Minggu, 07 September 2025

Menulis Puisi

 



Moderator: Mutmainah, M.Pd.
Narasumber: Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd.

Menulis puisi sering diibaratkan seperti menari dengan kata-kata. Ia bukan sekadar aktivitas menuangkan kalimat ke atas kertas, melainkan proses mengguratkan perasaan dengan bahasa yang indah, menyulam imajinasi dengan harmoni, serta menyuarakan jiwa melalui diksi yang lembut. Tidak heran jika banyak yang menyebut puisi sebagai bentuk ekspresi paling murni dan jujur. Di dalam bait-bait puisi, seseorang dapat menumpahkan perasaan terdalam, mencatat pengalaman hidup, bahkan menyingkap sisi otentik yang barangkali tak bisa diungkapkan melalui bahasa sehari-hari.

Dalam forum Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) ke-33, topik “Seni Menulis Puisi” diangkat sebagai materi utama. Pertemuan ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat, mempertemukan para insan kreatif yang memiliki tekad untuk terus menulis. Sebagai moderator, Emut Lebak mengawali dengan kalimat penuh energi, mengajak semua peserta untuk membuka hati, meluaskan imajinasi, serta berani mengungkapkan keindahan yang ada di dalam diri.

Malam itu terasa istimewa karena materi disampaikan oleh seorang tokoh yang sudah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan sekaligus literasi, yaitu Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd. atau akrab disapa Ibu Hasanah. Beliau lahir di Sukabumi pada 10 Agustus 1967, seorang ibu dari tiga anak yang mendedikasikan hidupnya bagi kemajuan pendidikan dan literasi bangsa. Saat ini, Ibu Hasanah bertugas sebagai Pengawas Madrasah Aliyah di Kantor Kementerian Agama Sukabumi, sekaligus mengajar sebagai dosen di STAI Kharisma Cicurug.

Perjalanan kariernya sarat dengan prestasi. Pada tahun 2021, beliau berhasil meraih predikat Pengawas Berprestasi Tingkat Jawa Barat. Di tahun yang sama, beliau juga menerima penghargaan bergengsi sebagai salah satu penerima Anugerah Guru dan GTK Kemenag Berprestasi Tingkat Nasional, khususnya dalam kategori Pengawas Madrasah Berprestasi. Prestasi ini tentu saja tidak diraih dengan instan. Selain menjalankan tugas pengawasan, beliau senantiasa aktif memberikan motivasi dan dorongan kepada para guru agar terus meningkatkan kualitas diri serta semangat literasi.

Semangat literasi inilah yang menjadi ciri khas perjalanan beliau. Sejak 2021, Ibu Hasanah telah produktif menulis, baik puisi, pantun, cerita, maupun artikel nonfiksi. Karya-karyanya terkumpul dalam lebih dari 70 buku antologi. Tidak heran jika beliau kini dianggap sebagai sosok inspiratif dalam dunia literasi, khususnya di kalangan madrasah.

Dalam sambutannya, Ibu Hasanah menyampaikan rasa terima kasih dan kebahagiaan karena kembali dapat membersamai para penulis hebat KBMN. Beliau menegaskan bahwa dirinya bukanlah seorang pujangga atau sastrawan, melainkan hanya seseorang yang mencintai puisi. Bahkan, kecintaannya terhadap puisi lahir berkat motivasi dari KBMN, yang kemudian mendorongnya untuk terus menulis hingga melahirkan buku.

Apa Itu Seni Menulis Puisi?

Salah satu bagian menarik dalam forum ini adalah ketika pertanyaan dilontarkan: “Apa itu seni menulis puisi?” Jika ditanyakan pada mesin pencari atau kecerdasan buatan seperti ChatGPT, jawabannya akan menjelaskan bahwa seni menulis puisi adalah proses kreatif menggunakan bahasa untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, dan pengalaman dalam bentuk yang indah serta ekspresif.

Puisi dibangun melalui pemilihan kata-kata yang cermat, struktur yang rapi, penggunaan metafora yang kuat, serta irama yang mampu membangkitkan emosi. Ada puisi yang terikat dengan rima dan ritme tertentu, tetapi ada juga puisi modern yang lebih bebas dalam bentuknya. Meski begitu, esensi utamanya tetap sama: menyampaikan makna mendalam melalui bahasa yang padat dan penuh daya pukau.

Ibu Hasanah kemudian memperjelas, bahwa puisi bukan hanya rangkaian kata, melainkan juga ruh dan daya getar batin. Puisi menghadirkan suara jiwa penyair, menghidupkan perasaan, dan kadang menjadi doa yang diam-diam terucap dalam keheningan.

Unsur Penting dalam Menulis Puisi

Dalam penjelasannya, Ibu Hasanah menekankan beberapa unsur yang perlu diperhatikan oleh penulis puisi:

  1. Tema – ide pokok atau pesan utama yang ingin disampaikan.

  2. Nada dan rasa – sikap penulis terhadap tema, bisa lembut, tajam, reflektif, atau bahkan satir.

  3. Amanat – pesan atau nilai yang hendak dititipkan kepada pembaca.

  4. Diksi dan gaya bahasa – pemilihan kata-kata yang khas, indah, serta penuh makna.

Selain itu, puisi juga diperkaya oleh imaji, metafora, serta majas yang memperindah makna. Rima dan ritme bisa menambah musikalitas, walau tidak selalu menjadi keharusan dalam puisi modern.

Mengapa Disebut Seni?

Menulis puisi disebut seni karena membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menulis. Ia menuntut kepekaan rasa, kreativitas, dan intuisi untuk menangkap keindahan yang tak kasat mata. Seni puisi terletak pada bagaimana penyair mampu mengubah pengalaman sederhana menjadi ungkapan yang sarat makna, sehingga pembaca merasakan keindahan, kesedihan, kerinduan, atau bahkan harapan yang sama.

KBMN sebagai Ruang Tumbuh

Dalam forum KBMN, suasana belajar selalu terasa hangat dan mendukung. Ibu Hasanah mengajak semua peserta untuk menulis secara bebas. Menurutnya, yang terpenting adalah “menulis, menulis, menulis” tanpa harus terlalu khawatir pada aturan. Tema boleh beragam, ekspresi boleh bebas, sebab yang utama adalah keberanian menuangkan isi hati.

Beliau bahkan memberikan tantangan kecil: dua puisi terbaik yang dihasilkan malam itu akan mendapatkan hadiah berupa buku puisi. Tantangan ini semakin menyemangati peserta untuk serius mengasah kreativitasnya.

Definisi Menurut Ahli

Untuk memperkaya pemahaman, Ibu Hasanah juga menyampaikan definisi puisi menurut KBBI dan pandangan ahli sastra H.B. Jassin. Keduanya menegaskan bahwa puisi adalah karya sastra tulis yang menggunakan bahasa indah, padat, dan penuh makna untuk menciptakan emosi mendalam. Definisi ini memperkuat bahwa puisi memang tidak sekadar rangkaian kata, melainkan karya seni yang hidup.

Penutup Penuh Keakraban

Di akhir pertemuan, suasana semakin akrab. Ibu Hasanah menyampaikan salam hormat kepada Om Jay, Bu Kanjeng, tim solid KBMN, serta semua sahabat yang hadir. Beliau menegaskan bahwa keberadaannya di forum ini bukan sekadar untuk mengajar, tetapi juga untuk saling belajar, berbagi, dan menguatkan.

Ucapan “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” menutup sesi dengan penuh kehangatan. Malam itu bukan hanya pertemuan biasa, tetapi menjadi ruang di mana kata-kata bertransformasi menjadi seni, di mana puisi bukan sekadar bacaan, melainkan napas kehidupan.


Kesimpulan

Resume ini menegaskan bahwa seni menulis puisi adalah keterampilan sekaligus panggilan hati. Ia menuntut keberanian, kreativitas, dan kepekaan rasa. Melalui puisi, seseorang dapat mengekspresikan isi jiwa dengan bahasa yang indah dan penuh makna.

Pertemuan KBMN 33 bersama Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd. tidak hanya membuka wawasan tentang teknik menulis puisi, tetapi juga menghadirkan inspirasi. Bahwa siapa pun, bahkan yang awalnya merasa bukan pujangga, bisa menjadi penulis puisi ketika ada motivasi, ruang belajar, dan semangat untuk terus menulis.

KBMN menjadi wadah yang membuktikan bahwa literasi bukan sekadar kegiatan membaca dan menulis, melainkan gerakan bersama untuk menghidupkan kata, merawat budaya, serta menumbuhkan generasi kreatif yang mencintai sastra.

Kamis, 04 September 2025

Berkarya & Berprestasi Lewat Menulis

 



Narasumber : Rita Wati, M.Kom

Menulis sering dianggap sekadar aktivitas menuangkan kata-kata ke dalam kertas atau layar. Namun, sejatinya menulis jauh lebih dalam dari itu. Ia adalah seni, terapi, bahkan jalan menuju prestasi. Setiap huruf yang terangkai menjadi jembatan antara ide dan dunia nyata. Melalui tulisan, gagasan yang tadinya hanya berdiam dalam pikiran bisa mengalir, membentuk makna, dan meninggalkan jejak yang abadi.

Seperti yang sering kita dengar, “Prestasi lahir dari karya, dan karya terbaik akan selalu menemukan jalannya menuju penghargaan.” Kalimat ini bukan sekadar slogan, tetapi terbukti nyata dalam perjalanan seorang guru inspiratif asal Bali, Ibu Ritawati. Dari menulis sederhana di buku harian, beliau mampu menjelma menjadi penulis produktif, narasumber nasional, dan sosok panutan dalam dunia literasi.

Awal Perjalanan: Dari Buku Harian ke Dunia Literasi

Perjalanan menulis Ibu Ritawati dimulai dengan sangat sederhana. Ia terbiasa menuliskan pengalaman sehari-hari dalam buku harian. Aktivitas itu menjadi ruang refleksi, cara untuk berdialog dengan diri sendiri, sekaligus merawat kenangan.

Seiring berkembangnya teknologi, beliau mulai membagikan tulisan melalui blog pribadi dan media sosial. Respon positif dari pembaca membuatnya semakin percaya diri. Tulisan yang lahir dari keseharian, sederhana, tetapi penuh makna, justru mampu menginspirasi banyak orang. Dari situlah keyakinannya tumbuh bahwa menulis bukan sekadar hobi, melainkan jalan untuk memberi manfaat.

Bagi beliau, menulis adalah terapi jiwa. Ia menemukan kesabaran, keikhlasan, dan energi positif dari setiap kata yang ditorehkan. Lebih dari itu, menulis membuka ruang baru untuk berkarya dan membangun jejaring.

Menulis sebagai Jalan Berkarya

Menulis bukan hanya soal merangkai kalimat, melainkan juga tentang menciptakan karya. Setiap tulisan adalah warisan intelektual yang bisa melampaui ruang dan waktu. Dengan pemahaman itu, Ibu Ritawati mulai aktif mengikuti berbagai pelatihan, lomba, hingga bergabung dalam komunitas literasi.


Dari proses tersebut, lahirlah banyak karya: artikel, blog, hingga buku antologi. Keikutsertaannya dalam Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) menjadi titik balik besar. Awalnya, ia hanya ingin meningkatkan keterampilan menulis. Namun siapa sangka, dari ruang belajar itu lahir prestasi yang membawa namanya dikenal luas.

Beliau belajar bahwa menulis adalah disiplin. Ide harus ditangkap, dituliskan, lalu dipoles menjadi karya yang layak dibaca. Dari hal-hal sederhana—sebuah pengalaman mengajar, peristiwa sehari-hari, atau kisah inspiratif—lahirlah tulisan yang memberi manfaat bagi banyak orang.

Prestasi demi Prestasi

Keteguhan hati membawa Ibu Ritawati pada banyak penghargaan. Ia pernah memenangkan lomba menulis esai tingkat nasional, dimuat di media massa, hingga terpilih sebagai Guru Inspiratif Kemendikbud tahun 2021. Prestasi itu baginya bukan tujuan utama, melainkan bonus dari konsistensi berkarya.

Berkat tulisannya, beliau juga mendapat kesempatan menjadi narasumber di berbagai seminar, mengisi lebih dari 40 presentasi, dan dipercaya sebagai kurator serta editor. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa menulis dapat mengangkat martabat seseorang, membuka pintu kesempatan, bahkan menghubungkan dengan jejaring internasional.

Tidak berhenti di sana, beliau berkesempatan mengikuti pelatihan virtual internasional, bergabung dengan komunitas guru ICT Asia Pasifik, hingga mengikuti kursus daring di Harvard University. Semua capaian itu bermula dari keberanian untuk menulis.

Inspirasi bagi Guru dan Generasi Muda

Sebagai guru Informatika di SMPN 2 Mendoyo, Jembrana-Bali, Ibu Ritawati selalu mendorong kolega dan siswanya untuk menulis. Menurutnya, guru yang menulis memiliki daya pengaruh lebih besar. Pengalaman mengajar tidak hanya berhenti di kelas, tetapi bisa terdokumentasi menjadi referensi bagi banyak orang.

Kepada generasi muda, beliau menekankan pentingnya membangun kebiasaan menulis sejak dini. Di tengah derasnya arus media sosial yang lebih sering menonjolkan hiburan instan, menulis adalah latihan berpikir kritis, berimajinasi, sekaligus belajar mengolah gagasan secara terstruktur.

Pesannya sederhana: “Jangan takut salah. Menulislah dulu. Kesalahan adalah guru terbaik, dan konsistensi akan melahirkan kualitas.”


Tantangan dan Rahasia Menulis

Dalam setiap sesi berbagi, Ibu Ritawati sering bertanya: apa alasan seseorang mengikuti pelatihan menulis? Jawaban yang muncul beragam—ada yang karena hobi, ingin naik pangkat, hingga sekadar ingin mencoba. Baginya, semua alasan itu sah. Yang terpenting adalah kemauan untuk menulis.

Namun, ia juga menyadari banyak orang kesulitan menulis. Beberapa alasan yang umum adalah kekurangan ide, miskin kosakata, sulit merangkai kata, atau tidak percaya diri. Untuk mengatasinya, beliau menawarkan rahasia sederhana:

  1. Tentukan motivasi menulis.

  2. Tuangkan ide tanpa memikirkan kesalahan terlebih dahulu.

  3. Latih menulis sedikit demi sedikit, mulai dari 100 kata per hari.

  4. Konsisten menulis setiap hari.

  5. Setelah terbiasa, kembangkan dengan peta konsep untuk proyek yang lebih besar.

  6. Ikutlah proyek antologi agar tumbuh kepercayaan diri.

Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya kaidah penulisan. Huruf kapital, tanda baca, kosakata baku, dan keteraturan paragraf harus diperhatikan agar tulisan nyaman dibaca. Menulis boleh bebas di awal, tetapi jangan lupa tahap revisi untuk memperindah karya.


Metode, Intuisi, dan Kreativitas

Dalam diskusi bersama peserta KBMN, sering muncul pertanyaan tentang metode menulis. Ibu Ritawati menjelaskan bahwa metode tergantung jenis tulisan. Tulisan ilmiah tentu memiliki aturan baku, sementara artikel populer lebih fleksibel.

Ia juga menekankan pentingnya revisi dan kreativitas. Revisi diperlukan agar tulisan lebih matang, sedangkan intuisi membantu menemukan “rasa” dalam tulisan. Kreativitas menjadikan tulisan hidup dan berbeda dari yang lain.

Bagi beliau, semua orang punya kekhasan masing-masing. Jangan takut jika tulisan terasa berbeda, karena justru perbedaan itulah yang membuat tulisan unik.

Menulis dengan Hati

Salah satu ciri khas karya Ibu Ritawati adalah kehangatan. Ia menulis dengan hati, sehingga tulisannya terasa jujur dan menyentuh. Menurutnya, tulisan yang ditulis dengan hati lebih mudah sampai ke hati pembaca.

Namun, menulis dengan hati bukan berarti tanpa logika. Justru paduan antara nurani dan nalar itulah yang menjadikan tulisan kaya makna. Dari situlah lahir karya yang bukan hanya indah dibaca, tetapi juga bermanfaat.


Penutup: Menulis sebagai Jalan Prestasi

Kisah Ibu Ritawati adalah bukti nyata bahwa menulis bisa membawa seseorang dari titik sederhana menuju pencapaian luar biasa. Dari sebuah buku harian, lahir karya yang menginspirasi ribuan orang. Dari keberanian berbagi, lahir prestasi yang membanggakan.

Pesan penting yang bisa kita petik adalah: jangan menunggu sempurna untuk mulai menulis. Kesempurnaan tidak akan datang tanpa proses. Tulisan yang baik lahir dari keberanian untuk memulai, konsistensi untuk menekuni, dan kerendahan hati untuk belajar.

Seperti kata beliau, tidak ada istilah penulis pemula. Selama ide yang dituangkan menarik dan bermanfaat, setiap orang bisa menjadi penulis hebat. Menulis bukan hanya jalan sunyi, tetapi juga jalan indah yang bisa mengubah diri sekaligus memberi arti bagi orang lain.

Dari Bali, Ibu Ritawati menunjukkan pada kita semua bahwa berkarya dan berprestasi lewat menulis bukanlah mimpi, melainkan kenyataan yang bisa diraih siapa saja—asal ada niat, semangat, dan konsistensi.

“Jangan menunggu sempurna untuk mulai menulis, karena tulisan yang baik lahir dari keberanian untuk memulai.” – J.K. Rowling