Pertemuan ke-9 Gelombang ke-33
Moderator: Muliadi
Narasumber: Prof. Dr. Ngainun Naim, M.Hi.
Awal Kegiatan
Acara malam itu dibuka dengan sapaan penuh semangat, diawali dengan pantun sederhana yang mencairkan suasana. Peserta diajak untuk memulai kegiatan dengan hati riang. Setelah itu, moderator Muliadi memperkenalkan tema yang diangkat: “Menulis Itu Mudah.” Tema ini terasa istimewa karena menyentuh persoalan yang hampir dialami oleh semua orang—bahwa menulis sering dianggap sebagai aktivitas sulit, padahal sesungguhnya bisa dilakukan siapa saja bila ada niat, konsistensi, dan keberanian untuk memulai.
Kegiatan kali ini terasa semakin berharga karena menghadirkan narasumber utama: Prof. Dr. Ngainun Naim, M.Hi., seorang akademisi, penulis produktif, sekaligus pegiat literasi nasional. Beliau sudah menulis banyak buku, artikel ilmiah, hingga catatan reflektif yang tersebar di berbagai media, baik cetak maupun digital. Pengalaman panjang beliau dalam menulis menjadikannya figur yang tepat untuk memberikan motivasi dan arahan praktis kepada para peserta.
Mengapa Menulis Itu Penting?
Di awal pemaparannya, Prof. Ngainun mengingatkan kembali tentang arti menulis. Menurut beliau, menulis bukan hanya sekadar aktivitas menggerakkan pena di atas kertas atau menekan tombol di papan ketik. Menulis adalah proses mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman hidup dengan cara yang unik.
Ada tiga manfaat utama menulis:
-
Menulis menata pikiran. Ide yang hanya berputar di kepala seringkali menguap begitu saja. Namun, ketika dituangkan dalam tulisan, ide menjadi nyata dan terdokumentasi.
-
Menulis adalah berbagi. Sebuah tulisan bisa dibaca kapan saja, bahkan bertahun-tahun setelah penulisnya tiada. Tulisan dapat menjadi inspirasi, penyemangat, bahkan warisan intelektual.
-
Menulis memperkaya diri. Melalui menulis, kita berdialog dengan diri sendiri, belajar memahami perasaan, memaknai pengalaman, sekaligus melatih pola pikir kritis dan kreatif.
Beliau menegaskan bahwa “Tulisan terbaik adalah tulisan yang selesai, bukan yang sempurna.” Artinya, jangan sampai rasa takut salah atau minder membuat seseorang berhenti menulis. Justru dengan terus menulis, keterampilan akan terasah, dan kualitas tulisan meningkat secara alami.
Menulis Itu Mudah, Jika…
Prof. Ngainun kemudian menjelaskan lima hal penting agar menulis terasa mudah:
-
Menulis hal yang dialami. Tulisan yang bersumber dari pengalaman pribadi cenderung lebih mudah disusun karena kita mengalaminya secara langsung. Contohnya, catatan ringan tentang acara keluarga atau perjalanan. Hal-hal sederhana itu bisa ditulis seperti sebuah buku harian, lalu dibagikan di blog.
-
Membiasakan diri menulis. Kebiasaan sering kali diawali dengan paksaan. Seperti anak kecil yang dipaksa berjalan atau berbicara bahasa tertentu. Begitu pula dengan menulis. Pada awalnya memang terasa berat, tetapi bila terus dilakukan, ia akan menjadi kebiasaan yang menyenangkan.
-
Menulis tema yang dikuasai. Guru misalnya, akan lebih mudah menulis tentang pendidikan. Dosen atau peneliti lebih nyaman menulis tentang riset atau pengabdian masyarakat. Jika seseorang menulis hal yang tidak ia kuasai, biasanya prosesnya lebih sulit.
-
Komitmen. Tanpa komitmen, menulis hanya menjadi cita-cita. Komitmen bisa dimulai dengan menyisihkan waktu khusus setiap hari, misalnya 20 menit. Konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar semangat sesaat.
-
Tidak mengejar kesempurnaan. Perfeksionisme justru sering menjadi penghambat. Yang penting adalah menyelesaikan tulisan, karena tulisan yang selesai akan memberi ruang untuk evaluasi dan perbaikan.
Tanya Jawab dengan Peserta
Sesi tanya jawab berlangsung hangat dan interaktif. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan penting terkait tantangan nyata dalam dunia menulis.
-
Dail (Banten) bertanya mengenai cara membangkitkan kembali semangat para penulis di portal Melintas yang sempat menurun karena kebijakan Google terhadap artikel berbasis AI. Prof. Ngainun menjawab bahwa AI hanyalah alat, bukan pengganti peran otak dan hati manusia. Menulis adalah pekerjaan kemanusiaan. Penulis sejati tidak akan patah semangat hanya karena berkurangnya pembaca. Tantangan ini justru harus dijadikan kesempatan untuk terus berkreasi secara jujur dan autentik.
-
Akhmad Sururi (Brebes) menanyakan bagaimana membiasakan diri menulis artikel ilmiah agar sesuai dengan kaidah jurnal. Prof. Ngainun menyarankan empat langkah: banyak membaca artikel jurnal, menikmati proses penulisan, memahami target jurnal dan polanya, serta belajar dari penolakan bila artikel ditolak.
-
Herlina bertanya tentang cara mengembangkan tema dan menggunakan deskripsi yang efektif. Prof. Ngainun menekankan pentingnya membuat peta sederhana sebelum menulis, lalu menguraikan setiap aspek dalam paragraf. Sementara untuk deskripsi, satu-satunya cara adalah terus berlatih.
-
Fazar A (Garut) menanyakan manfaat menulis, teknis menulis termudah, serta kemungkinan menulis di luar bidang yang dikuasai. Prof. Ngainun menjawab bahwa manfaat menulis sangat banyak, termasuk membuka jalan bagi karier akademik. Tidak ada teknis menulis yang paling mudah selain menjalani prosesnya. Dan menulis di luar bidang tetap bisa dilakukan asalkan didahului dengan riset serta kemauan belajar.
-
Yuyun Srimulyati mengajukan pertanyaan tentang mindset menulis jurnal yang dianggap sulit, validitas data, serta cara menghadapi kritik dari reviewer. Menurut Prof. Ngainun, memang benar menulis jurnal lebih sulit daripada artikel populer, tetapi bukan berarti tidak bisa. Validitas data harus dijaga dengan kejujuran, dan kritik dari reviewer sebaiknya ditanggapi segera, bukan ditunda, agar proses penerbitan lebih lancar.
Pelajaran Penting dari Prof. Ngainun
Dari penjelasan beliau, dapat disimpulkan beberapa poin utama:
-
Awalnya paksaan, akhirnya kebiasaan. Sesuatu yang berat pada awalnya, bila dilakukan terus-menerus, akan berubah menjadi kebiasaan yang ringan dan akhirnya kebutuhan.
-
Menulis itu kerja otak sekaligus hati. Mesin tidak bisa menggantikan sentuhan kemanusiaan yang ada dalam tulisan.
-
Tulisan adalah jejak abadi. Sekecil apapun tulisan, ia bisa menjadi inspirasi dan pengingat bagi generasi berikutnya.
-
Jangan takut gagal atau ditolak. Penolakan, kritik, atau sedikit pembaca bukan alasan berhenti menulis, melainkan kesempatan untuk belajar dan tumbuh.
Penutup
Moderator menutup acara dengan ucapan terima kasih kepada Prof. Ngainun atas ilmu, motivasi, dan inspirasinya. Para peserta diajak untuk menjadikan menulis sebagai bagian dari keseharian, bukan sekadar wacana. Menulis bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga jalan untuk memperkaya jiwa, berbagi kebaikan, dan meninggalkan warisan intelektual.
Pesan terkuat malam itu sederhana namun dalam: “Tulisan terbaik adalah tulisan yang selesai. Bukan yang sempurna.”
Semoga semangat ini menjadi pelecut bagi semua peserta untuk tidak lagi menunda, tidak takut salah, dan berani menulis dari hal-hal sederhana yang dialami sehari-hari.
Pantun sederhana ini sebenarnya menyimpan makna yang begitu dalam. Ia bukan sekadar permainan kata, melainkan sebuah ajakan untuk merenungkan perjalanan hidup, pentingnya menanam ilmu, dan bagaimana karya tulis yang kita hasilkan bisa menjadi warisan kebaikan yang tak lekang oleh waktu.
Ketika seseorang berlayar jauh, ia tidak hanya sedang melakukan perjalanan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Ia juga sedang menempuh perjalanan batin, menantang dirinya sendiri, menghadapi gelombang, dan mengasah ketahanan. Begitu pula dalam dunia menulis. Menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan. Ada hari-hari ketika ide meluap deras, namun ada pula waktu di mana kepala terasa kosong dan pena enggan bergerak. Seperti pelaut yang berjuang melawan badai, seorang penulis juga harus terus menempuh perjalanan meskipun sulit, karena di ujung layar selalu ada pelabuhan yang menanti.
Singgah sebentar membeli ikan dalam pantun tadi bisa kita maknai sebagai perhentian sejenak untuk mengumpulkan bekal. Dalam menulis, bekal itu berupa pengetahuan, pengalaman, dan pengamatan sehari-hari. Penulis yang baik bukan hanya mereka yang pandai berimajinasi, tetapi juga mereka yang mau membuka mata dan hati terhadap kenyataan hidup di sekitarnya. Dari percakapan singkat di pasar, dari senyum anak-anak di jalan, bahkan dari keluh kesah orang-orang di warung kopi, seorang penulis bisa menemukan bahan berharga untuk karyanya.
Ilmu menulis yang kita tanam tidak berbeda jauh dengan benih yang ditabur di tanah subur. Ia butuh perhatian, kesabaran, dan waktu untuk tumbuh. Seorang penulis pemula mungkin merasa canggung dengan tulisannya, merasa tidak percaya diri, atau khawatir tulisannya tidak layak dibaca orang lain. Namun, seperti benih yang kecil dan rapuh, jika terus disirami dan diberi cahaya, ia akan tumbuh menjadi tanaman yang kokoh. Menulis pun demikian. Setiap paragraf yang kita hasilkan, setiap halaman yang kita selesaikan, adalah bagian dari proses pertumbuhan itu.
Yang menarik dari pantun tersebut adalah penutupnya: semoga jadi amal kebaikan. Kalimat ini memberi arah sekaligus tujuan yang luhur. Menulis bukan sekadar mengejar popularitas, keuntungan finansial, atau pengakuan sosial. Menulis adalah tentang berbagi. Setiap tulisan yang lahir dari ketulusan hati bisa menjadi cahaya bagi orang lain. Tulisan yang memberi inspirasi, yang menguatkan semangat, atau yang menghibur di saat sedih, semuanya bisa bernilai amal jariyah. Bahkan, tulisan yang sederhana sekalipun—asal mengandung niat baik—dapat menjadi bekal pahala yang terus mengalir.
Mari kita lihat contoh sederhana. Bayangkan seorang guru menulis catatan kecil tentang pentingnya kejujuran, lalu catatan itu dibaca muridnya. Bertahun-tahun kemudian, murid itu tumbuh menjadi pribadi yang jujur dan amanah, bahkan mungkin mengajarkan nilai itu kepada anak cucunya. Bukankah itu artinya tulisan sang guru telah menjadi amal kebaikan yang abadi? Hal yang sama bisa terjadi dengan penulis mana pun. Kita tidak pernah tahu sejauh mana dampak tulisan kita menjangkau.
Perjalanan menulis juga sering kali penuh dengan pergulatan batin. Ada rasa takut dihakimi, rasa ragu apakah tulisan kita cukup berarti, dan rasa malas yang kadang mendera. Namun, jika kita mengingat bahwa setiap kata yang kita tulis bisa bernilai ibadah, maka perjalanan itu menjadi lebih ringan. Kita menulis bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk memberi manfaat kepada orang lain.
Sejarah mencatat, banyak peradaban besar bertahan karena tulisan. Ilmu-ilmu kuno bisa kita pelajari hari ini karena ada orang-orang yang menuliskannya. Bayangkan jika para ulama, cendekiawan, dan pujangga masa lalu enggan menulis, mungkin kita tidak akan pernah mengenal karya-karya berharga mereka. Dari sinilah kita bisa belajar bahwa menulis bukan hanya aktivitas pribadi, tetapi juga tanggung jawab sosial dan kultural.
Di era digital saat ini, kesempatan untuk menulis semakin luas. Tidak lagi terbatas pada buku cetak, tulisan bisa hadir dalam bentuk artikel daring, blog, atau bahkan unggahan media sosial. Namun, di balik kemudahan itu, tantangan pun hadir. Terkadang tulisan digunakan untuk menyebarkan kebencian, fitnah, atau hal-hal yang merugikan banyak orang. Di sinilah pentingnya kembali ke niat awal: menulis sebagai amal kebaikan. Setiap kata yang kita sebarkan hendaknya dipertimbangkan dampaknya. Apakah ia membawa kebaikan? Apakah ia bisa menguatkan orang lain? Atau justru sebaliknya?
Menulis juga merupakan cara untuk meninggalkan jejak. Hidup manusia terbatas, tetapi tulisan bisa melampaui waktu. Ketika seorang penulis wafat, karyanya tetap bisa dibaca dan memberi manfaat. Bahkan, sering kali tulisan justru menemukan makna lebih besar setelah penulisnya tiada. Dalam hal ini, menulis benar-benar menjadi salah satu jalan untuk meraih keabadian dalam arti yang paling sederhana.
Namun, perjalanan menulis tidak selalu mulus. Ada kalanya penulis harus menghadapi kritik, bahkan penolakan. Hal ini wajar, sebab tidak semua orang akan setuju dengan apa yang kita tulis. Tetapi kritik bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari sanalah kita belajar untuk memperbaiki diri, menajamkan argumen, dan memperluas sudut pandang. Sama halnya dengan pelaut yang belajar membaca arah angin, penulis pun harus belajar membaca arah zaman.
Pada akhirnya, menulis adalah tentang keberanian untuk berbicara melalui tulisan. Keberanian untuk menuangkan ide, untuk mengekspresikan perasaan, dan untuk berbagi pengalaman. Bukan berarti penulis harus selalu sempurna, tetapi ia harus jujur. Kejujuran dalam menulis akan sampai ke hati pembaca.
Pantun yang menjadi titik awal refleksi ini sederhana, tetapi pesannya sangat luas. Ia mengingatkan kita bahwa hidup adalah perjalanan, menulis adalah bekal, dan tujuan akhirnya adalah kebaikan. Selama kita menulis dengan niat yang tulus, maka setiap kata akan menjadi bagian dari amal yang bernilai di sisi Tuhan.
Seperti pelaut yang berlayar jauh, kita pun sedang berlayar dalam samudra kehidupan. Setiap kata adalah dayung, setiap paragraf adalah layar, dan setiap tulisan adalah arah yang menuntun kita. Semoga, pada akhirnya, tulisan-tulisan yang kita tanam menjadi pohon kebaikan yang memberi teduh bagi banyak orang.




