menulis, menulis, menulis” tanpa harus terlalu khawatir pada aturan. Tema boleh beragam, ekspresi boleh bebas, sebab yang utama adalah keberanian menuangkan isi hati.

Beliau bahkan memberikan tantangan kecil: dua puisi terbaik yang dihasilkan malam itu akan mendapatkan hadiah berupa buku puisi. Tantangan ini semakin menyemangati peserta untuk serius mengasah kreativitasnya.

Definisi Menurut Ahli

Untuk memperkaya pemahaman, Ibu Hasanah juga menyampaikan definisi puisi menurut KBBI dan pandangan ahli sastra H.B. Jassin. Keduanya menegaskan bahwa puisi adalah karya sastra tulis yang menggunakan bahasa indah, padat, dan penuh makna untuk menciptakan emosi mendalam. Definisi ini memperkuat bahwa puisi memang tidak sekadar rangkaian kata, melainkan karya seni yang hidup.

Penutup Penuh Keakraban

Di akhir pertemuan, suasana semakin akrab. Ibu Hasanah menyampaikan salam hormat kepada Om Jay, Bu Kanjeng, tim solid KBMN, serta semua sahabat yang hadir. Beliau menegaskan bahwa keberadaannya di forum ini bukan sekadar untuk mengajar, tetapi juga untuk saling belajar, berbagi, dan menguatkan.

Ucapan “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” menutup sesi dengan penuh kehangatan. Malam itu bukan hanya pertemuan biasa, tetapi menjadi ruang di mana kata-kata bertransformasi menjadi seni, di mana puisi bukan sekadar bacaan, melainkan napas kehidupan.


Kesimpulan

Resume ini menegaskan bahwa seni menulis puisi adalah keterampilan sekaligus panggilan hati. Ia menuntut keberanian, kreativitas, dan kepekaan rasa. Melalui puisi, seseorang dapat mengekspresikan isi jiwa dengan bahasa yang indah dan penuh makna.

Pertemuan KBMN 33 bersama Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd. tidak hanya membuka wawasan tentang teknik menulis puisi, tetapi juga menghadirkan inspirasi. Bahwa siapa pun, bahkan yang awalnya merasa bukan pujangga, bisa menjadi penulis puisi ketika ada motivasi, ruang belajar, dan semangat untuk terus menulis.

KBMN menjadi wadah yang membuktikan bahwa literasi bukan sekadar kegiatan membaca dan menulis, melainkan gerakan bersama untuk menghidupkan kata, merawat budaya, serta menumbuhkan generasi kreatif yang mencintai sastra.

Kamis, 04 September 2025

Berkarya & Berprestasi Lewat Menulis

 



Narasumber : Rita Wati, M.Kom

Menulis sering dianggap sekadar aktivitas menuangkan kata-kata ke dalam kertas atau layar. Namun, sejatinya menulis jauh lebih dalam dari itu. Ia adalah seni, terapi, bahkan jalan menuju prestasi. Setiap huruf yang terangkai menjadi jembatan antara ide dan dunia nyata. Melalui tulisan, gagasan yang tadinya hanya berdiam dalam pikiran bisa mengalir, membentuk makna, dan meninggalkan jejak yang abadi.

Seperti yang sering kita dengar, “Prestasi lahir dari karya, dan karya terbaik akan selalu menemukan jalannya menuju penghargaan.” Kalimat ini bukan sekadar slogan, tetapi terbukti nyata dalam perjalanan seorang guru inspiratif asal Bali, Ibu Ritawati. Dari menulis sederhana di buku harian, beliau mampu menjelma menjadi penulis produktif, narasumber nasional, dan sosok panutan dalam dunia literasi.

Awal Perjalanan: Dari Buku Harian ke Dunia Literasi

Perjalanan menulis Ibu Ritawati dimulai dengan sangat sederhana. Ia terbiasa menuliskan pengalaman sehari-hari dalam buku harian. Aktivitas itu menjadi ruang refleksi, cara untuk berdialog dengan diri sendiri, sekaligus merawat kenangan.

Seiring berkembangnya teknologi, beliau mulai membagikan tulisan melalui blog pribadi dan media sosial. Respon positif dari pembaca membuatnya semakin percaya diri. Tulisan yang lahir dari keseharian, sederhana, tetapi penuh makna, justru mampu menginspirasi banyak orang. Dari situlah keyakinannya tumbuh bahwa menulis bukan sekadar hobi, melainkan jalan untuk memberi manfaat.

Bagi beliau, menulis adalah terapi jiwa. Ia menemukan kesabaran, keikhlasan, dan energi positif dari setiap kata yang ditorehkan. Lebih dari itu, menulis membuka ruang baru untuk berkarya dan membangun jejaring.

Menulis sebagai Jalan Berkarya

Menulis bukan hanya soal merangkai kalimat, melainkan juga tentang menciptakan karya. Setiap tulisan adalah warisan intelektual yang bisa melampaui ruang dan waktu. Dengan pemahaman itu, Ibu Ritawati mulai aktif mengikuti berbagai pelatihan, lomba, hingga bergabung dalam komunitas literasi.


Dari proses tersebut, lahirlah banyak karya: artikel, blog, hingga buku antologi. Keikutsertaannya dalam Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) menjadi titik balik besar. Awalnya, ia hanya ingin meningkatkan keterampilan menulis. Namun siapa sangka, dari ruang belajar itu lahir prestasi yang membawa namanya dikenal luas.

Beliau belajar bahwa menulis adalah disiplin. Ide harus ditangkap, dituliskan, lalu dipoles menjadi karya yang layak dibaca. Dari hal-hal sederhana—sebuah pengalaman mengajar, peristiwa sehari-hari, atau kisah inspiratif—lahirlah tulisan yang memberi manfaat bagi banyak orang.

Prestasi demi Prestasi

Keteguhan hati membawa Ibu Ritawati pada banyak penghargaan. Ia pernah memenangkan lomba menulis esai tingkat nasional, dimuat di media massa, hingga terpilih sebagai Guru Inspiratif Kemendikbud tahun 2021. Prestasi itu baginya bukan tujuan utama, melainkan bonus dari konsistensi berkarya.

Berkat tulisannya, beliau juga mendapat kesempatan menjadi narasumber di berbagai seminar, mengisi lebih dari 40 presentasi, dan dipercaya sebagai kurator serta editor. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa menulis dapat mengangkat martabat seseorang, membuka pintu kesempatan, bahkan menghubungkan dengan jejaring internasional.

Tidak berhenti di sana, beliau berkesempatan mengikuti pelatihan virtual internasional, bergabung dengan komunitas guru ICT Asia Pasifik, hingga mengikuti kursus daring di Harvard University. Semua capaian itu bermula dari keberanian untuk menulis.

Inspirasi bagi Guru dan Generasi Muda

Sebagai guru Informatika di SMPN 2 Mendoyo, Jembrana-Bali, Ibu Ritawati selalu mendorong kolega dan siswanya untuk menulis. Menurutnya, guru yang menulis memiliki daya pengaruh lebih besar. Pengalaman mengajar tidak hanya berhenti di kelas, tetapi bisa terdokumentasi menjadi referensi bagi banyak orang.

Kepada generasi muda, beliau menekankan pentingnya membangun kebiasaan menulis sejak dini. Di tengah derasnya arus media sosial yang lebih sering menonjolkan hiburan instan, menulis adalah latihan berpikir kritis, berimajinasi, sekaligus belajar mengolah gagasan secara terstruktur.

Pesannya sederhana: “Jangan takut salah. Menulislah dulu. Kesalahan adalah guru terbaik, dan konsistensi akan melahirkan kualitas.”


Tantangan dan Rahasia Menulis

Dalam setiap sesi berbagi, Ibu Ritawati sering bertanya: apa alasan seseorang mengikuti pelatihan menulis? Jawaban yang muncul beragam—ada yang karena hobi, ingin naik pangkat, hingga sekadar ingin mencoba. Baginya, semua alasan itu sah. Yang terpenting adalah kemauan untuk menulis.

Namun, ia juga menyadari banyak orang kesulitan menulis. Beberapa alasan yang umum adalah kekurangan ide, miskin kosakata, sulit merangkai kata, atau tidak percaya diri. Untuk mengatasinya, beliau menawarkan rahasia sederhana:

  1. Tentukan motivasi menulis.

  2. Tuangkan ide tanpa memikirkan kesalahan terlebih dahulu.

  3. Latih menulis sedikit demi sedikit, mulai dari 100 kata per hari.

  4. Konsisten menulis setiap hari.

  5. Setelah terbiasa, kembangkan dengan peta konsep untuk proyek yang lebih besar.

  6. Ikutlah proyek antologi agar tumbuh kepercayaan diri.

Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya kaidah penulisan. Huruf kapital, tanda baca, kosakata baku, dan keteraturan paragraf harus diperhatikan agar tulisan nyaman dibaca. Menulis boleh bebas di awal, tetapi jangan lupa tahap revisi untuk memperindah karya.


Metode, Intuisi, dan Kreativitas

Dalam diskusi bersama peserta KBMN, sering muncul pertanyaan tentang metode menulis. Ibu Ritawati menjelaskan bahwa metode tergantung jenis tulisan. Tulisan ilmiah tentu memiliki aturan baku, sementara artikel populer lebih fleksibel.

Ia juga menekankan pentingnya revisi dan kreativitas. Revisi diperlukan agar tulisan lebih matang, sedangkan intuisi membantu menemukan “rasa” dalam tulisan. Kreativitas menjadikan tulisan hidup dan berbeda dari yang lain.

Bagi beliau, semua orang punya kekhasan masing-masing. Jangan takut jika tulisan terasa berbeda, karena justru perbedaan itulah yang membuat tulisan unik.

Menulis dengan Hati

Salah satu ciri khas karya Ibu Ritawati adalah kehangatan. Ia menulis dengan hati, sehingga tulisannya terasa jujur dan menyentuh. Menurutnya, tulisan yang ditulis dengan hati lebih mudah sampai ke hati pembaca.

Namun, menulis dengan hati bukan berarti tanpa logika. Justru paduan antara nurani dan nalar itulah yang menjadikan tulisan kaya makna. Dari situlah lahir karya yang bukan hanya indah dibaca, tetapi juga bermanfaat.


Penutup: Menulis sebagai Jalan Prestasi

Kisah Ibu Ritawati adalah bukti nyata bahwa menulis bisa membawa seseorang dari titik sederhana menuju pencapaian luar biasa. Dari sebuah buku harian, lahir karya yang menginspirasi ribuan orang. Dari keberanian berbagi, lahir prestasi yang membanggakan.

Pesan penting yang bisa kita petik adalah: jangan menunggu sempurna untuk mulai menulis. Kesempurnaan tidak akan datang tanpa proses. Tulisan yang baik lahir dari keberanian untuk memulai, konsistensi untuk menekuni, dan kerendahan hati untuk belajar.

Seperti kata beliau, tidak ada istilah penulis pemula. Selama ide yang dituangkan menarik dan bermanfaat, setiap orang bisa menjadi penulis hebat. Menulis bukan hanya jalan sunyi, tetapi juga jalan indah yang bisa mengubah diri sekaligus memberi arti bagi orang lain.

Dari Bali, Ibu Ritawati menunjukkan pada kita semua bahwa berkarya dan berprestasi lewat menulis bukanlah mimpi, melainkan kenyataan yang bisa diraih siapa saja—asal ada niat, semangat, dan konsistensi.

“Jangan menunggu sempurna untuk mulai menulis, karena tulisan yang baik lahir dari keberanian untuk memulai.” – J.K. Rowling


Menulis Biografi



Narasumber : Lely Suryani, S.Pd. SD 

Menulis biografi diibaratkan mengukir kisah hidup menjadi untaian kata yang indah dan bermakna. Dari langkah kecil sampai keputusan besar, dari pengalaman pahit hingga puncak pencapaian, semuanya bisa dirangkai menjadi cerita yang unik, inspiratif, dan menyalakan harapan. Itulah ruh utama dari materi malam ini: mengapa biografi penting, kepada siapa ia ditulis, dan bagaimana cara menuliskannya dengan etis, akurat, dan menyentuh. Momentum belajar ini juga ditandai oleh ajakan untuk “tidak terlewatkan” karena kita akan mengukir biografi bersama editor Melintas yang andal—sebuah kolaborasi yang menegaskan bahwa menulis adalah kerja intelektual sekaligus kerja hati.

Nuansa pembuka yang religius—ucapan salam, puji syukur kepada Allah SWT, serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW—menghadirkan etos kesantunan dalam belajar. Penghormatan ditujukan kepada Om Jay, Guru Blogger Indonesia, para narasumber KBMN, TSO, dan seluruh peserta KBMN Gelombang 33 yang siap “menjelajah kawasan tanpa batas”. Untaian apresiasi untuk Bunda AAM NURHASANAH menegaskan nilai kebersamaan: di KBMN tidak ada senioritas; semua berjalan berdampingan menuju satu tujuan, yakni mengembangkan literasi. Inilah semangat yang menjadi fondasi: berbagi, saling menguatkan, dan tumbuh bersama.

Di tengah suasana itu, Lely Suryani dari Kota Dawet Ayu memperkenalkan diri dan membagikan pengalamannya menulis buku biografi. Ia menekankan bahwa keterampilan menulis biografi adalah kompetensi yang perlu dimiliki calon penulis. Lebih jauh, di ranah KBMN, karya biografi bahkan bisa menjadi salah satu syarat kelulusan, menjadi bukti kompetensi menulis, dan—terutama bagi guru—bisa disematkan di Dapodik. Artinya, biografi tidak semata karya estetis, melainkan juga dokumen profesional yang berdaya guna dan berdaya bukti.

Karena forum ini adalah kelas orang dewasa dan berlangsung secara daring, pola belajarnya dibuat sederhana dan efektif. Pertama, belajar mandiri dengan fokus memahami materi. Kedua, berdiskusi interaktif untuk menjernihkan hal-hal yang belum terang. Ketiga, praktik menuliskan hasil belajar, meski singkat. Keempat, menghasilkan karya sebagai wujud nyata bahwa pengetahuan terserap. Selain itu, peserta dianjurkan membaca beragam buku biografi agar peka pada ragam gaya, struktur, dan pendekatan naratif. Membaca akan memperkaya sudut pandang, menajamkan rasa, dan memberi referensi konkret saat menulis.

Salah satu miskonsepsi yang diluruskan adalah anggapan bahwa biografi hanya pantas ditulis setelah tokohnya wafat, demi menghindari kultus individu. Pandangan ini dikontekstualkan: biografi bisa ditulis untuk siapa saja—baik yang sudah meninggal maupun masih hidup. Rinciannya, ada biografi tokoh wafat, ada otobiografi yang ditulis oleh tokoh itu sendiri, dan ada biografi tokoh yang masih hidup (yang lazim memerlukan wawancara). Menulis tentang tokoh yang masih hidup punya dua nilai utama: menginspirasi publik melalui kisah nyata dan mendokumentasikan kontribusi bagi generasi mendatang. Tantangannya jelas: izin, kerja sama, dan keterbukaan tokoh terhadap aspek-aspek pribadi maupun profesional.

Ditekankan pula bahwa biografi menuntut ketepatan data dan sumber yang valid. Akurasi adalah etika; ia melindungi martabat tokoh dan integritas penulis. Pengalaman hidup tokoh yang disusun dengan cermat akan lebih mudah dipahami dan diapresiasi—terutama bagi para pembaca yang mengidolakan atau menjadikannya teladan. Karena itu, proses penulisan idealnya diawali dengan menyusun draf atau TOC (table of contents). Pilih tokoh yang berdampak pada diri penulis atau lingkungan. Sebagai latihan, mulailah dari biografi singkat orang-orang terdekat. Pengalaman mengedit naskah biografi untuk kenangan kepala sekolah purnabakti menunjukkan betapa pentingnya proses kurasi cerita, pilihan sudut pandang, dan ketelitian verifikasi.

Langkah-langkah menulis dirumuskan runtut dan praktis. Mula-mula, timbang dan pilih calon tokoh; selanjutnya minta izin. Atur jadwal wawancara dan diskusi, lalu laksanakan sesuai kesepakatan. Carilah sumber pendamping—dokumen, arsip, saksi—untuk menguatkan data. Setelah draf selesai, diskusikan lagi untuk revisi dan persetujuan. Jika siap, lanjut ke tahap produksi dan cetak. Untuk tokoh yang telah meninggal, sumber primer dapat diperoleh dari keluarga dan orang terdekatnya. Detail tanggal dan tahun kejadian idealnya dicantumkan secara kronologis; bila tak ada, penanda masa (misalnya “kelas 6 SD” atau “awal kuliah”) cukup membantu. Keterbatasan data bukan aib, selama penulis jujur atas sumbernya.

Pertanyaan penting lain menyentuh aspek empati dan dramaturgi: bagaimana menuturkan momen sulit tanpa membuat tokoh tampak lemah atau terkesan meminta belas kasihan? Jawabnya, fokus pada proses, pilihan, dan daya lenting—bukan semata derita. Tampilkan kebiasaan, cara bicara, kegemaran kecil—detail yang “menghadirkan” tokoh di mata pembaca. Kelebihan wajib diangkat karena itulah yang meneguhkan ketokohan. Kekurangan boleh ditulis jika relevan dan menjadi pijakan tumbuh. Namun semua materi sensitif mesti dikomunikasikan; bila tokoh keberatan, hormati dan keluarkan. Etika ini menjamin kejujuran tanpa sensasi, keterbukaan tanpa pelanggaran privasi.

Kebuntuan menulis—sulit membuat kerangka, mulai mengetik, dan menjaga ritme—ditangani dengan strategi sederhana: rawat semangat dan konsistensi lewat komunitas. Berada di tengah sesama penulis membuat komitmen lebih terjaga. Karena teori mudah pudar, praktik harus diprioritaskan. Mulailah dari menyusun TOC dan menulis di blog pribadi, lalu bagikan tautannya untuk umpan balik. Sebagai referensi struktur, ditunjukkan contoh daftar isi buku “50 Puluh Tahun Lebih Dekat Om Jay”: masa kecil dan sekolah, biodata, pandangan pertama, pandangan keluarga, pandangan teman, pandangan penulis, tulisan-tulisan inspiratif Om Jay, dan tentang guru penulisnya. Contoh ini bukan satu-satunya format, tetapi memberi gambaran ritme penceritaan yang bertahap.

Bagi yang ingin menulis biografi pendiri yayasan namun bingung memulai, arahnya konkret. Sampaikan rencana kepada teman dekat untuk menguji kelayakan ide. Rancang langkah: susun pertanyaan, atur wawancara, kumpulkan dokumen, potret arsip organisasi, dan temui saksi kunci. Tulis sketsa kronologi hidup dan peta tema (pendidikan, visi, karya, krisis, warisan). Kerjakan draf per bab, lakukan cek silang, lalu minta persetujuan. Jaga etika, imbangkan pujian dengan kritik konstruktif, dan pastikan semua klaim bertumpu pada bukti. Dengan pola ini, kebingungan akan terurai menjadi langkah-langkah kecil yang bisa dieksekusi.

Pada akhirnya, menulis biografi adalah kerja merawat ingatan sekaligus menyalakan harapan. Ia menghormati jejak seorang manusia, menautkan kisah personal dengan kemaslahatan sosial, dan menawarkan teladan yang dapat ditiru. Semangat KBMN—tanpa senioritas, penuh kolaborasi, dipandu niat baik TSO dan pendamping seperti Bunda AAM—menjadi lanskap yang subur bagi lahirnya karya yang jujur, rapi, dan bernilai. Malam ini, ajakan yang menggema sederhana: fokus pada pengembangan literasi, digital maupun non-digital; pelajari materinya, diskusikan yang belum jelas, praktikkan walau singkat, dan lahirkan karya. Karena hanya karya yang membuat ilmu tinggal lebih lama di dalam diri.


 

Jumat, 29 Agustus 2025

Mengelola Majalah Sekolah


Moderator: Nur Dwi Yanti 
Narasumber : Widya Arema

Malam ini, suasana kelas menulis KBMN-33 terasa istimewa. Dipandu oleh Nur Dwi Yanti—akrab disapa NDY—sebagai moderator, pertemuan dibuka dengan sebuah kutipan Albert Einstein yang sarat makna: “Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think.” Pendidikan bukan sekadar menghafal fakta, melainkan melatih pikiran agar terbiasa berpikir.

Kutipan ini menjadi pintu masuk menuju tema besar diskusi: Majalah Sekolah. Tema yang sederhana, sering luput dari perhatian, namun sesungguhnya menyimpan potensi luar biasa sebagai sarana literasi, kreativitas, sekaligus refleksi bagi seluruh warga sekolah.

NDY memperkenalkan narasumber malam itu, seorang sahabat sekaligus adiknya sendiri, Ibu Widya Arema. Sosok yang sudah lama berkecimpung di dunia literasi, khususnya dalam pengelolaan majalah sekolah. Melalui paparannya, peserta diajak menyelami bahwa majalah sekolah bukan sekadar kumpulan berita atau dokumentasi, melainkan wadah ekspresi dan identitas sekolah.

Seperti kata Pramoedya Ananta Toer yang juga disampaikan dalam sesi ini: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah.” Dengan menulis, seseorang menorehkan jejak yang tidak akan mudah hilang, bahkan bisa menjadi warisan berharga.


Widya: Dari Lembar Kosong Menjadi Jejak Bermakna

Widya mengawali pemaparan dengan narasi puitis. Baginya, menulis adalah perjalanan hati. Setiap kata yang lahir dari nurani bisa membentuk jiwa, menyalakan semangat, sekaligus menjadi cermin bagi siapa pun yang membacanya.

Ia menceritakan perjalanannya bergabung di KBMN sejak gelombang 21, tepat saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Dari awalnya hanya peserta, kini ia berdiri sebagai narasumber. Selama perjalanan itu, Widya telah menorehkan puluhan antologi dan tiga karya solo. Namun yang paling membahagiakan baginya bukanlah jumlah karya, melainkan kesempatan bertemu guru-guru hebat dari seluruh Indonesia, bersahabat, dan berkolaborasi dalam literasi.

Ia juga menyampaikan rasa syukur pada Om Jay dan tim solid KBMN yang selalu memberikan ruang bagi para penulis untuk berkembang. Baginya, literasi adalah tabungan kebaikan—setiap tulisan yang dibuat akan menjadi bekal berharga, bahkan hingga kehidupan setelah mati.


Majalah Sekolah: Dari Fotokopi Hingga Full Colour

Sesi berlanjut pada pengalaman konkret Widya dalam mengelola majalah sekolah di MI Khadijah. Majalah ini sudah terbit sejak tahun 2010, dan sejak 2015 ia dipercaya menjadi pemimpin redaksi. Perjalanannya tidak mudah. Edisi pertama majalah hanya berupa lembar folio yang difotokopi, dijepit di tengah, jauh dari tampilan profesional. Namun semangat konsistensi dan kolaborasi menjadikannya terus berkembang hingga kini.

Baginya, yang mahal bukan biaya cetak, melainkan semangat para guru. Guru yang rela berkorban waktu dan tenaga untuk menyediakan jendela informasi bagi siswa, orang tua, hingga masyarakat sekitar.

Widya merinci beberapa langkah penting dalam membangun majalah sekolah:

  1. Menemukan tim yang sevisi. Dibutuhkan rekan sejawat yang memiliki semangat literasi.

  2. Menyusun proposal. Meliputi latar belakang, tujuan, struktur redaksi, hingga rencana pendanaan.

  3. Menentukan identitas majalah. Nama, isi berita, dan visi yang ingin dibawa.

  4. Mencari sponsor atau rekanan. Untuk mendukung pembiayaan majalah.

Menurutnya, kunci utama ada pada guru. Tidak mungkin siswa mencintai literasi jika gurunya sendiri tidak memiliki budaya literasi. Semua guru harus merasa memiliki majalah sekolah, bukan hanya segelintir tim redaksi. Dengan begitu, semangat menulis akan lebih mudah menular kepada siswa.

Soal pendanaan, Widya menawarkan tiga sumber:

  1. Swadaya dari orang tua.

  2. Dana BOS.

  3. Sponsorship atau rekanan, termasuk orang tua siswa yang memiliki usaha.

Ia menutup bagian ini dengan kalimat motivatif: “Satu ons aksi lebih berharga daripada satu ton niat.”


Sesi Tanya Jawab

Diskusi menjadi semakin hidup dengan pertanyaan dari berbagai peserta.

1. Mardiah dari Banten bertanya soal bagaimana menentukan tema majalah sekolah.
Widya menjawab bahwa tema bisa diambil dari identitas sekolah, minat siswa, momen khusus dalam kalender pendidikan, atau bahkan rubrik yang sudah disusun. Yang penting, tema harus menggugah, misalnya “Majalahku, Cermin Sekolahku” atau “Menulis dengan Hati, Membaca dengan Nurani.”

2. Karno dari Makassar menyoroti soal sponsorship.
Widya menekankan pentingnya proposal yang profesional. Rekanan harus diyakinkan bahwa majalah sekolah adalah media yang bermanfaat bagi promosi usaha mereka. Bentuk kolaborasi bisa berupa iklan, profil usaha, atau kisah inspiratif yang relevan.

3. Herlina bertanya tentang tantangan dan pengelolaan tim redaksi.
Jawaban Widya menyoroti beberapa hambatan: keterbatasan SDM, pendanaan, dukungan sekolah, konsistensi jadwal, hingga minat pembaca. Semua bisa diatasi dengan tim yang solid, rapat rutin, pelibatan siswa, dan penggunaan platform digital untuk kolaborasi.

4. Dede Awaludin dari Majalengka menanyakan aplikasi untuk desain majalah.
Widya merekomendasikan Canva, Photoshop, atau aplikasi serupa. Prinsipnya, desain harus menampilkan identitas sekolah, dengan layout yang rapi, warna harmonis, dan font mudah dibaca.

5. Fazar dari Garut mengajukan pertanyaan strategis: apakah majalah harus dikelola guru saja, dan apakah lebih baik berbentuk digital atau fisik?
Widya menegaskan, di tingkat SMA/SMK sebaiknya majalah dikelola bersama guru dan siswa—terutama OSIS. Soal format, keduanya penting. Majalah digital lebih praktis, interaktif, dan hemat biaya. Sementara majalah fisik memberi kesan intim, cocok untuk dokumentasi jangka panjang.

6. Parman dari Bengkulu menutup sesi tanya jawab dengan pertanyaan tentang langkah sederhana membuat majalah menarik.
Widya menjawab: tentukan tema, susun rubrik tetap, libatkan guru-siswa, gunakan bahasa naratif, desain menarik, tambahkan interaktivitas (seperti QR code), dan sebarkan lewat media digital.


Penutup: Menyalakan Cahaya Literasi

Sebagai penutup, Widya menyampaikan pesan yang menggugah hati:

Menulis bukan sekadar merangkai huruf, melainkan menyalakan cahaya di tengah gelapnya pikiran.

Tulisan mampu mengubah cara pandang, menggerakkan hati, bahkan menjadi warisan berharga bagi dunia pendidikan. Guru, menurutnya, bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga penyalur cahaya ilmu melalui tulisan. Setiap pengalaman mendidik, setiap cerita kecil di kelas, adalah mutiara yang pantas diabadikan.

Ia mengajak semua peserta KBMN-33 untuk terus menulis dengan hati, menggoreskan tinta dengan penuh cinta, dan membuktikan pada dunia bahwa guru adalah pelukis kata yang tidak pernah kehabisan inspirasi.


Refleksi

Dari keseluruhan sesi ini, ada tiga pesan penting yang bisa dipetik:

  1. Majalah sekolah adalah wadah literasi. Ia bukan sekadar dokumentasi, melainkan sarana ekspresi, refleksi, dan pembentukan identitas sekolah.

  2. Guru memegang peran sentral. Mustahil siswa cinta literasi tanpa guru yang meneladankannya.

  3. Konsistensi lebih berharga daripada kesempurnaan. Mulailah dari sederhana, meski hanya fotokopi hitam putih, karena dari situlah benih besar akan tumbuh.

Malam ini, KBMN-33 bukan hanya kelas menulis, melainkan ruang untuk menyalakan api literasi bersama. Dari kisah Widya Arema, para peserta belajar bahwa majalah sekolah bisa menjadi ladang ibadah, sekaligus jendela yang mempertemukan gagasan siswa, guru, dan masyarakat.



 

Rabu, 27 Agustus 2025

Mempermudah Penulis Bersama Penerbit Mayor PT. Andi Offset Yogyakarta



Narasumber : Agust Subardana, SE., M.M.

Bagi seorang penulis, pertanyaan terbesar setelah menyelesaikan sebuah naskah adalah: “Kemana muara tulisan ini akan berlabuh?” Jawaban paling wajar tentu saja: penerbitan. Menulis tanpa menerbitkan ibarat menanam tanpa menuai. Dan di antara banyaknya pilihan penerbit, setiap penulis pasti menyimpan impian yang sama: bisa menerbitkan karya di penerbit mayor. Mengapa? Karena penerbit mayor menawarkan gengsi, kualitas, jangkauan, dan peluang yang sulit didapatkan jika kita menerbitkan secara mandiri.

Salah satu penerbit mayor yang sudah malang melintang di dunia literasi Indonesia adalah PT ANDI Offset Yogyakarta. Nama ini sudah dikenal luas, khususnya di bidang pendidikan, teknologi, sains, hingga buku-buku populer. Dan menariknya, dalam Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) ke-33, Bapak Agus Subardana, SE., MM., Direktur Penerbitan PT ANDI Offset, membagikan banyak rahasia tentang bagaimana penulis bisa dengan lebih mudah menembus penerbit mayor.

Sejarah Singkat ANDI Offset

Penerbit ANDI berdiri pada awal 1980-an. Awalnya, hanya berupa usaha percetakan sederhana di Yogyakarta. Namun, karena melihat kebutuhan buku pendidikan dan literatur ilmiah yang semakin besar, ANDI mulai merambah dunia penerbitan. Pada dekade 1980-an, fokus utamanya adalah menerbitkan buku komputer, teknologi, dan sains — bidang yang waktu itu masih sangat langka di Indonesia.

Perlahan, reputasinya terbentuk sebagai penerbit yang serius dalam menyediakan referensi ilmiah. Memasuki tahun 1990-an hingga 2000-an, ANDI memperluas lini penerbitannya ke buku pendidikan, bisnis, manajemen, psikologi, agama, hingga literatur populer. Tidak berhenti di sana, ANDI juga mengikuti perkembangan zaman dengan menghadirkan e-book, layanan cetak cepat, serta distribusi online.

Kini, dengan slogan “Bersama ANDI, Berkarya untuk Negeri”, ribuan judul buku telah terbit dan ribuan penulis dari berbagai kalangan bermitra dengan penerbit ini. Nama besar ANDI Offset menjadi jaminan kredibilitas dan kualitas bagi penulis yang ingin karyanya diakui secara nasional.

Tantangan Penulis di Era Digital

Agus Subardana memaparkan, menjadi penulis di zaman sekarang penuh tantangan. Pertama, ada persaingan dari self-publishing dan platform digital seperti Wattpad atau Amazon Kindle. Setiap orang bisa menerbitkan sendiri, sehingga banjir buku membuat persaingan merebut perhatian pembaca semakin ketat.

Kedua, banyak penulis menghadapi kendala distribusi. Buku yang dicetak terbatas sering hanya dikenal di lingkup kecil. Tanpa jaringan distribusi nasional, karya yang bagus pun berisiko tidak sampai ke tangan pembaca luas.

Ketiga, Menulis dan menerbitkan adalah dua hal berbeda. Tidak semua penulis memahami aspek teknis penerbitan: editing, layout, desain cover, hingga pengurusan ISBN. Padahal semua itu menentukan apakah buku layak edar atau tidak.

Keempat, minimnya promosi. Banyak penulis hanya fokus menulis, tanpa strategi pemasaran. Akibatnya, buku hanya dikenal di lingkaran terbatas. Tanpa promosi, buku berkualitas pun bisa tenggelam.

Karena itulah, peran penerbit mayor seperti ANDI Offset sangat penting: menjadi jembatan yang menghubungkan karya penulis dengan pembaca luas, sekaligus memberikan dukungan penuh dari awal hingga akhir.

Peran ANDI Offset bagi Penulis

Ada lima peran besar yang dimainkan ANDI dalam mempermudah penulis. Pertama, sebagai jembatan penulis dengan pembaca. Ide cemerlang dari penulis diolah hingga bisa benar-benar sampai ke audiens yang tepat.

Kedua, menyediakan layanan profesional: mulai dari editing, penyuntingan, desain cover, layout, pengurusan ISBN, hingga cetak buku dengan standar tinggi. Penulis tidak dibiarkan berjalan sendiri.

Ketiga, distribusi nasional. Buku terbitan ANDI bisa ditemukan di Gramedia, Togamas, marketplace online, hingga kampus dan sekolah di seluruh Indonesia. Bahkan sebagian buku menembus pasar internasional.

Keempat, dukungan promosi. Penulis mendapat fasilitas berupa event launching, promosi di media sosial, kerja sama dengan komunitas literasi, hingga resensi media.

Dan kelima, ANDI benar-benar menjadi mitra strategis. Bukan sekadar “mencetak buku”, tetapi mendampingi penulis sejak tahap naskah hingga distribusi.

Mengapa ANDI Disebut Penerbit Mayor?

Ada empat alasan utama yang membuat ANDI mendapat predikat penerbit mayor:

  1. Jaringan Luas.
    Buku ANDI hadir di jaringan toko buku nasional hingga marketplace online.
  2. Portofolio Penulis Besar.
    Ribuan penulis dari berbagai kalangan telah menerbitkan karya di ANDI.
  3. Skala Produksi Massal.
    ANDI mampu mencetak buku dalam jumlah besar, baik cetak fisik maupun e-book.
  4. Reputasi dan Kredibilitas.
    Lebih dari 40 tahun, ANDI dikenal sebagai penerbit akademik yang kredibel, dengan banyak bukunya dijadikan referensi resmi di sekolah maupun perguruan tinggi.

Manfaat untuk Penulis

Bergabung dengan penerbit mayor tentu memberi banyak keuntungan, di antaranya:

  • Nama penulis terangkat karena reputasi penerbit.
  • Royalti jelas dan transparan.
  • Karya masuk ke ekosistem akademik dan pendidikan.
  • Buku mendapat legalitas resmi dengan ISBN.
  • Dukungan penuh dari tim penerbit, mulai dari editing hingga promosi.

Dengan manfaat ini, menulis tidak hanya menjadi aktivitas personal, tetapi juga jalan untuk memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan dan masyarakat luas.

Proses Mudah Menerbitkan Buku di ANDI Offset

Lalu, bagaimana prosesnya? Ada enam tahap sederhana:

  1. Mengirimkan naskah ke redaksi ANDI (email naskahbukuandi@gmail.com).
  2. Seleksi dan review untuk menilai kelayakan isi, kualitas, dan orisinalitas.
  3. Editing & layout oleh tim profesional dengan diskusi bersama penulis.
  4. Penerbitan resmi (pengurusan ISBN, cetak buku).
  5. Distribusi nasional ke toko buku, kampus, sekolah, marketplace.
  6. Promosi & launching agar buku dikenal luas.

Penulis cukup fokus menulis, sementara penerbit mengurus sisanya.

Sinergi dan Kolaborasi

Lebih jauh, ANDI tidak hanya menjadi penerbit, tetapi juga mitra strategis bagi penulis. Beberapa bentuk sinergi yang ditawarkan antara lain:

  • Bimbingan Penulisan. Melalui workshop, coaching, dan sharing session.
  • Kolaborasi. Penulis bisa bekerja sama dengan akademisi, guru, praktisi, atau penulis lain untuk menghasilkan karya lintas disiplin.
  • Pendampingan. Sejak naskah awal hingga promosi, penulis selalu didampingi.

Sinergi ini menjadikan ANDI lebih dari sekadar penerbit, melainkan ekosistem literasi yang mendukung penulis untuk terus berkembang.

Tips & Trik Agar Buku Lolos Penerbit Mayor

Agus Subardana juga membagikan tips praktis:

  • Tentukan tujuan menulis sejak awal.
  • Kenali pasar dan target pembaca.
  • Susun naskah rapi, sistematis, dan sesuai kaidah.
  • Ikuti pedoman dari penerbit.
  • Bangun komunikasi dengan redaksi.
  • Siapkan mental untuk revisi.
  • Bangun branding diri sebagai penulis.
  • Percayakan urusan teknis (editing, desain, distribusi) pada penerbit.

Dengan langkah ini, peluang naskah lolos seleksi semakin besar.

Tanya Jawab Inspiratif

Beberapa peserta KBMN juga mengajukan pertanyaan menarik. Misalnya, bagaimana membuat pembaca ketagihan? Jawabannya: mulailah dengan pembuka yang menggugah, gunakan bahasa mengalir, sisipkan cerita, bangun koneksi emosional, dan pastikan setiap halaman memberi manfaat nyata.

Ada juga yang bertanya soal biaya cetak. Jawabannya, ada dua skema. Jika naskah dianggap potensial, semua biaya ditanggung penerbit dan penulis mendapat royalti. Namun, jika naskah pasarnya terbatas, bisa ada skema co-publishing di mana penulis menanggung sebagian biaya.

Pertanyaan lain terkait pangsa pasar, distingsi buku pendidikan, hingga keluhan keterlambatan terbit juga dijawab dengan jujur. Intinya, komunikasi terbuka dengan penerbit adalah kunci.

Penutup: Berkarya Bersama Penerbit Mayor

Dari seluruh paparan malam itu, kesimpulan yang bisa diambil adalah: menerbitkan buku di penerbit mayor bukanlah mimpi mustahil. Prosesnya jelas, langkahnya terarah, dan dukungan penuh tersedia. Penulis cukup menyiapkan naskah yang berkualitas, memahami kebutuhan pembaca, dan menjalin komunikasi baik dengan penerbit.

Bersama ANDI Offset, penulis tidak hanya menerbitkan buku, tetapi juga membangun nama, kredibilitas, serta memberi manfaat nyata bagi dunia pendidikan dan masyarakat. Dengan sinergi dan kolaborasi, literasi Indonesia akan semakin kuat, dan karya para penulis benar-benar akan menemukan muaranya: menjadi warisan ilmu yang abadi.



 

Menulis itu Mudah


Waktu: Senin, 25 Agustus 2025
Pertemuan ke-9 Gelombang ke-33
Moderator: Muliadi
Narasumber: Prof. Dr. Ngainun Naim, M.Hi.
Narasumber : Prof.Dr. Ngainun Naim, M.Hi.
 

Awal Kegiatan

Acara malam itu dibuka dengan sapaan penuh semangat, diawali dengan pantun sederhana yang mencairkan suasana. Peserta diajak untuk memulai kegiatan dengan hati riang. Setelah itu, moderator Muliadi memperkenalkan tema yang diangkat: “Menulis Itu Mudah.” Tema ini terasa istimewa karena menyentuh persoalan yang hampir dialami oleh semua orang—bahwa menulis sering dianggap sebagai aktivitas sulit, padahal sesungguhnya bisa dilakukan siapa saja bila ada niat, konsistensi, dan keberanian untuk memulai.

Kegiatan kali ini terasa semakin berharga karena menghadirkan narasumber utama: Prof. Dr. Ngainun Naim, M.Hi., seorang akademisi, penulis produktif, sekaligus pegiat literasi nasional. Beliau sudah menulis banyak buku, artikel ilmiah, hingga catatan reflektif yang tersebar di berbagai media, baik cetak maupun digital. Pengalaman panjang beliau dalam menulis menjadikannya figur yang tepat untuk memberikan motivasi dan arahan praktis kepada para peserta.


Mengapa Menulis Itu Penting?

Di awal pemaparannya, Prof. Ngainun mengingatkan kembali tentang arti menulis. Menurut beliau, menulis bukan hanya sekadar aktivitas menggerakkan pena di atas kertas atau menekan tombol di papan ketik. Menulis adalah proses mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman hidup dengan cara yang unik.

Ada tiga manfaat utama menulis:

  1. Menulis menata pikiran. Ide yang hanya berputar di kepala seringkali menguap begitu saja. Namun, ketika dituangkan dalam tulisan, ide menjadi nyata dan terdokumentasi.

  2. Menulis adalah berbagi. Sebuah tulisan bisa dibaca kapan saja, bahkan bertahun-tahun setelah penulisnya tiada. Tulisan dapat menjadi inspirasi, penyemangat, bahkan warisan intelektual.

  3. Menulis memperkaya diri. Melalui menulis, kita berdialog dengan diri sendiri, belajar memahami perasaan, memaknai pengalaman, sekaligus melatih pola pikir kritis dan kreatif.

Beliau menegaskan bahwa “Tulisan terbaik adalah tulisan yang selesai, bukan yang sempurna.” Artinya, jangan sampai rasa takut salah atau minder membuat seseorang berhenti menulis. Justru dengan terus menulis, keterampilan akan terasah, dan kualitas tulisan meningkat secara alami.

Menulis Itu Mudah, Jika…

Prof. Ngainun kemudian menjelaskan lima hal penting agar menulis terasa mudah:

  1. Menulis hal yang dialami. Tulisan yang bersumber dari pengalaman pribadi cenderung lebih mudah disusun karena kita mengalaminya secara langsung. Contohnya, catatan ringan tentang acara keluarga atau perjalanan. Hal-hal sederhana itu bisa ditulis seperti sebuah buku harian, lalu dibagikan di blog.

  2. Membiasakan diri menulis. Kebiasaan sering kali diawali dengan paksaan. Seperti anak kecil yang dipaksa berjalan atau berbicara bahasa tertentu. Begitu pula dengan menulis. Pada awalnya memang terasa berat, tetapi bila terus dilakukan, ia akan menjadi kebiasaan yang menyenangkan.

  3. Menulis tema yang dikuasai. Guru misalnya, akan lebih mudah menulis tentang pendidikan. Dosen atau peneliti lebih nyaman menulis tentang riset atau pengabdian masyarakat. Jika seseorang menulis hal yang tidak ia kuasai, biasanya prosesnya lebih sulit.

  4. Komitmen. Tanpa komitmen, menulis hanya menjadi cita-cita. Komitmen bisa dimulai dengan menyisihkan waktu khusus setiap hari, misalnya 20 menit. Konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar semangat sesaat.

  5. Tidak mengejar kesempurnaan. Perfeksionisme justru sering menjadi penghambat. Yang penting adalah menyelesaikan tulisan, karena tulisan yang selesai akan memberi ruang untuk evaluasi dan perbaikan.


Tanya Jawab dengan Peserta

Sesi tanya jawab berlangsung hangat dan interaktif. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan penting terkait tantangan nyata dalam dunia menulis.

  1. Dail (Banten) bertanya mengenai cara membangkitkan kembali semangat para penulis di portal Melintas yang sempat menurun karena kebijakan Google terhadap artikel berbasis AI. Prof. Ngainun menjawab bahwa AI hanyalah alat, bukan pengganti peran otak dan hati manusia. Menulis adalah pekerjaan kemanusiaan. Penulis sejati tidak akan patah semangat hanya karena berkurangnya pembaca. Tantangan ini justru harus dijadikan kesempatan untuk terus berkreasi secara jujur dan autentik.

  2. Akhmad Sururi (Brebes) menanyakan bagaimana membiasakan diri menulis artikel ilmiah agar sesuai dengan kaidah jurnal. Prof. Ngainun menyarankan empat langkah: banyak membaca artikel jurnal, menikmati proses penulisan, memahami target jurnal dan polanya, serta belajar dari penolakan bila artikel ditolak.

  3. Herlina bertanya tentang cara mengembangkan tema dan menggunakan deskripsi yang efektif. Prof. Ngainun menekankan pentingnya membuat peta sederhana sebelum menulis, lalu menguraikan setiap aspek dalam paragraf. Sementara untuk deskripsi, satu-satunya cara adalah terus berlatih.

  4. Fazar A (Garut) menanyakan manfaat menulis, teknis menulis termudah, serta kemungkinan menulis di luar bidang yang dikuasai. Prof. Ngainun menjawab bahwa manfaat menulis sangat banyak, termasuk membuka jalan bagi karier akademik. Tidak ada teknis menulis yang paling mudah selain menjalani prosesnya. Dan menulis di luar bidang tetap bisa dilakukan asalkan didahului dengan riset serta kemauan belajar.


  5. Yuyun Srimulyati mengajukan pertanyaan tentang mindset menulis jurnal yang dianggap sulit, validitas data, serta cara menghadapi kritik dari reviewer. Menurut Prof. Ngainun, memang benar menulis jurnal lebih sulit daripada artikel populer, tetapi bukan berarti tidak bisa. Validitas data harus dijaga dengan kejujuran, dan kritik dari reviewer sebaiknya ditanggapi segera, bukan ditunda, agar proses penerbitan lebih lancar.

Pelajaran Penting dari Prof. Ngainun

Dari penjelasan beliau, dapat disimpulkan beberapa poin utama:

  • Awalnya paksaan, akhirnya kebiasaan. Sesuatu yang berat pada awalnya, bila dilakukan terus-menerus, akan berubah menjadi kebiasaan yang ringan dan akhirnya kebutuhan.

  • Menulis itu kerja otak sekaligus hati. Mesin tidak bisa menggantikan sentuhan kemanusiaan yang ada dalam tulisan.

  • Tulisan adalah jejak abadi. Sekecil apapun tulisan, ia bisa menjadi inspirasi dan pengingat bagi generasi berikutnya.

  • Jangan takut gagal atau ditolak. Penolakan, kritik, atau sedikit pembaca bukan alasan berhenti menulis, melainkan kesempatan untuk belajar dan tumbuh.


Penutup

Moderator menutup acara dengan ucapan terima kasih kepada Prof. Ngainun atas ilmu, motivasi, dan inspirasinya. Para peserta diajak untuk menjadikan menulis sebagai bagian dari keseharian, bukan sekadar wacana. Menulis bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga jalan untuk memperkaya jiwa, berbagi kebaikan, dan meninggalkan warisan intelektual.

Pesan terkuat malam itu sederhana namun dalam: “Tulisan terbaik adalah tulisan yang selesai. Bukan yang sempurna.”

Semoga semangat ini menjadi pelecut bagi semua peserta untuk tidak lagi menunda, tidak takut salah, dan berani menulis dari hal-hal sederhana yang dialami sehari-hari.

Berlayar jauh ke Pulau Seram,
singgah sebentar membeli ikan.
Ilmu menulis kita tanam,
semoga jadi amal kebaikan.

Pantun sederhana ini sebenarnya menyimpan makna yang begitu dalam. Ia bukan sekadar permainan kata, melainkan sebuah ajakan untuk merenungkan perjalanan hidup, pentingnya menanam ilmu, dan bagaimana karya tulis yang kita hasilkan bisa menjadi warisan kebaikan yang tak lekang oleh waktu.

Ketika seseorang berlayar jauh, ia tidak hanya sedang melakukan perjalanan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Ia juga sedang menempuh perjalanan batin, menantang dirinya sendiri, menghadapi gelombang, dan mengasah ketahanan. Begitu pula dalam dunia menulis. Menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan. Ada hari-hari ketika ide meluap deras, namun ada pula waktu di mana kepala terasa kosong dan pena enggan bergerak. Seperti pelaut yang berjuang melawan badai, seorang penulis juga harus terus menempuh perjalanan meskipun sulit, karena di ujung layar selalu ada pelabuhan yang menanti.

Singgah sebentar membeli ikan dalam pantun tadi bisa kita maknai sebagai perhentian sejenak untuk mengumpulkan bekal. Dalam menulis, bekal itu berupa pengetahuan, pengalaman, dan pengamatan sehari-hari. Penulis yang baik bukan hanya mereka yang pandai berimajinasi, tetapi juga mereka yang mau membuka mata dan hati terhadap kenyataan hidup di sekitarnya. Dari percakapan singkat di pasar, dari senyum anak-anak di jalan, bahkan dari keluh kesah orang-orang di warung kopi, seorang penulis bisa menemukan bahan berharga untuk karyanya.

Ilmu menulis yang kita tanam tidak berbeda jauh dengan benih yang ditabur di tanah subur. Ia butuh perhatian, kesabaran, dan waktu untuk tumbuh. Seorang penulis pemula mungkin merasa canggung dengan tulisannya, merasa tidak percaya diri, atau khawatir tulisannya tidak layak dibaca orang lain. Namun, seperti benih yang kecil dan rapuh, jika terus disirami dan diberi cahaya, ia akan tumbuh menjadi tanaman yang kokoh. Menulis pun demikian. Setiap paragraf yang kita hasilkan, setiap halaman yang kita selesaikan, adalah bagian dari proses pertumbuhan itu.

Yang menarik dari pantun tersebut adalah penutupnya: semoga jadi amal kebaikan. Kalimat ini memberi arah sekaligus tujuan yang luhur. Menulis bukan sekadar mengejar popularitas, keuntungan finansial, atau pengakuan sosial. Menulis adalah tentang berbagi. Setiap tulisan yang lahir dari ketulusan hati bisa menjadi cahaya bagi orang lain. Tulisan yang memberi inspirasi, yang menguatkan semangat, atau yang menghibur di saat sedih, semuanya bisa bernilai amal jariyah. Bahkan, tulisan yang sederhana sekalipun—asal mengandung niat baik—dapat menjadi bekal pahala yang terus mengalir.

Mari kita lihat contoh sederhana. Bayangkan seorang guru menulis catatan kecil tentang pentingnya kejujuran, lalu catatan itu dibaca muridnya. Bertahun-tahun kemudian, murid itu tumbuh menjadi pribadi yang jujur dan amanah, bahkan mungkin mengajarkan nilai itu kepada anak cucunya. Bukankah itu artinya tulisan sang guru telah menjadi amal kebaikan yang abadi? Hal yang sama bisa terjadi dengan penulis mana pun. Kita tidak pernah tahu sejauh mana dampak tulisan kita menjangkau.

Perjalanan menulis juga sering kali penuh dengan pergulatan batin. Ada rasa takut dihakimi, rasa ragu apakah tulisan kita cukup berarti, dan rasa malas yang kadang mendera. Namun, jika kita mengingat bahwa setiap kata yang kita tulis bisa bernilai ibadah, maka perjalanan itu menjadi lebih ringan. Kita menulis bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk memberi manfaat kepada orang lain.

Sejarah mencatat, banyak peradaban besar bertahan karena tulisan. Ilmu-ilmu kuno bisa kita pelajari hari ini karena ada orang-orang yang menuliskannya. Bayangkan jika para ulama, cendekiawan, dan pujangga masa lalu enggan menulis, mungkin kita tidak akan pernah mengenal karya-karya berharga mereka. Dari sinilah kita bisa belajar bahwa menulis bukan hanya aktivitas pribadi, tetapi juga tanggung jawab sosial dan kultural.

Di era digital saat ini, kesempatan untuk menulis semakin luas. Tidak lagi terbatas pada buku cetak, tulisan bisa hadir dalam bentuk artikel daring, blog, atau bahkan unggahan media sosial. Namun, di balik kemudahan itu, tantangan pun hadir. Terkadang tulisan digunakan untuk menyebarkan kebencian, fitnah, atau hal-hal yang merugikan banyak orang. Di sinilah pentingnya kembali ke niat awal: menulis sebagai amal kebaikan. Setiap kata yang kita sebarkan hendaknya dipertimbangkan dampaknya. Apakah ia membawa kebaikan? Apakah ia bisa menguatkan orang lain? Atau justru sebaliknya?

Menulis juga merupakan cara untuk meninggalkan jejak. Hidup manusia terbatas, tetapi tulisan bisa melampaui waktu. Ketika seorang penulis wafat, karyanya tetap bisa dibaca dan memberi manfaat. Bahkan, sering kali tulisan justru menemukan makna lebih besar setelah penulisnya tiada. Dalam hal ini, menulis benar-benar menjadi salah satu jalan untuk meraih keabadian dalam arti yang paling sederhana.

Namun, perjalanan menulis tidak selalu mulus. Ada kalanya penulis harus menghadapi kritik, bahkan penolakan. Hal ini wajar, sebab tidak semua orang akan setuju dengan apa yang kita tulis. Tetapi kritik bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari sanalah kita belajar untuk memperbaiki diri, menajamkan argumen, dan memperluas sudut pandang. Sama halnya dengan pelaut yang belajar membaca arah angin, penulis pun harus belajar membaca arah zaman.

Pada akhirnya, menulis adalah tentang keberanian untuk berbicara melalui tulisan. Keberanian untuk menuangkan ide, untuk mengekspresikan perasaan, dan untuk berbagi pengalaman. Bukan berarti penulis harus selalu sempurna, tetapi ia harus jujur. Kejujuran dalam menulis akan sampai ke hati pembaca.

Pantun yang menjadi titik awal refleksi ini sederhana, tetapi pesannya sangat luas. Ia mengingatkan kita bahwa hidup adalah perjalanan, menulis adalah bekal, dan tujuan akhirnya adalah kebaikan. Selama kita menulis dengan niat yang tulus, maka setiap kata akan menjadi bagian dari amal yang bernilai di sisi Tuhan.

Seperti pelaut yang berlayar jauh, kita pun sedang berlayar dalam samudra kehidupan. Setiap kata adalah dayung, setiap paragraf adalah layar, dan setiap tulisan adalah arah yang menuntun kita. Semoga, pada akhirnya, tulisan-tulisan yang kita tanam menjadi pohon kebaikan yang memberi teduh bagi banyak orang.

Senin, 25 Agustus 2025

Komitmen Menulis Blog



Topic: KBMN PGRI 33 Pertemuan ke-6: KOMITMEN MENULIS DI BLOG
Tanggal: 18 Agustus 2025, Pukul: 19.00 WIB
Melalui Zoom Meeting link rekaman 

Mengikuti kegiatan dibuktikan pada waktu 1 : 19 : 21 



Malam pada hari HUT KE-80 RI sungguh luar biasa karena biasanya pelatihan di WAG dialihkan ke zoom secara online. Ini tantangan untuk mengikutinya dengan berbagai halangan dalam mempelajari pengalaman senior dalam berbagi ilmu literasinya dengan segudang prestasi yang tidak dapat diragukan lagi. Dedi Dwitagama memiliki banyak tayangan presentasi ketika melakukan kegiatan selama masa pengabdiannya maupun setelah pemsiun. 

Ketika memulai penulisan yang paling sulit itu adalah mencoba. Apabila langkah ini telah dijalani, tahap berikutnya akan mudah dihadapai walau banyak yang akan menjadi rintangannya. Sebaiknya segala sesuatu itu dinikmati prosesnya, happy dan bersyukur dengan segala kegiatan yang dilakukan