Rabu, 25 Mei 2022

Peran EMASFILMED Memerdekakan Siswa

 


                   Tumpukan buku berjejer tidak beraturan di salah satu sudut meja.  Kertas hasil penilaian siswa bertebaran di setiap sisi buku. Kegiatan yang tidak luput dari evaluasi akan terus terjadi sampai penilaian yang dicapai.  Deretan angka-angka menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan langkah terbaik berikutnya.  Remedi dan pengayaan tidak luput dari proses tersebut. Itulah secuil suasana yang terjadi di kehidupan sehari-hari pahlawan tanpa jasa sebelum mengenal teknologi dalam mempermudah pembelajaran. Assesmen menjadi andalan baik of (akhir), for (untuk) dan as (sebagai) pembelajaran.

                Suasana sahdu mengiringi kegiatan penilaian setelah kegiatan proses pembelajaran. Berlanjut sepanjang waktu ketika siswa memasuki pembelajaran sampai akhir penilaian siswa. Mudah senangnya tidak luput dari peran yang dimainkan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Apakah perlu bermain peran sehingga hasil ataupun target tercapai? Berapa banyak peran yang harus dimainkan sehingga peserta didik merdeka belajar sehingga mereka bebas terus belajar dengan kompetensinya. Ada istilah EMASFILMED yang merupakan singkatan dari Educator, Manager, Administrator, Supervisor, Fasilitator, Inovator , Leader, Motivator, Evaluator dan Dinamisator. Itupun tidak luput dari filosofi Bapak Pendidikan Kihajar Dewantara yang sesuai dengan perkembangan zaman sekarang ini di


 


.               Sebagai educator merupakan salah satu peran yang pertama dan utama. Peran  sebagai teladan bagi peserta didik  berbentuk role model. Memberikan contoh dalam hal sikap dan tindakan  digugu dan ditiru, sehingga membentuk kepribadian peserta didik. Sebagai manager berperan dalam menegakkan ketentuan dan tata tertib yang telah disepakati sesuai ketentuan bersama di sekolah, memberikan arahan atau rambu-rambu agar tata tertib dapat dilaksanakan sesuai prosedur oleh skateholder. Sebagai administrator memiliki peran dalam melaksanakan administrasi sekolah, seperti presensi siswa, daftar nilai, administrasi penilaian, administrasi kurikulum, rencana pengajaran, program semester dan tahunan. Yang paling penting adalah laporan hasil pendidikan kepada orang tua siswa dan masyarakat. Sebagai supervisor berhubungan dengan peran pemberian bimbingan dan pengawasan kepada peserta didik, memahami permasalahan yang dihadapi peserta didik, menemukan permasalahan yang terkait dengan proses pembelajaran, dan akhirnya memberikan jalan keluar pemecahan masalahnya dalam pendidikan kelangsungan hidup..

 Sebagai fasilitator berhubungan dengan memberikan bantuan teknis, arahan, atau petunjuk kepada peserta didik. Peran sebagai inovator bila memiliki kemauan belajar yang mumpuni untuk menambah pengetahuan dan keterampilannya sebagai guru. Ketika tanpa adanya semangat belajar yang tinggi, mustahil guru dapat menghasilkan inovasi-inovasi pembaharuan dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. Sebagai leader memberikan kebebasan secara bertanggung jawab kepada peserta didik sehingga menjadi disiplin hidup dalam memimpin pembelajaran. Sebagai motivator dalam meningkatkan semangat dan gairah belajar yang tinggi. Siswa perlu memiliki motivasi baik dalam dirinya sendiri (intrinsik) maupun dari luar (ekstrinsik) yang berasal dari pembiasan gurunya. Sebagai evaluator berhubungan dengan menyusun instrumen penilaian pelaksanaan atau pun menilai hasil kegiatan peserta didik. Peran sebagai dinamisator dengan memberikan dorongan kepada siswa dalam menciptakan suasana lingkungan pembelajaran yang kondusif.

                Selayaknya emas yang merupakan salah satu logam mulia begitu juga  guru akan tetap mulia sepanjang masa. Mempunyai harga nilai yang tinggi. Tapi dari itu semuanya adalah bisa mengukur peran EMAS  dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru profesional yang mengacu pada 4 kompetensi yaitu pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial yang sesuai dengan UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Bertanya kepada diri sendiri sejauh mana peran EMAS mampu memerdekakan peserta didik  dalam pembelajaran sepanjang hayat.

Adapun jejak-jejak peran yang kita mainkan akan berdampak dalam menuntun peserta didik menjalani kehidupannya di masa depan. Merekalah penerus bangsa yang akan meneruskan langkah yang telah bergerak secara sinergi memajukan negeri. FILMED yang terekam dalam sanubari siswa membawa memori indah untuk dikenang selama hayat masih dikandung badan.  Bila peran yang kita mainkan selama merdeka belajar EMASFILMED dilaksanakan, betapa indahnya mutu pendidikan kedepannya. Ada bukti, ada karya, ada tindakan nyata bukan euforia atau pun angan-angan belaka. Bila ingin cepat, berjalanlah sendirian. Bila perjalanan  mempunyai jarak atau rentang waktu yang cukup jauh maka bergeraklah bersama-sama. Bila  peran  telah dimainkan maka apresiasi akan terlihat dengan sendirinya. Merdeka belajar, mengajar dan berbagi dalam kolaborasi yang serentak bergerak yang beroreantasi kepada siswa. Semangat merdeka belajar.

Minggu, 17 April 2022

Guru Literat Aktor Pembangun Negeri

           Berdasarkan indikator literasi Progress in International Reading Literacy Studies (PIRLS) Indonesia berada pada peringkat ke-42 dari 45 negara pada tahun 2011.  Memberi gambaran kepada pemerhati pendidikan tentang daya literasi bangsa di mata dunia. Sebegitukah urutan literasi Indonesia? Kemana saja jiwa merdeka berliterasi membangun negeri memperjuangkan kemerdekaan bangsa sebagaimana memperebutkan kemerdekaan dari penjajahan?.

Literasi bukanlah kata asing bagi bangsa yang berakar pada budaya negeri.  Dikutip dari KBBI literasi merupakan suatu kemampuan dari individu untuk mengolah sebuah informasi dan pengetahuan atau wawasan serta kecakapan hidup. Hadir dalam ranah kehidupan di setiap sudut negeri. Memberi ruh kepada insan yang haus akan ilmu kehidupan. Kepada guru sebagai agen sosial yang diminta oleh masyarakat untuk memberikan bantuan kepada warga yang akan dan sedang berada di bangku sekolah meningkatkan literasi.  Terkadang ada kata yang teruntai ‘berilah aku guru yang HEBAT (Hadapi tantangan, Energi maksimal, Bangun motivasi, Ambil kesempatan dan Teguh berprinsip) literasi, yang dengan kurikulum yang jelek sekalipun akan dapat dihasilkan lulusan yang hebat literasi’.

Literat dapat ditandai bila seseorang sudah kompeten dan cakap dalam beradaptasi, berfikir positif dan membicarakan solusi. Guru literat  mampu mengurai data yang beredar di kancah dunia menjadi rumus meningkatkan literasi. Menciptakan karya yang tidak lekang oleh waktu. Buku cetak maupun digital. Konten inspiratif dan karya digital lainnya. Perhitungan yang dapat ditingkatkan yaitu indikator Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca). Pada tahun 2019 Litbang Kemendikbud menyatakan tingkat aktivitas literasi berjumlah 37,32 % yang berarti pada posisi rendah. Komponen kegiatannya terbentuk atas empat indeks dimensi; kecakapan 75,92%, akses 23, 09%, alternatif 40, 49 % dan budaya 28,50 %. Sehingga guru literat dapat memperdayakan keadaan atas dasar kesadaran belajar, kemampuan memahami realita, dan mampu menstranformasikan pikiran ke dalam tindakan nyata di Era society 5.0. dimana kita ketahui bersama bahwa kemampuan membaca merupakan fondasi dari pembangunan kualitas bangsa.

Sebagai seorang guru yang memiliki kompetensi pada bidang  yang diampunya di satuan pendidikan, perlu menguasai 6 literasi dasar; baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial serta budaya dan kewarganegaraan. Salah satunya  menguasai literasi digital. Pada tahun 2020, Indek Keberadaan Digital (Digital Civility Index) Indonesia adalah salah satu yang terburuk di dunia, urutan 29 dari 32 Negara, dan yang paling buruk di asia Tenggara berdasarkan hasil Microsoft Indonesia Mews Center, 11 Feb 2020. Dari data tersebut memberikan gambaran bahwa dimanakah posisi guru dalam data tersebut, bila gurunya gagap dalam mengakses, memanfaatkan, mendistribusikan dalam pengunaan perangkat teknologi, informasi dan komunikasi.  

Sumber yang berasal dari BPS (2022) dan Kominfo  (2020) dapat di analisa bahwa akses masyarakat ke teknologi informasi semakin meningkat, namun tidak diikuti oleh kemampuan memilah informasi. Dibuktikan dengan lima tahun terakhir, akses masyarakat terhadap Teknologi Informassi dan Komunikasi  (TIK) meningkat sangat pesat. Proporsi masyarakat usia 15-19 dengan keterampilan TIK meningkat dari 27,04% (2015) menjadi 64,26 % (2020). Meski demikian, masih terdapat isu kesenjangan antarwilayah di mana pada tahun 2020 terdapat wilayah dengan proporsi masyarakat yang memiliki keterampilan TIK sebesar 30,93%. Inovasi Teknologi Digital diperlukan sebagai upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengakses, mengelola, serta memanfaatkan informasi dan pengetahuan untuk peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan.

 Masyarakat berpengetahuan atau masyarakat literat menjadi fondasi sosial yang sangat kokoh untuk mendorong proses transformasi masyarakat menuju kehidupan yang sejahtera serta mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki watak kosmopolitanisme dan berkarakter dalam budaya literasi. Seorang guru yang merupakan bagian dari tokoh masyarakat menjadi tolak ukur dalam meningkatkan literasi bangsa. Hal ini sekaligus menyampaikan visi Presiden periode 2020-2024, yaitu: “Terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong melalui penguatan budaya literasi”.

Hal ini bisa kita lihat dari berbagai negara seperti Jepang yang menempati peringkat paling tinggi dalam hal literasi dan numerasi, namun lebih dari 20% penduduk dewasa dengan kemahiran paling tinggi justru tidak ada di pasar kerja. Norwegia hanya 9% penduduk dewasa yang mahir literasi dan numerasi yang tidak ada di pasar kerja. Begitu juga dengan Italia lebih serius lagi, kurang dari 5% angkatan kerja yang mahir literasi dan numerassi, 1 dari 4 orang tidak tercatat berada di pasar kerja dan 5% yang lainnya menganggur berdasarkan sumber OECD, Skilled for life? Key Findings From The Survey of Adult Skills (2013).

Melirik  dari sumber https://knowledge4all.com/country-profile?Countryld=1054

di atas. Indonesia memiliki kinerja yang moderat di dalam kapasitas ilmu pengetahuan. Meraih peringkat ke-87 dari 154 negara dalam Global Knowledge Index 2021. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu melakukan upaya peningkatan kapasitas di bidang pengetahuan melalui berbagai strategi program dan kegiatan yang tepat, termasuk pengembangan akses teknologi informassi dan penguatan literasi baru.

Menyingkapi data tersebat berbagai inovasi yang lahir di revolusi industry 4.0 mempercepat perubahan pembelajaran dari kelas konvensional menjadi hybrid learning/ blended learning atau kelas campuran. Percepatan terjadi dikala kondisi Covid-19 mengguncang dunia. Sanggup tak sanggup guru dipaksa merubah pola nyaman untuk mempelajari inovasi pembelajaran. LIterasi digital menjadi alternatif tersendiri dalam menguasai inovasi pembelajaran. Berkah yang tidak dapat diukur ketika guru mengambil peluang untuk meningkatkan kompetensi dengan berbagai pelatihan dan sejenisnya pada masa itu. Mereka menerima berbagai input pemahaman kedalam pikirannya. Menyerap informasi untuk memilah dan memilih keputusan terbaik yang mudah digunakan serta berorientasi pada siswa.

Guru yang melek teknologi sanggup menerapkan pola keterampilan abad 21 Creativity, Critical Thinking, Communication, dan Collaboration  (4C) secara maksimal. Terus berinovasi mencipta dan berkarya. Banyak terobosan baru muncul selama kondisi covid melanda. Merubah semua paradigma berpikir pemangku kepentingan pendidikan. Muncul guru literat yang terus berprestasi menunjukan kemampuannya. Keluar dari sekat-sekat yang membelenggu menjadi hamparan luas tanpa batas meningkatkan karirnya (penulis, blogger, youtuber, enterpreneur dll). Memunculkan nama-nama baru kepermukaan menatap perubahan pendidikan masa depan.

Terbuka lebarnya pemanfaatan OER Open Educational Resources dalam kegiatan pembelajaran  menemukan informasi memberdekakan guru menerima input pengetahuan dari segala arah. Guru yang sejatinya manusia yang tidak pernah berhenti belajar terus bermetamorfosa mencerminkan hakikat pembelajar dari ajaran bapak pendidikan Ki hajar Dewantara. Ketika teknologi berperan penting dalam perekonomian dan aneka jenis pekerjaan yang memerlukan kemampuan analisis dan keterampilan komunikasi, ada korelassi positif antara kemampuan literasi (reading skills) dan produktivitas tinggi.

Bagi seorang guru dalam membangun negeri tidak harus selalu dengan upaya yang besar, tetapi  cukup dengan  meningkatkan kompetensi yang berasal dari dalam diri individu untuk terus berkembang. Jejak perjuangan sekarang akan tampak bila sudah melangkah lebih jauh. Berdiri sendiri tanpa melangkah karena takut bergerak tidak akan membuat bumi berhenti berputar. Teruslah melangkah sedikit demi sedikit. Awal besar dimulai dari langkah permulaan. Sekarang belum terlambat untuk maju sebab bangsa yang maju adalah bangsa pembaca.