Rabu, 10 September 2025

Proofreading sebelum Menerbitkan Tulisan


Moderator : Sigid Purwo Nugroho, S.H.
Narasumber : Susanto, S.Pd.

Pada kesempatan kali ini, kegiatan rutin KBMN PGRI kembali menghadirkan ruang belajar bersama yang inspiratif. Acara berlangsung pada malam hari mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB, dan sebagaimana biasanya, kegiatan dibagi menjadi empat sesi utama: pembukaan, paparan narasumber, tanya jawab, serta penutup.

Acara dipandu oleh Sigid Purwo Nugroho, alumni KBMN PGRI Gelombang 23 sekaligus anggota Tim Solid Om Jay (TSO). Beliau bertugas sebagai moderator yang memandu jalannya kegiatan, menyapa peserta, serta memastikan setiap sesi berjalan lancar. Sebelum memasuki materi inti, doa bersama dipanjatkan agar kegiatan ini mendatangkan keberkahan, manfaat, serta dicatat sebagai amal kebaikan.

Narasumber dan Materi

Pada malam ini, peserta ditemani oleh narasumber inspiratif, yakni Bapak Susanto, S.Pd., yang akrab disapa “PakD Sus”. Beliau adalah seorang penulis sekaligus pembicara yang kerap berbagi pengalaman serta pengetahuan seputar dunia kepenulisan.

Tema yang diangkat malam ini adalah “Proofreading: Menjadi Editor Profesional untuk Tulisan Kita Sendiri”. Seperti yang dijelaskan moderator, materi ini tidak bertujuan menjadikan peserta editor profesional layaknya mereka yang bekerja di penerbit besar. Namun, peserta didorong untuk mampu menjadi editor bagi karya sendiri sebelum diserahkan kepada pembaca.

Ide dan Proses Menulis

Dalam pemaparan awal, PakD Sus mengingatkan bahwa setiap tulisan selalu berawal dari ide. Ide bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, baik puisi, cerpen, novel, esai, artikel motivasi, maupun karya nonfiksi lainnya. Ketika penulis menuangkan ide menjadi teks, ia telah memulai proses kreatif yang menuntut teknik, keunikan gaya, dan ketekunan.

Sebuah tulisan dinyatakan selesai jika gagasan yang ingin disampaikan sudah terakomodasi secara utuh. Apabila tulisan masih menggantung, berhenti di tengah jalan, atau bahkan hanya sekadar angan-angan, maka itu belum bisa disebut selesai.

Namun, menyelesaikan tulisan bukanlah tahap akhir. Ada satu langkah penting yang tidak boleh dilupakan: proofreading.

Apa itu Proofreading?

Proofreading adalah kegiatan membaca ulang sebuah teks secara cermat dengan tujuan menemukan dan memperbaiki kesalahan sebelum tulisan dipublikasikan. Inilah tahap paling akhir dalam proses menulis.

Seringkali penulis melewatkan detail kecil, seperti ejaan, tanda baca, atau tata bahasa, karena terlalu fokus pada isi. Ada pula penulis yang sengaja melanggar kaidah dengan alasan “ah, hanya salah huruf saja”. Padahal, detail mikro seperti itu justru penting, terlebih dalam penulisan ilmiah maupun publikasi online yang menuntut standar kebahasaan tinggi.

Kesalahan yang dikoreksi dalam proofreading meliputi:

  1. Tata bahasa dan ejaan.

  2. Keterbacaan dan kejelasan kalimat.

  3. Kesesuaian dengan topik dan tema tulisan.

Proofreading pada dasarnya adalah bentuk tanggung jawab penulis terhadap karyanya sendiri, agar pembaca mendapatkan pengalaman membaca yang baik tanpa hambatan.

Diskusi dan Tanya Jawab

Sesi diskusi berlangsung hangat dengan beragam pertanyaan dari peserta.

1. Sukarno dari Makassar
Beliau mengungkapkan kebingungannya: bagaimana bisa melakukan proofreading jika belum yakin benar atau salahnya tulisan? Moderator menanggapi dengan saran praktis: tinggalkan tulisan sejenak, lalu baca kembali di lain waktu. Jarak waktu akan membantu penulis lebih jernih melihat kesalahan. Alternatif lain, serahkan tulisan kepada orang lain untuk dikoreksi, tentu dengan konsekuensi bahwa gaya bahasa bisa sedikit berubah sesuai pembaca kedua.

2. Yuyun dari Sumedang
Dengan cara puitis, beliau bertanya mengenai tiga hal:

  • Bagaimana jika kalimat ambigu tetapi puitis?

  • Apakah ada standar mutlak untuk menilai teks sempurna?

  • Apakah proofreader berhak mengoreksi isi teks?

Jawaban moderator menekankan bahwa tujuan tulisan harus diperhatikan. Jika puisi, maka kaidah bisa lebih longgar. Untuk standar, penulis bisa merujuk pada EYD V, KBBI daring, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, serta pedoman pembentukan istilah. Adapun proofreader memang berwenang mengoreksi, tetapi untuk hal substansi sebaiknya dikonfirmasi kepada penulis.

3. Umi dari Kebumen
Beliau penasaran dengan Ruang Jurnal, platform yang disampaikan narasumber. Dijelaskan bahwa Ruang Jurnal merupakan perusahaan penyedia layanan penyusunan hingga penerbitan jurnal, termasuk konversi disertasi dan penelitian. Layanan ini berorientasi pada profit, namun tetap bisa menjadi solusi bagi penulis akademik.

4. NDY dari Bogor
Pertanyaan berikutnya menyinggung penggunaan alat bantu proofreading digital seperti Grammarly atau AI. Apakah lumrah mengandalkan teknologi? Moderator menjawab bahwa teknologi memang hanya alat bantu. AI bisa mempercepat kerja, tetapi tetap harus divalidasi oleh ilmu dan intuisi penulis. Tanpa itu, hasil bisa membingungkan. Penggunaan teknologi harus seimbang: membantu, bukan menggantikan sepenuhnya.

5. Fazar Azhari dari Garut
Pertanyaan terakhir menyentuh topik menulis jurnal agar mudah tembus SINTA. Narasumber menekankan bahwa hal ini membutuhkan pemahaman sistematika penulisan akademik dan konsistensi. Fazar juga diarahkan untuk mengikuti pelatihan menulis jurnal, baik gratis maupun berbayar, serta aktif mengirimkan tulisan ke penerbit indie.

Catatan Penting dari Narasumber

Dari seluruh rangkaian kegiatan, ada beberapa poin utama yang menjadi catatan penting:

  • Proofreading adalah tahap akhir menulis yang tidak boleh dilewatkan.

  • Kesalahan kecil sekalipun bisa mengurangi kualitas tulisan.

  • Penulis perlu membiasakan diri membaca ulang dan menyempurnakan karyanya.

  • Alat bantu teknologi dapat digunakan, tetapi intuisi dan pemahaman bahasa tetap nomor satu.

  • Dalam karya sastra, proofreader perlu berhati-hati agar tidak mengurangi keindahan artistik teks.

Kesimpulan

Kegiatan literasi malam ini menunjukkan betapa pentingnya langkah kecil bernama proofreading. Meskipun sering dianggap sepele, praktik ini justru menjadi pembeda antara tulisan biasa dan tulisan berkualitas.

Penulis bukan hanya dituntut kreatif dalam melahirkan ide, tetapi juga bertanggung jawab menjaga mutu bahasa. Proofreading adalah cermin kedisiplinan, kesungguhan, sekaligus bentuk penghormatan kepada pembaca.

Dari diskusi ini, peserta memperoleh wawasan praktis: meninggalkan tulisan sejenak untuk dibaca ulang, menggunakan sumber resmi bahasa Indonesia, memanfaatkan teknologi secara bijak, hingga memahami konteks sastra dan akademik. Semua itu menjadi bekal agar karya yang lahir bukan sekadar selesai, melainkan layak untuk dipublikasikan.

Acara ditutup dengan rasa syukur atas ilmu yang dibagikan, disertai harapan agar semangat menulis peserta semakin tumbuh. Kegiatan ini bukan hanya forum belajar, tetapi juga ruang kebersamaan, saling mendukung, dan memperkuat jejaring literasi Nusantara.


 

Minggu, 07 September 2025

Menulis Puisi

 



Moderator: Mutmainah, M.Pd.
Narasumber: Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd.

Menulis puisi sering diibaratkan seperti menari dengan kata-kata. Ia bukan sekadar aktivitas menuangkan kalimat ke atas kertas, melainkan proses mengguratkan perasaan dengan bahasa yang indah, menyulam imajinasi dengan harmoni, serta menyuarakan jiwa melalui diksi yang lembut. Tidak heran jika banyak yang menyebut puisi sebagai bentuk ekspresi paling murni dan jujur. Di dalam bait-bait puisi, seseorang dapat menumpahkan perasaan terdalam, mencatat pengalaman hidup, bahkan menyingkap sisi otentik yang barangkali tak bisa diungkapkan melalui bahasa sehari-hari.

Dalam forum Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) ke-33, topik “Seni Menulis Puisi” diangkat sebagai materi utama. Pertemuan ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat, mempertemukan para insan kreatif yang memiliki tekad untuk terus menulis. Sebagai moderator, Emut Lebak mengawali dengan kalimat penuh energi, mengajak semua peserta untuk membuka hati, meluaskan imajinasi, serta berani mengungkapkan keindahan yang ada di dalam diri.

Malam itu terasa istimewa karena materi disampaikan oleh seorang tokoh yang sudah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan sekaligus literasi, yaitu Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd. atau akrab disapa Ibu Hasanah. Beliau lahir di Sukabumi pada 10 Agustus 1967, seorang ibu dari tiga anak yang mendedikasikan hidupnya bagi kemajuan pendidikan dan literasi bangsa. Saat ini, Ibu Hasanah bertugas sebagai Pengawas Madrasah Aliyah di Kantor Kementerian Agama Sukabumi, sekaligus mengajar sebagai dosen di STAI Kharisma Cicurug.

Perjalanan kariernya sarat dengan prestasi. Pada tahun 2021, beliau berhasil meraih predikat Pengawas Berprestasi Tingkat Jawa Barat. Di tahun yang sama, beliau juga menerima penghargaan bergengsi sebagai salah satu penerima Anugerah Guru dan GTK Kemenag Berprestasi Tingkat Nasional, khususnya dalam kategori Pengawas Madrasah Berprestasi. Prestasi ini tentu saja tidak diraih dengan instan. Selain menjalankan tugas pengawasan, beliau senantiasa aktif memberikan motivasi dan dorongan kepada para guru agar terus meningkatkan kualitas diri serta semangat literasi.

Semangat literasi inilah yang menjadi ciri khas perjalanan beliau. Sejak 2021, Ibu Hasanah telah produktif menulis, baik puisi, pantun, cerita, maupun artikel nonfiksi. Karya-karyanya terkumpul dalam lebih dari 70 buku antologi. Tidak heran jika beliau kini dianggap sebagai sosok inspiratif dalam dunia literasi, khususnya di kalangan madrasah.

Dalam sambutannya, Ibu Hasanah menyampaikan rasa terima kasih dan kebahagiaan karena kembali dapat membersamai para penulis hebat KBMN. Beliau menegaskan bahwa dirinya bukanlah seorang pujangga atau sastrawan, melainkan hanya seseorang yang mencintai puisi. Bahkan, kecintaannya terhadap puisi lahir berkat motivasi dari KBMN, yang kemudian mendorongnya untuk terus menulis hingga melahirkan buku.

Apa Itu Seni Menulis Puisi?

Salah satu bagian menarik dalam forum ini adalah ketika pertanyaan dilontarkan: “Apa itu seni menulis puisi?” Jika ditanyakan pada mesin pencari atau kecerdasan buatan seperti ChatGPT, jawabannya akan menjelaskan bahwa seni menulis puisi adalah proses kreatif menggunakan bahasa untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, dan pengalaman dalam bentuk yang indah serta ekspresif.

Puisi dibangun melalui pemilihan kata-kata yang cermat, struktur yang rapi, penggunaan metafora yang kuat, serta irama yang mampu membangkitkan emosi. Ada puisi yang terikat dengan rima dan ritme tertentu, tetapi ada juga puisi modern yang lebih bebas dalam bentuknya. Meski begitu, esensi utamanya tetap sama: menyampaikan makna mendalam melalui bahasa yang padat dan penuh daya pukau.

Ibu Hasanah kemudian memperjelas, bahwa puisi bukan hanya rangkaian kata, melainkan juga ruh dan daya getar batin. Puisi menghadirkan suara jiwa penyair, menghidupkan perasaan, dan kadang menjadi doa yang diam-diam terucap dalam keheningan.

Unsur Penting dalam Menulis Puisi

Dalam penjelasannya, Ibu Hasanah menekankan beberapa unsur yang perlu diperhatikan oleh penulis puisi:

  1. Tema – ide pokok atau pesan utama yang ingin disampaikan.

  2. Nada dan rasa – sikap penulis terhadap tema, bisa lembut, tajam, reflektif, atau bahkan satir.

  3. Amanat – pesan atau nilai yang hendak dititipkan kepada pembaca.

  4. Diksi dan gaya bahasa – pemilihan kata-kata yang khas, indah, serta penuh makna.

Selain itu, puisi juga diperkaya oleh imaji, metafora, serta majas yang memperindah makna. Rima dan ritme bisa menambah musikalitas, walau tidak selalu menjadi keharusan dalam puisi modern.

Mengapa Disebut Seni?

Menulis puisi disebut seni karena membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menulis. Ia menuntut kepekaan rasa, kreativitas, dan intuisi untuk menangkap keindahan yang tak kasat mata. Seni puisi terletak pada bagaimana penyair mampu mengubah pengalaman sederhana menjadi ungkapan yang sarat makna, sehingga pembaca merasakan keindahan, kesedihan, kerinduan, atau bahkan harapan yang sama.

KBMN sebagai Ruang Tumbuh

Dalam forum KBMN, suasana belajar selalu terasa hangat dan mendukung. Ibu Hasanah mengajak semua peserta untuk menulis secara bebas. Menurutnya, yang terpenting adalah “menulis, menulis, menulis” tanpa harus terlalu khawatir pada aturan. Tema boleh beragam, ekspresi boleh bebas, sebab yang utama adalah keberanian menuangkan isi hati.

Beliau bahkan memberikan tantangan kecil: dua puisi terbaik yang dihasilkan malam itu akan mendapatkan hadiah berupa buku puisi. Tantangan ini semakin menyemangati peserta untuk serius mengasah kreativitasnya.

Definisi Menurut Ahli

Untuk memperkaya pemahaman, Ibu Hasanah juga menyampaikan definisi puisi menurut KBBI dan pandangan ahli sastra H.B. Jassin. Keduanya menegaskan bahwa puisi adalah karya sastra tulis yang menggunakan bahasa indah, padat, dan penuh makna untuk menciptakan emosi mendalam. Definisi ini memperkuat bahwa puisi memang tidak sekadar rangkaian kata, melainkan karya seni yang hidup.

Penutup Penuh Keakraban

Di akhir pertemuan, suasana semakin akrab. Ibu Hasanah menyampaikan salam hormat kepada Om Jay, Bu Kanjeng, tim solid KBMN, serta semua sahabat yang hadir. Beliau menegaskan bahwa keberadaannya di forum ini bukan sekadar untuk mengajar, tetapi juga untuk saling belajar, berbagi, dan menguatkan.

Ucapan “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” menutup sesi dengan penuh kehangatan. Malam itu bukan hanya pertemuan biasa, tetapi menjadi ruang di mana kata-kata bertransformasi menjadi seni, di mana puisi bukan sekadar bacaan, melainkan napas kehidupan.


Kesimpulan

Resume ini menegaskan bahwa seni menulis puisi adalah keterampilan sekaligus panggilan hati. Ia menuntut keberanian, kreativitas, dan kepekaan rasa. Melalui puisi, seseorang dapat mengekspresikan isi jiwa dengan bahasa yang indah dan penuh makna.

Pertemuan KBMN 33 bersama Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd. tidak hanya membuka wawasan tentang teknik menulis puisi, tetapi juga menghadirkan inspirasi. Bahwa siapa pun, bahkan yang awalnya merasa bukan pujangga, bisa menjadi penulis puisi ketika ada motivasi, ruang belajar, dan semangat untuk terus menulis.

KBMN menjadi wadah yang membuktikan bahwa literasi bukan sekadar kegiatan membaca dan menulis, melainkan gerakan bersama untuk menghidupkan kata, merawat budaya, serta menumbuhkan generasi kreatif yang mencintai sastra.

Kamis, 04 September 2025

Berkarya & Berprestasi Lewat Menulis

 



Narasumber : Rita Wati, M.Kom

Menulis sering dianggap sekadar aktivitas menuangkan kata-kata ke dalam kertas atau layar. Namun, sejatinya menulis jauh lebih dalam dari itu. Ia adalah seni, terapi, bahkan jalan menuju prestasi. Setiap huruf yang terangkai menjadi jembatan antara ide dan dunia nyata. Melalui tulisan, gagasan yang tadinya hanya berdiam dalam pikiran bisa mengalir, membentuk makna, dan meninggalkan jejak yang abadi.

Seperti yang sering kita dengar, “Prestasi lahir dari karya, dan karya terbaik akan selalu menemukan jalannya menuju penghargaan.” Kalimat ini bukan sekadar slogan, tetapi terbukti nyata dalam perjalanan seorang guru inspiratif asal Bali, Ibu Ritawati. Dari menulis sederhana di buku harian, beliau mampu menjelma menjadi penulis produktif, narasumber nasional, dan sosok panutan dalam dunia literasi.

Awal Perjalanan: Dari Buku Harian ke Dunia Literasi

Perjalanan menulis Ibu Ritawati dimulai dengan sangat sederhana. Ia terbiasa menuliskan pengalaman sehari-hari dalam buku harian. Aktivitas itu menjadi ruang refleksi, cara untuk berdialog dengan diri sendiri, sekaligus merawat kenangan.

Seiring berkembangnya teknologi, beliau mulai membagikan tulisan melalui blog pribadi dan media sosial. Respon positif dari pembaca membuatnya semakin percaya diri. Tulisan yang lahir dari keseharian, sederhana, tetapi penuh makna, justru mampu menginspirasi banyak orang. Dari situlah keyakinannya tumbuh bahwa menulis bukan sekadar hobi, melainkan jalan untuk memberi manfaat.

Bagi beliau, menulis adalah terapi jiwa. Ia menemukan kesabaran, keikhlasan, dan energi positif dari setiap kata yang ditorehkan. Lebih dari itu, menulis membuka ruang baru untuk berkarya dan membangun jejaring.

Menulis sebagai Jalan Berkarya

Menulis bukan hanya soal merangkai kalimat, melainkan juga tentang menciptakan karya. Setiap tulisan adalah warisan intelektual yang bisa melampaui ruang dan waktu. Dengan pemahaman itu, Ibu Ritawati mulai aktif mengikuti berbagai pelatihan, lomba, hingga bergabung dalam komunitas literasi.


Dari proses tersebut, lahirlah banyak karya: artikel, blog, hingga buku antologi. Keikutsertaannya dalam Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) menjadi titik balik besar. Awalnya, ia hanya ingin meningkatkan keterampilan menulis. Namun siapa sangka, dari ruang belajar itu lahir prestasi yang membawa namanya dikenal luas.

Beliau belajar bahwa menulis adalah disiplin. Ide harus ditangkap, dituliskan, lalu dipoles menjadi karya yang layak dibaca. Dari hal-hal sederhana—sebuah pengalaman mengajar, peristiwa sehari-hari, atau kisah inspiratif—lahirlah tulisan yang memberi manfaat bagi banyak orang.

Prestasi demi Prestasi

Keteguhan hati membawa Ibu Ritawati pada banyak penghargaan. Ia pernah memenangkan lomba menulis esai tingkat nasional, dimuat di media massa, hingga terpilih sebagai Guru Inspiratif Kemendikbud tahun 2021. Prestasi itu baginya bukan tujuan utama, melainkan bonus dari konsistensi berkarya.

Berkat tulisannya, beliau juga mendapat kesempatan menjadi narasumber di berbagai seminar, mengisi lebih dari 40 presentasi, dan dipercaya sebagai kurator serta editor. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa menulis dapat mengangkat martabat seseorang, membuka pintu kesempatan, bahkan menghubungkan dengan jejaring internasional.

Tidak berhenti di sana, beliau berkesempatan mengikuti pelatihan virtual internasional, bergabung dengan komunitas guru ICT Asia Pasifik, hingga mengikuti kursus daring di Harvard University. Semua capaian itu bermula dari keberanian untuk menulis.

Inspirasi bagi Guru dan Generasi Muda

Sebagai guru Informatika di SMPN 2 Mendoyo, Jembrana-Bali, Ibu Ritawati selalu mendorong kolega dan siswanya untuk menulis. Menurutnya, guru yang menulis memiliki daya pengaruh lebih besar. Pengalaman mengajar tidak hanya berhenti di kelas, tetapi bisa terdokumentasi menjadi referensi bagi banyak orang.

Kepada generasi muda, beliau menekankan pentingnya membangun kebiasaan menulis sejak dini. Di tengah derasnya arus media sosial yang lebih sering menonjolkan hiburan instan, menulis adalah latihan berpikir kritis, berimajinasi, sekaligus belajar mengolah gagasan secara terstruktur.

Pesannya sederhana: “Jangan takut salah. Menulislah dulu. Kesalahan adalah guru terbaik, dan konsistensi akan melahirkan kualitas.”


Tantangan dan Rahasia Menulis

Dalam setiap sesi berbagi, Ibu Ritawati sering bertanya: apa alasan seseorang mengikuti pelatihan menulis? Jawaban yang muncul beragam—ada yang karena hobi, ingin naik pangkat, hingga sekadar ingin mencoba. Baginya, semua alasan itu sah. Yang terpenting adalah kemauan untuk menulis.

Namun, ia juga menyadari banyak orang kesulitan menulis. Beberapa alasan yang umum adalah kekurangan ide, miskin kosakata, sulit merangkai kata, atau tidak percaya diri. Untuk mengatasinya, beliau menawarkan rahasia sederhana:

  1. Tentukan motivasi menulis.

  2. Tuangkan ide tanpa memikirkan kesalahan terlebih dahulu.

  3. Latih menulis sedikit demi sedikit, mulai dari 100 kata per hari.

  4. Konsisten menulis setiap hari.

  5. Setelah terbiasa, kembangkan dengan peta konsep untuk proyek yang lebih besar.

  6. Ikutlah proyek antologi agar tumbuh kepercayaan diri.

Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya kaidah penulisan. Huruf kapital, tanda baca, kosakata baku, dan keteraturan paragraf harus diperhatikan agar tulisan nyaman dibaca. Menulis boleh bebas di awal, tetapi jangan lupa tahap revisi untuk memperindah karya.


Metode, Intuisi, dan Kreativitas

Dalam diskusi bersama peserta KBMN, sering muncul pertanyaan tentang metode menulis. Ibu Ritawati menjelaskan bahwa metode tergantung jenis tulisan. Tulisan ilmiah tentu memiliki aturan baku, sementara artikel populer lebih fleksibel.

Ia juga menekankan pentingnya revisi dan kreativitas. Revisi diperlukan agar tulisan lebih matang, sedangkan intuisi membantu menemukan “rasa” dalam tulisan. Kreativitas menjadikan tulisan hidup dan berbeda dari yang lain.

Bagi beliau, semua orang punya kekhasan masing-masing. Jangan takut jika tulisan terasa berbeda, karena justru perbedaan itulah yang membuat tulisan unik.

Menulis dengan Hati

Salah satu ciri khas karya Ibu Ritawati adalah kehangatan. Ia menulis dengan hati, sehingga tulisannya terasa jujur dan menyentuh. Menurutnya, tulisan yang ditulis dengan hati lebih mudah sampai ke hati pembaca.

Namun, menulis dengan hati bukan berarti tanpa logika. Justru paduan antara nurani dan nalar itulah yang menjadikan tulisan kaya makna. Dari situlah lahir karya yang bukan hanya indah dibaca, tetapi juga bermanfaat.


Penutup: Menulis sebagai Jalan Prestasi

Kisah Ibu Ritawati adalah bukti nyata bahwa menulis bisa membawa seseorang dari titik sederhana menuju pencapaian luar biasa. Dari sebuah buku harian, lahir karya yang menginspirasi ribuan orang. Dari keberanian berbagi, lahir prestasi yang membanggakan.

Pesan penting yang bisa kita petik adalah: jangan menunggu sempurna untuk mulai menulis. Kesempurnaan tidak akan datang tanpa proses. Tulisan yang baik lahir dari keberanian untuk memulai, konsistensi untuk menekuni, dan kerendahan hati untuk belajar.

Seperti kata beliau, tidak ada istilah penulis pemula. Selama ide yang dituangkan menarik dan bermanfaat, setiap orang bisa menjadi penulis hebat. Menulis bukan hanya jalan sunyi, tetapi juga jalan indah yang bisa mengubah diri sekaligus memberi arti bagi orang lain.

Dari Bali, Ibu Ritawati menunjukkan pada kita semua bahwa berkarya dan berprestasi lewat menulis bukanlah mimpi, melainkan kenyataan yang bisa diraih siapa saja—asal ada niat, semangat, dan konsistensi.

“Jangan menunggu sempurna untuk mulai menulis, karena tulisan yang baik lahir dari keberanian untuk memulai.” – J.K. Rowling


Menulis Biografi



Narasumber : Lely Suryani, S.Pd. SD 

Menulis biografi diibaratkan mengukir kisah hidup menjadi untaian kata yang indah dan bermakna. Dari langkah kecil sampai keputusan besar, dari pengalaman pahit hingga puncak pencapaian, semuanya bisa dirangkai menjadi cerita yang unik, inspiratif, dan menyalakan harapan. Itulah ruh utama dari materi malam ini: mengapa biografi penting, kepada siapa ia ditulis, dan bagaimana cara menuliskannya dengan etis, akurat, dan menyentuh. Momentum belajar ini juga ditandai oleh ajakan untuk “tidak terlewatkan” karena kita akan mengukir biografi bersama editor Melintas yang andal—sebuah kolaborasi yang menegaskan bahwa menulis adalah kerja intelektual sekaligus kerja hati.

Nuansa pembuka yang religius—ucapan salam, puji syukur kepada Allah SWT, serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW—menghadirkan etos kesantunan dalam belajar. Penghormatan ditujukan kepada Om Jay, Guru Blogger Indonesia, para narasumber KBMN, TSO, dan seluruh peserta KBMN Gelombang 33 yang siap “menjelajah kawasan tanpa batas”. Untaian apresiasi untuk Bunda AAM NURHASANAH menegaskan nilai kebersamaan: di KBMN tidak ada senioritas; semua berjalan berdampingan menuju satu tujuan, yakni mengembangkan literasi. Inilah semangat yang menjadi fondasi: berbagi, saling menguatkan, dan tumbuh bersama.

Di tengah suasana itu, Lely Suryani dari Kota Dawet Ayu memperkenalkan diri dan membagikan pengalamannya menulis buku biografi. Ia menekankan bahwa keterampilan menulis biografi adalah kompetensi yang perlu dimiliki calon penulis. Lebih jauh, di ranah KBMN, karya biografi bahkan bisa menjadi salah satu syarat kelulusan, menjadi bukti kompetensi menulis, dan—terutama bagi guru—bisa disematkan di Dapodik. Artinya, biografi tidak semata karya estetis, melainkan juga dokumen profesional yang berdaya guna dan berdaya bukti.

Karena forum ini adalah kelas orang dewasa dan berlangsung secara daring, pola belajarnya dibuat sederhana dan efektif. Pertama, belajar mandiri dengan fokus memahami materi. Kedua, berdiskusi interaktif untuk menjernihkan hal-hal yang belum terang. Ketiga, praktik menuliskan hasil belajar, meski singkat. Keempat, menghasilkan karya sebagai wujud nyata bahwa pengetahuan terserap. Selain itu, peserta dianjurkan membaca beragam buku biografi agar peka pada ragam gaya, struktur, dan pendekatan naratif. Membaca akan memperkaya sudut pandang, menajamkan rasa, dan memberi referensi konkret saat menulis.

Salah satu miskonsepsi yang diluruskan adalah anggapan bahwa biografi hanya pantas ditulis setelah tokohnya wafat, demi menghindari kultus individu. Pandangan ini dikontekstualkan: biografi bisa ditulis untuk siapa saja—baik yang sudah meninggal maupun masih hidup. Rinciannya, ada biografi tokoh wafat, ada otobiografi yang ditulis oleh tokoh itu sendiri, dan ada biografi tokoh yang masih hidup (yang lazim memerlukan wawancara). Menulis tentang tokoh yang masih hidup punya dua nilai utama: menginspirasi publik melalui kisah nyata dan mendokumentasikan kontribusi bagi generasi mendatang. Tantangannya jelas: izin, kerja sama, dan keterbukaan tokoh terhadap aspek-aspek pribadi maupun profesional.

Ditekankan pula bahwa biografi menuntut ketepatan data dan sumber yang valid. Akurasi adalah etika; ia melindungi martabat tokoh dan integritas penulis. Pengalaman hidup tokoh yang disusun dengan cermat akan lebih mudah dipahami dan diapresiasi—terutama bagi para pembaca yang mengidolakan atau menjadikannya teladan. Karena itu, proses penulisan idealnya diawali dengan menyusun draf atau TOC (table of contents). Pilih tokoh yang berdampak pada diri penulis atau lingkungan. Sebagai latihan, mulailah dari biografi singkat orang-orang terdekat. Pengalaman mengedit naskah biografi untuk kenangan kepala sekolah purnabakti menunjukkan betapa pentingnya proses kurasi cerita, pilihan sudut pandang, dan ketelitian verifikasi.

Langkah-langkah menulis dirumuskan runtut dan praktis. Mula-mula, timbang dan pilih calon tokoh; selanjutnya minta izin. Atur jadwal wawancara dan diskusi, lalu laksanakan sesuai kesepakatan. Carilah sumber pendamping—dokumen, arsip, saksi—untuk menguatkan data. Setelah draf selesai, diskusikan lagi untuk revisi dan persetujuan. Jika siap, lanjut ke tahap produksi dan cetak. Untuk tokoh yang telah meninggal, sumber primer dapat diperoleh dari keluarga dan orang terdekatnya. Detail tanggal dan tahun kejadian idealnya dicantumkan secara kronologis; bila tak ada, penanda masa (misalnya “kelas 6 SD” atau “awal kuliah”) cukup membantu. Keterbatasan data bukan aib, selama penulis jujur atas sumbernya.

Pertanyaan penting lain menyentuh aspek empati dan dramaturgi: bagaimana menuturkan momen sulit tanpa membuat tokoh tampak lemah atau terkesan meminta belas kasihan? Jawabnya, fokus pada proses, pilihan, dan daya lenting—bukan semata derita. Tampilkan kebiasaan, cara bicara, kegemaran kecil—detail yang “menghadirkan” tokoh di mata pembaca. Kelebihan wajib diangkat karena itulah yang meneguhkan ketokohan. Kekurangan boleh ditulis jika relevan dan menjadi pijakan tumbuh. Namun semua materi sensitif mesti dikomunikasikan; bila tokoh keberatan, hormati dan keluarkan. Etika ini menjamin kejujuran tanpa sensasi, keterbukaan tanpa pelanggaran privasi.

Kebuntuan menulis—sulit membuat kerangka, mulai mengetik, dan menjaga ritme—ditangani dengan strategi sederhana: rawat semangat dan konsistensi lewat komunitas. Berada di tengah sesama penulis membuat komitmen lebih terjaga. Karena teori mudah pudar, praktik harus diprioritaskan. Mulailah dari menyusun TOC dan menulis di blog pribadi, lalu bagikan tautannya untuk umpan balik. Sebagai referensi struktur, ditunjukkan contoh daftar isi buku “50 Puluh Tahun Lebih Dekat Om Jay”: masa kecil dan sekolah, biodata, pandangan pertama, pandangan keluarga, pandangan teman, pandangan penulis, tulisan-tulisan inspiratif Om Jay, dan tentang guru penulisnya. Contoh ini bukan satu-satunya format, tetapi memberi gambaran ritme penceritaan yang bertahap.

Bagi yang ingin menulis biografi pendiri yayasan namun bingung memulai, arahnya konkret. Sampaikan rencana kepada teman dekat untuk menguji kelayakan ide. Rancang langkah: susun pertanyaan, atur wawancara, kumpulkan dokumen, potret arsip organisasi, dan temui saksi kunci. Tulis sketsa kronologi hidup dan peta tema (pendidikan, visi, karya, krisis, warisan). Kerjakan draf per bab, lakukan cek silang, lalu minta persetujuan. Jaga etika, imbangkan pujian dengan kritik konstruktif, dan pastikan semua klaim bertumpu pada bukti. Dengan pola ini, kebingungan akan terurai menjadi langkah-langkah kecil yang bisa dieksekusi.

Pada akhirnya, menulis biografi adalah kerja merawat ingatan sekaligus menyalakan harapan. Ia menghormati jejak seorang manusia, menautkan kisah personal dengan kemaslahatan sosial, dan menawarkan teladan yang dapat ditiru. Semangat KBMN—tanpa senioritas, penuh kolaborasi, dipandu niat baik TSO dan pendamping seperti Bunda AAM—menjadi lanskap yang subur bagi lahirnya karya yang jujur, rapi, dan bernilai. Malam ini, ajakan yang menggema sederhana: fokus pada pengembangan literasi, digital maupun non-digital; pelajari materinya, diskusikan yang belum jelas, praktikkan walau singkat, dan lahirkan karya. Karena hanya karya yang membuat ilmu tinggal lebih lama di dalam diri.