Senin, 25 Agustus 2025

Diksi dan Seni Bahasa



Diksi dan Seni Bahasa

Pertemuan kali ini mengangkat tema diksi sebagai jiwa bahasa. Diksi dipahami bukan sekadar pilihan kata, melainkan ruh yang mampu menghadirkan warna, rasa, dan makna dalam setiap tulisan. Dengan diksi yang tepat, kata-kata bisa mengungkapkan perasaan paling halus, menyampaikan pesan kuat, hingga meninggalkan kesan abadi.

Kelas dibuka dengan nuansa hangat: ajakan untuk bersandar sejenak dari penat, menenun ilmu, menyulam silaturahmi, sambil menikmati manis-pahit kehidupan layaknya secangkir kopi. Menulis dipandang sebagai cara mencatat sejarah, sebuah jejak bahwa kita pernah hadir di dunia ini.

Diksi dianalogikan seperti jatuh cinta: mampu membuat hidup lebih berwarna. Narasumber malam ini, Maydearly, yang dijuluki Ratu Diksi dari Lebak, Sunda, menunjukkan bagaimana kata bisa menari-nari di benak pembaca. Beliau mengingatkan bahwa menulis dengan hati akan melahirkan karya yang hidup dan penuh jiwa.

Materi utama menekankan pentingnya pancaindra dalam memperkaya diksi:

  • Sentuhan menghadirkan deskripsi fisik dan emosi.

  • Penciuman memberi nuansa memori dan atmosfer.

  • Perasa (taste) memperkuat imaji rasa dan perasaan.

  • Pendengaran menghadirkan suasana dan simbolisme suara.

Selain itu, dibahas pula perbedaan diksi dan majas. Diksi adalah pilihan kata, sementara majas adalah gaya bahasa. Keduanya saling melengkapi dalam puisi maupun tulisan lain.

Diskusi interaktif berlangsung dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Di antaranya tentang kebebasan dalam bentuk puisi, penggunaan rima, struktur puisi (fisik dan batin), hingga tips bagi pemula agar lebih piawai memilih kata. Jawaban menegaskan bahwa puisi bersifat bebas, rima tidak wajib, dan kekuatan puisi terletak pada diksi serta ekspresi.

Menjelang akhir sesi, Maydearly menekankan: “Diksi bukan sekadar kata, melainkan jendela rasa yang membuka jalan menuju keindahan makna.”

Kelas ditutup dengan ucapan syukur, doa, dan pesan bahwa diksi adalah nada dalam musik jiwa. Pertemuan malam ini bukan hanya belajar teori, melainkan juga merasakan bagaimana kata bisa hidup, memberi kesan, dan mengikat hati.



 

Senin, 18 Agustus 2025

Menulis Dongeng dan Cerita Fabel


Moderator    : Maesoroh, M.Pd.
Narasumber : Helwiyah, S.Pd., M.Pd.

Menulis dongeng bukan sekadar merangkai cerita, melainkan menanam benih keajaiban dalam hati pembaca. Fabel, misalnya, menjadi cermin kehidupan: hewan berbicara, manusia belajar, dan imajinasi tumbuh tanpa batas. Pena penulis ibarat tongkat sihir yang menghadirkan dunia baru sekaligus menyampaikan pesan moral.

Pengertian dan Ciri Dongeng
Dongeng adalah cerita fiksi yang bersifat imajinatif, biasanya sederhana, singkat, dan sarat makna.


Ciri khas dongeng antara lain:
  •  Mengandung pesan moral, hiburan, atau pendidikan.
  • Tokoh bisa berupa manusia, hewan, bahkan tumbuhan yang seolah hidup.
  • Latar waktu dan tempat tidak terbatas.
  • Alur cerita sederhana, biasanya dengan konflik dan solusi.
  • Bahasa bisa sederhana, namun menarik bila dirangkai indah.

Fungsi Dongeng 
Dongeng berperan penting dalam perkembangan imajinasi dan karakter anak. Ia menjadi media yang efektif untuk menanamkan nilai, memberi nasihat, sekaligus hiburan yang menyenangkan


Tips Menulis Dongeng
Beberapa hal yang disampaikan narasumber terkait proses menulis antara lain:
  • Menentukan judul: sebaiknya setelah cerita selesai, agar mewakili isi.
  • Menyusun alur: buat tujuan, lalu kembangkan konflik dan solusi.
  • Dialog: gunakan permainan kata agar cerita hidup.
  • Pesan moral: harus sampai dengan jujur, sederhana, dan sesuai usia pembaca.
  • Motivasi: berangkat dari dalam diri, menulis sebagai tantangan untuk mengasah kemampuan.
  • Tantangan utama: keberanian memulai dan mengatasi rasa ragu.
Pertanyaan Peserta & Jawaban Narasumber

  • Konflik dalam dongeng tidak harus masalah besar; cukup hal sederhana seperti rasa iri, kebohongan, atau kesedihan.
  • Keindahan bahasa lahir dari banyak membaca dan berlatih.
  • Rasa tidak percaya diri wajar, namun harus diatasi dengan keberanian memulai dan menerima kritik. Writer’s block bisa dihadapi dengan jeda sejenak lalu kembali menulis.
  • Isi dongeng harus sesuai sasaran pembaca, agar tidak sekadar “menghibur kosong” melainkan juga mendidik.
  •  Dongeng vs kisah nyata: dongeng bersifat fiktif, sedangkan kisah nyata bisa menjadi cerpen atau kisah inspiratif.
  •  Fabel untuk dewasa memungkinkan, meski jika sudah menyinggung isu sosial realistis ia lebih mendekati cerpen
  • Latar bisa nyata atau imajiner, tergantung kebutuhan cerita.
Penutup

Diskusi ditutup dengan pesan bahwa menulis dongeng adalah sarana menebar nilai kebaikan dengan cara menyenangkan. Setiap orang bisa memulainya tanpa harus menunggu sempurna. Kritik dan latihan akan membentuk keterampilan, dan yang terpenting adalah keberanian untuk terus berkarya.