Jumat, 29 Agustus 2025

Mengelola Majalah Sekolah


Moderator: Nur Dwi Yanti 
Narasumber : Widya Arema

Malam ini, suasana kelas menulis KBMN-33 terasa istimewa. Dipandu oleh Nur Dwi Yanti—akrab disapa NDY—sebagai moderator, pertemuan dibuka dengan sebuah kutipan Albert Einstein yang sarat makna: “Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think.” Pendidikan bukan sekadar menghafal fakta, melainkan melatih pikiran agar terbiasa berpikir.

Kutipan ini menjadi pintu masuk menuju tema besar diskusi: Majalah Sekolah. Tema yang sederhana, sering luput dari perhatian, namun sesungguhnya menyimpan potensi luar biasa sebagai sarana literasi, kreativitas, sekaligus refleksi bagi seluruh warga sekolah.

NDY memperkenalkan narasumber malam itu, seorang sahabat sekaligus adiknya sendiri, Ibu Widya Arema. Sosok yang sudah lama berkecimpung di dunia literasi, khususnya dalam pengelolaan majalah sekolah. Melalui paparannya, peserta diajak menyelami bahwa majalah sekolah bukan sekadar kumpulan berita atau dokumentasi, melainkan wadah ekspresi dan identitas sekolah.

Seperti kata Pramoedya Ananta Toer yang juga disampaikan dalam sesi ini: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah.” Dengan menulis, seseorang menorehkan jejak yang tidak akan mudah hilang, bahkan bisa menjadi warisan berharga.


Widya: Dari Lembar Kosong Menjadi Jejak Bermakna

Widya mengawali pemaparan dengan narasi puitis. Baginya, menulis adalah perjalanan hati. Setiap kata yang lahir dari nurani bisa membentuk jiwa, menyalakan semangat, sekaligus menjadi cermin bagi siapa pun yang membacanya.

Ia menceritakan perjalanannya bergabung di KBMN sejak gelombang 21, tepat saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Dari awalnya hanya peserta, kini ia berdiri sebagai narasumber. Selama perjalanan itu, Widya telah menorehkan puluhan antologi dan tiga karya solo. Namun yang paling membahagiakan baginya bukanlah jumlah karya, melainkan kesempatan bertemu guru-guru hebat dari seluruh Indonesia, bersahabat, dan berkolaborasi dalam literasi.

Ia juga menyampaikan rasa syukur pada Om Jay dan tim solid KBMN yang selalu memberikan ruang bagi para penulis untuk berkembang. Baginya, literasi adalah tabungan kebaikan—setiap tulisan yang dibuat akan menjadi bekal berharga, bahkan hingga kehidupan setelah mati.


Majalah Sekolah: Dari Fotokopi Hingga Full Colour

Sesi berlanjut pada pengalaman konkret Widya dalam mengelola majalah sekolah di MI Khadijah. Majalah ini sudah terbit sejak tahun 2010, dan sejak 2015 ia dipercaya menjadi pemimpin redaksi. Perjalanannya tidak mudah. Edisi pertama majalah hanya berupa lembar folio yang difotokopi, dijepit di tengah, jauh dari tampilan profesional. Namun semangat konsistensi dan kolaborasi menjadikannya terus berkembang hingga kini.

Baginya, yang mahal bukan biaya cetak, melainkan semangat para guru. Guru yang rela berkorban waktu dan tenaga untuk menyediakan jendela informasi bagi siswa, orang tua, hingga masyarakat sekitar.

Widya merinci beberapa langkah penting dalam membangun majalah sekolah:

  1. Menemukan tim yang sevisi. Dibutuhkan rekan sejawat yang memiliki semangat literasi.

  2. Menyusun proposal. Meliputi latar belakang, tujuan, struktur redaksi, hingga rencana pendanaan.

  3. Menentukan identitas majalah. Nama, isi berita, dan visi yang ingin dibawa.

  4. Mencari sponsor atau rekanan. Untuk mendukung pembiayaan majalah.

Menurutnya, kunci utama ada pada guru. Tidak mungkin siswa mencintai literasi jika gurunya sendiri tidak memiliki budaya literasi. Semua guru harus merasa memiliki majalah sekolah, bukan hanya segelintir tim redaksi. Dengan begitu, semangat menulis akan lebih mudah menular kepada siswa.

Soal pendanaan, Widya menawarkan tiga sumber:

  1. Swadaya dari orang tua.

  2. Dana BOS.

  3. Sponsorship atau rekanan, termasuk orang tua siswa yang memiliki usaha.

Ia menutup bagian ini dengan kalimat motivatif: “Satu ons aksi lebih berharga daripada satu ton niat.”


Sesi Tanya Jawab

Diskusi menjadi semakin hidup dengan pertanyaan dari berbagai peserta.

1. Mardiah dari Banten bertanya soal bagaimana menentukan tema majalah sekolah.
Widya menjawab bahwa tema bisa diambil dari identitas sekolah, minat siswa, momen khusus dalam kalender pendidikan, atau bahkan rubrik yang sudah disusun. Yang penting, tema harus menggugah, misalnya “Majalahku, Cermin Sekolahku” atau “Menulis dengan Hati, Membaca dengan Nurani.”

2. Karno dari Makassar menyoroti soal sponsorship.
Widya menekankan pentingnya proposal yang profesional. Rekanan harus diyakinkan bahwa majalah sekolah adalah media yang bermanfaat bagi promosi usaha mereka. Bentuk kolaborasi bisa berupa iklan, profil usaha, atau kisah inspiratif yang relevan.

3. Herlina bertanya tentang tantangan dan pengelolaan tim redaksi.
Jawaban Widya menyoroti beberapa hambatan: keterbatasan SDM, pendanaan, dukungan sekolah, konsistensi jadwal, hingga minat pembaca. Semua bisa diatasi dengan tim yang solid, rapat rutin, pelibatan siswa, dan penggunaan platform digital untuk kolaborasi.

4. Dede Awaludin dari Majalengka menanyakan aplikasi untuk desain majalah.
Widya merekomendasikan Canva, Photoshop, atau aplikasi serupa. Prinsipnya, desain harus menampilkan identitas sekolah, dengan layout yang rapi, warna harmonis, dan font mudah dibaca.

5. Fazar dari Garut mengajukan pertanyaan strategis: apakah majalah harus dikelola guru saja, dan apakah lebih baik berbentuk digital atau fisik?
Widya menegaskan, di tingkat SMA/SMK sebaiknya majalah dikelola bersama guru dan siswa—terutama OSIS. Soal format, keduanya penting. Majalah digital lebih praktis, interaktif, dan hemat biaya. Sementara majalah fisik memberi kesan intim, cocok untuk dokumentasi jangka panjang.

6. Parman dari Bengkulu menutup sesi tanya jawab dengan pertanyaan tentang langkah sederhana membuat majalah menarik.
Widya menjawab: tentukan tema, susun rubrik tetap, libatkan guru-siswa, gunakan bahasa naratif, desain menarik, tambahkan interaktivitas (seperti QR code), dan sebarkan lewat media digital.


Penutup: Menyalakan Cahaya Literasi

Sebagai penutup, Widya menyampaikan pesan yang menggugah hati:

Menulis bukan sekadar merangkai huruf, melainkan menyalakan cahaya di tengah gelapnya pikiran.

Tulisan mampu mengubah cara pandang, menggerakkan hati, bahkan menjadi warisan berharga bagi dunia pendidikan. Guru, menurutnya, bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga penyalur cahaya ilmu melalui tulisan. Setiap pengalaman mendidik, setiap cerita kecil di kelas, adalah mutiara yang pantas diabadikan.

Ia mengajak semua peserta KBMN-33 untuk terus menulis dengan hati, menggoreskan tinta dengan penuh cinta, dan membuktikan pada dunia bahwa guru adalah pelukis kata yang tidak pernah kehabisan inspirasi.


Refleksi

Dari keseluruhan sesi ini, ada tiga pesan penting yang bisa dipetik:

  1. Majalah sekolah adalah wadah literasi. Ia bukan sekadar dokumentasi, melainkan sarana ekspresi, refleksi, dan pembentukan identitas sekolah.

  2. Guru memegang peran sentral. Mustahil siswa cinta literasi tanpa guru yang meneladankannya.

  3. Konsistensi lebih berharga daripada kesempurnaan. Mulailah dari sederhana, meski hanya fotokopi hitam putih, karena dari situlah benih besar akan tumbuh.

Malam ini, KBMN-33 bukan hanya kelas menulis, melainkan ruang untuk menyalakan api literasi bersama. Dari kisah Widya Arema, para peserta belajar bahwa majalah sekolah bisa menjadi ladang ibadah, sekaligus jendela yang mempertemukan gagasan siswa, guru, dan masyarakat.



 

Rabu, 27 Agustus 2025

Mempermudah Penulis Bersama Penerbit Mayor PT. Andi Offset Yogyakarta



Narasumber : Agust Subardana, SE., M.M.

Bagi seorang penulis, pertanyaan terbesar setelah menyelesaikan sebuah naskah adalah: “Kemana muara tulisan ini akan berlabuh?” Jawaban paling wajar tentu saja: penerbitan. Menulis tanpa menerbitkan ibarat menanam tanpa menuai. Dan di antara banyaknya pilihan penerbit, setiap penulis pasti menyimpan impian yang sama: bisa menerbitkan karya di penerbit mayor. Mengapa? Karena penerbit mayor menawarkan gengsi, kualitas, jangkauan, dan peluang yang sulit didapatkan jika kita menerbitkan secara mandiri.

Salah satu penerbit mayor yang sudah malang melintang di dunia literasi Indonesia adalah PT ANDI Offset Yogyakarta. Nama ini sudah dikenal luas, khususnya di bidang pendidikan, teknologi, sains, hingga buku-buku populer. Dan menariknya, dalam Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) ke-33, Bapak Agus Subardana, SE., MM., Direktur Penerbitan PT ANDI Offset, membagikan banyak rahasia tentang bagaimana penulis bisa dengan lebih mudah menembus penerbit mayor.

Sejarah Singkat ANDI Offset

Penerbit ANDI berdiri pada awal 1980-an. Awalnya, hanya berupa usaha percetakan sederhana di Yogyakarta. Namun, karena melihat kebutuhan buku pendidikan dan literatur ilmiah yang semakin besar, ANDI mulai merambah dunia penerbitan. Pada dekade 1980-an, fokus utamanya adalah menerbitkan buku komputer, teknologi, dan sains — bidang yang waktu itu masih sangat langka di Indonesia.

Perlahan, reputasinya terbentuk sebagai penerbit yang serius dalam menyediakan referensi ilmiah. Memasuki tahun 1990-an hingga 2000-an, ANDI memperluas lini penerbitannya ke buku pendidikan, bisnis, manajemen, psikologi, agama, hingga literatur populer. Tidak berhenti di sana, ANDI juga mengikuti perkembangan zaman dengan menghadirkan e-book, layanan cetak cepat, serta distribusi online.

Kini, dengan slogan “Bersama ANDI, Berkarya untuk Negeri”, ribuan judul buku telah terbit dan ribuan penulis dari berbagai kalangan bermitra dengan penerbit ini. Nama besar ANDI Offset menjadi jaminan kredibilitas dan kualitas bagi penulis yang ingin karyanya diakui secara nasional.

Tantangan Penulis di Era Digital

Agus Subardana memaparkan, menjadi penulis di zaman sekarang penuh tantangan. Pertama, ada persaingan dari self-publishing dan platform digital seperti Wattpad atau Amazon Kindle. Setiap orang bisa menerbitkan sendiri, sehingga banjir buku membuat persaingan merebut perhatian pembaca semakin ketat.

Kedua, banyak penulis menghadapi kendala distribusi. Buku yang dicetak terbatas sering hanya dikenal di lingkup kecil. Tanpa jaringan distribusi nasional, karya yang bagus pun berisiko tidak sampai ke tangan pembaca luas.

Ketiga, Menulis dan menerbitkan adalah dua hal berbeda. Tidak semua penulis memahami aspek teknis penerbitan: editing, layout, desain cover, hingga pengurusan ISBN. Padahal semua itu menentukan apakah buku layak edar atau tidak.

Keempat, minimnya promosi. Banyak penulis hanya fokus menulis, tanpa strategi pemasaran. Akibatnya, buku hanya dikenal di lingkaran terbatas. Tanpa promosi, buku berkualitas pun bisa tenggelam.

Karena itulah, peran penerbit mayor seperti ANDI Offset sangat penting: menjadi jembatan yang menghubungkan karya penulis dengan pembaca luas, sekaligus memberikan dukungan penuh dari awal hingga akhir.

Peran ANDI Offset bagi Penulis

Ada lima peran besar yang dimainkan ANDI dalam mempermudah penulis. Pertama, sebagai jembatan penulis dengan pembaca. Ide cemerlang dari penulis diolah hingga bisa benar-benar sampai ke audiens yang tepat.

Kedua, menyediakan layanan profesional: mulai dari editing, penyuntingan, desain cover, layout, pengurusan ISBN, hingga cetak buku dengan standar tinggi. Penulis tidak dibiarkan berjalan sendiri.

Ketiga, distribusi nasional. Buku terbitan ANDI bisa ditemukan di Gramedia, Togamas, marketplace online, hingga kampus dan sekolah di seluruh Indonesia. Bahkan sebagian buku menembus pasar internasional.

Keempat, dukungan promosi. Penulis mendapat fasilitas berupa event launching, promosi di media sosial, kerja sama dengan komunitas literasi, hingga resensi media.

Dan kelima, ANDI benar-benar menjadi mitra strategis. Bukan sekadar “mencetak buku”, tetapi mendampingi penulis sejak tahap naskah hingga distribusi.

Mengapa ANDI Disebut Penerbit Mayor?

Ada empat alasan utama yang membuat ANDI mendapat predikat penerbit mayor:

  1. Jaringan Luas.
    Buku ANDI hadir di jaringan toko buku nasional hingga marketplace online.
  2. Portofolio Penulis Besar.
    Ribuan penulis dari berbagai kalangan telah menerbitkan karya di ANDI.
  3. Skala Produksi Massal.
    ANDI mampu mencetak buku dalam jumlah besar, baik cetak fisik maupun e-book.
  4. Reputasi dan Kredibilitas.
    Lebih dari 40 tahun, ANDI dikenal sebagai penerbit akademik yang kredibel, dengan banyak bukunya dijadikan referensi resmi di sekolah maupun perguruan tinggi.

Manfaat untuk Penulis

Bergabung dengan penerbit mayor tentu memberi banyak keuntungan, di antaranya:

  • Nama penulis terangkat karena reputasi penerbit.
  • Royalti jelas dan transparan.
  • Karya masuk ke ekosistem akademik dan pendidikan.
  • Buku mendapat legalitas resmi dengan ISBN.
  • Dukungan penuh dari tim penerbit, mulai dari editing hingga promosi.

Dengan manfaat ini, menulis tidak hanya menjadi aktivitas personal, tetapi juga jalan untuk memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan dan masyarakat luas.

Proses Mudah Menerbitkan Buku di ANDI Offset

Lalu, bagaimana prosesnya? Ada enam tahap sederhana:

  1. Mengirimkan naskah ke redaksi ANDI (email naskahbukuandi@gmail.com).
  2. Seleksi dan review untuk menilai kelayakan isi, kualitas, dan orisinalitas.
  3. Editing & layout oleh tim profesional dengan diskusi bersama penulis.
  4. Penerbitan resmi (pengurusan ISBN, cetak buku).
  5. Distribusi nasional ke toko buku, kampus, sekolah, marketplace.
  6. Promosi & launching agar buku dikenal luas.

Penulis cukup fokus menulis, sementara penerbit mengurus sisanya.

Sinergi dan Kolaborasi

Lebih jauh, ANDI tidak hanya menjadi penerbit, tetapi juga mitra strategis bagi penulis. Beberapa bentuk sinergi yang ditawarkan antara lain:

  • Bimbingan Penulisan. Melalui workshop, coaching, dan sharing session.
  • Kolaborasi. Penulis bisa bekerja sama dengan akademisi, guru, praktisi, atau penulis lain untuk menghasilkan karya lintas disiplin.
  • Pendampingan. Sejak naskah awal hingga promosi, penulis selalu didampingi.

Sinergi ini menjadikan ANDI lebih dari sekadar penerbit, melainkan ekosistem literasi yang mendukung penulis untuk terus berkembang.

Tips & Trik Agar Buku Lolos Penerbit Mayor

Agus Subardana juga membagikan tips praktis:

  • Tentukan tujuan menulis sejak awal.
  • Kenali pasar dan target pembaca.
  • Susun naskah rapi, sistematis, dan sesuai kaidah.
  • Ikuti pedoman dari penerbit.
  • Bangun komunikasi dengan redaksi.
  • Siapkan mental untuk revisi.
  • Bangun branding diri sebagai penulis.
  • Percayakan urusan teknis (editing, desain, distribusi) pada penerbit.

Dengan langkah ini, peluang naskah lolos seleksi semakin besar.

Tanya Jawab Inspiratif

Beberapa peserta KBMN juga mengajukan pertanyaan menarik. Misalnya, bagaimana membuat pembaca ketagihan? Jawabannya: mulailah dengan pembuka yang menggugah, gunakan bahasa mengalir, sisipkan cerita, bangun koneksi emosional, dan pastikan setiap halaman memberi manfaat nyata.

Ada juga yang bertanya soal biaya cetak. Jawabannya, ada dua skema. Jika naskah dianggap potensial, semua biaya ditanggung penerbit dan penulis mendapat royalti. Namun, jika naskah pasarnya terbatas, bisa ada skema co-publishing di mana penulis menanggung sebagian biaya.

Pertanyaan lain terkait pangsa pasar, distingsi buku pendidikan, hingga keluhan keterlambatan terbit juga dijawab dengan jujur. Intinya, komunikasi terbuka dengan penerbit adalah kunci.

Penutup: Berkarya Bersama Penerbit Mayor

Dari seluruh paparan malam itu, kesimpulan yang bisa diambil adalah: menerbitkan buku di penerbit mayor bukanlah mimpi mustahil. Prosesnya jelas, langkahnya terarah, dan dukungan penuh tersedia. Penulis cukup menyiapkan naskah yang berkualitas, memahami kebutuhan pembaca, dan menjalin komunikasi baik dengan penerbit.

Bersama ANDI Offset, penulis tidak hanya menerbitkan buku, tetapi juga membangun nama, kredibilitas, serta memberi manfaat nyata bagi dunia pendidikan dan masyarakat. Dengan sinergi dan kolaborasi, literasi Indonesia akan semakin kuat, dan karya para penulis benar-benar akan menemukan muaranya: menjadi warisan ilmu yang abadi.



 

Menulis itu Mudah


Waktu: Senin, 25 Agustus 2025
Pertemuan ke-9 Gelombang ke-33
Moderator: Muliadi
Narasumber: Prof. Dr. Ngainun Naim, M.Hi.
Narasumber : Prof.Dr. Ngainun Naim, M.Hi.
 

Awal Kegiatan

Acara malam itu dibuka dengan sapaan penuh semangat, diawali dengan pantun sederhana yang mencairkan suasana. Peserta diajak untuk memulai kegiatan dengan hati riang. Setelah itu, moderator Muliadi memperkenalkan tema yang diangkat: “Menulis Itu Mudah.” Tema ini terasa istimewa karena menyentuh persoalan yang hampir dialami oleh semua orang—bahwa menulis sering dianggap sebagai aktivitas sulit, padahal sesungguhnya bisa dilakukan siapa saja bila ada niat, konsistensi, dan keberanian untuk memulai.

Kegiatan kali ini terasa semakin berharga karena menghadirkan narasumber utama: Prof. Dr. Ngainun Naim, M.Hi., seorang akademisi, penulis produktif, sekaligus pegiat literasi nasional. Beliau sudah menulis banyak buku, artikel ilmiah, hingga catatan reflektif yang tersebar di berbagai media, baik cetak maupun digital. Pengalaman panjang beliau dalam menulis menjadikannya figur yang tepat untuk memberikan motivasi dan arahan praktis kepada para peserta.


Mengapa Menulis Itu Penting?

Di awal pemaparannya, Prof. Ngainun mengingatkan kembali tentang arti menulis. Menurut beliau, menulis bukan hanya sekadar aktivitas menggerakkan pena di atas kertas atau menekan tombol di papan ketik. Menulis adalah proses mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman hidup dengan cara yang unik.

Ada tiga manfaat utama menulis:

  1. Menulis menata pikiran. Ide yang hanya berputar di kepala seringkali menguap begitu saja. Namun, ketika dituangkan dalam tulisan, ide menjadi nyata dan terdokumentasi.

  2. Menulis adalah berbagi. Sebuah tulisan bisa dibaca kapan saja, bahkan bertahun-tahun setelah penulisnya tiada. Tulisan dapat menjadi inspirasi, penyemangat, bahkan warisan intelektual.

  3. Menulis memperkaya diri. Melalui menulis, kita berdialog dengan diri sendiri, belajar memahami perasaan, memaknai pengalaman, sekaligus melatih pola pikir kritis dan kreatif.

Beliau menegaskan bahwa “Tulisan terbaik adalah tulisan yang selesai, bukan yang sempurna.” Artinya, jangan sampai rasa takut salah atau minder membuat seseorang berhenti menulis. Justru dengan terus menulis, keterampilan akan terasah, dan kualitas tulisan meningkat secara alami.

Menulis Itu Mudah, Jika…

Prof. Ngainun kemudian menjelaskan lima hal penting agar menulis terasa mudah:

  1. Menulis hal yang dialami. Tulisan yang bersumber dari pengalaman pribadi cenderung lebih mudah disusun karena kita mengalaminya secara langsung. Contohnya, catatan ringan tentang acara keluarga atau perjalanan. Hal-hal sederhana itu bisa ditulis seperti sebuah buku harian, lalu dibagikan di blog.

  2. Membiasakan diri menulis. Kebiasaan sering kali diawali dengan paksaan. Seperti anak kecil yang dipaksa berjalan atau berbicara bahasa tertentu. Begitu pula dengan menulis. Pada awalnya memang terasa berat, tetapi bila terus dilakukan, ia akan menjadi kebiasaan yang menyenangkan.

  3. Menulis tema yang dikuasai. Guru misalnya, akan lebih mudah menulis tentang pendidikan. Dosen atau peneliti lebih nyaman menulis tentang riset atau pengabdian masyarakat. Jika seseorang menulis hal yang tidak ia kuasai, biasanya prosesnya lebih sulit.

  4. Komitmen. Tanpa komitmen, menulis hanya menjadi cita-cita. Komitmen bisa dimulai dengan menyisihkan waktu khusus setiap hari, misalnya 20 menit. Konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar semangat sesaat.

  5. Tidak mengejar kesempurnaan. Perfeksionisme justru sering menjadi penghambat. Yang penting adalah menyelesaikan tulisan, karena tulisan yang selesai akan memberi ruang untuk evaluasi dan perbaikan.


Tanya Jawab dengan Peserta

Sesi tanya jawab berlangsung hangat dan interaktif. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan penting terkait tantangan nyata dalam dunia menulis.

  1. Dail (Banten) bertanya mengenai cara membangkitkan kembali semangat para penulis di portal Melintas yang sempat menurun karena kebijakan Google terhadap artikel berbasis AI. Prof. Ngainun menjawab bahwa AI hanyalah alat, bukan pengganti peran otak dan hati manusia. Menulis adalah pekerjaan kemanusiaan. Penulis sejati tidak akan patah semangat hanya karena berkurangnya pembaca. Tantangan ini justru harus dijadikan kesempatan untuk terus berkreasi secara jujur dan autentik.

  2. Akhmad Sururi (Brebes) menanyakan bagaimana membiasakan diri menulis artikel ilmiah agar sesuai dengan kaidah jurnal. Prof. Ngainun menyarankan empat langkah: banyak membaca artikel jurnal, menikmati proses penulisan, memahami target jurnal dan polanya, serta belajar dari penolakan bila artikel ditolak.

  3. Herlina bertanya tentang cara mengembangkan tema dan menggunakan deskripsi yang efektif. Prof. Ngainun menekankan pentingnya membuat peta sederhana sebelum menulis, lalu menguraikan setiap aspek dalam paragraf. Sementara untuk deskripsi, satu-satunya cara adalah terus berlatih.

  4. Fazar A (Garut) menanyakan manfaat menulis, teknis menulis termudah, serta kemungkinan menulis di luar bidang yang dikuasai. Prof. Ngainun menjawab bahwa manfaat menulis sangat banyak, termasuk membuka jalan bagi karier akademik. Tidak ada teknis menulis yang paling mudah selain menjalani prosesnya. Dan menulis di luar bidang tetap bisa dilakukan asalkan didahului dengan riset serta kemauan belajar.


  5. Yuyun Srimulyati mengajukan pertanyaan tentang mindset menulis jurnal yang dianggap sulit, validitas data, serta cara menghadapi kritik dari reviewer. Menurut Prof. Ngainun, memang benar menulis jurnal lebih sulit daripada artikel populer, tetapi bukan berarti tidak bisa. Validitas data harus dijaga dengan kejujuran, dan kritik dari reviewer sebaiknya ditanggapi segera, bukan ditunda, agar proses penerbitan lebih lancar.

Pelajaran Penting dari Prof. Ngainun

Dari penjelasan beliau, dapat disimpulkan beberapa poin utama:

  • Awalnya paksaan, akhirnya kebiasaan. Sesuatu yang berat pada awalnya, bila dilakukan terus-menerus, akan berubah menjadi kebiasaan yang ringan dan akhirnya kebutuhan.

  • Menulis itu kerja otak sekaligus hati. Mesin tidak bisa menggantikan sentuhan kemanusiaan yang ada dalam tulisan.

  • Tulisan adalah jejak abadi. Sekecil apapun tulisan, ia bisa menjadi inspirasi dan pengingat bagi generasi berikutnya.

  • Jangan takut gagal atau ditolak. Penolakan, kritik, atau sedikit pembaca bukan alasan berhenti menulis, melainkan kesempatan untuk belajar dan tumbuh.


Penutup

Moderator menutup acara dengan ucapan terima kasih kepada Prof. Ngainun atas ilmu, motivasi, dan inspirasinya. Para peserta diajak untuk menjadikan menulis sebagai bagian dari keseharian, bukan sekadar wacana. Menulis bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga jalan untuk memperkaya jiwa, berbagi kebaikan, dan meninggalkan warisan intelektual.

Pesan terkuat malam itu sederhana namun dalam: “Tulisan terbaik adalah tulisan yang selesai. Bukan yang sempurna.”

Semoga semangat ini menjadi pelecut bagi semua peserta untuk tidak lagi menunda, tidak takut salah, dan berani menulis dari hal-hal sederhana yang dialami sehari-hari.

Berlayar jauh ke Pulau Seram,
singgah sebentar membeli ikan.
Ilmu menulis kita tanam,
semoga jadi amal kebaikan.

Pantun sederhana ini sebenarnya menyimpan makna yang begitu dalam. Ia bukan sekadar permainan kata, melainkan sebuah ajakan untuk merenungkan perjalanan hidup, pentingnya menanam ilmu, dan bagaimana karya tulis yang kita hasilkan bisa menjadi warisan kebaikan yang tak lekang oleh waktu.

Ketika seseorang berlayar jauh, ia tidak hanya sedang melakukan perjalanan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Ia juga sedang menempuh perjalanan batin, menantang dirinya sendiri, menghadapi gelombang, dan mengasah ketahanan. Begitu pula dalam dunia menulis. Menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan. Ada hari-hari ketika ide meluap deras, namun ada pula waktu di mana kepala terasa kosong dan pena enggan bergerak. Seperti pelaut yang berjuang melawan badai, seorang penulis juga harus terus menempuh perjalanan meskipun sulit, karena di ujung layar selalu ada pelabuhan yang menanti.

Singgah sebentar membeli ikan dalam pantun tadi bisa kita maknai sebagai perhentian sejenak untuk mengumpulkan bekal. Dalam menulis, bekal itu berupa pengetahuan, pengalaman, dan pengamatan sehari-hari. Penulis yang baik bukan hanya mereka yang pandai berimajinasi, tetapi juga mereka yang mau membuka mata dan hati terhadap kenyataan hidup di sekitarnya. Dari percakapan singkat di pasar, dari senyum anak-anak di jalan, bahkan dari keluh kesah orang-orang di warung kopi, seorang penulis bisa menemukan bahan berharga untuk karyanya.

Ilmu menulis yang kita tanam tidak berbeda jauh dengan benih yang ditabur di tanah subur. Ia butuh perhatian, kesabaran, dan waktu untuk tumbuh. Seorang penulis pemula mungkin merasa canggung dengan tulisannya, merasa tidak percaya diri, atau khawatir tulisannya tidak layak dibaca orang lain. Namun, seperti benih yang kecil dan rapuh, jika terus disirami dan diberi cahaya, ia akan tumbuh menjadi tanaman yang kokoh. Menulis pun demikian. Setiap paragraf yang kita hasilkan, setiap halaman yang kita selesaikan, adalah bagian dari proses pertumbuhan itu.

Yang menarik dari pantun tersebut adalah penutupnya: semoga jadi amal kebaikan. Kalimat ini memberi arah sekaligus tujuan yang luhur. Menulis bukan sekadar mengejar popularitas, keuntungan finansial, atau pengakuan sosial. Menulis adalah tentang berbagi. Setiap tulisan yang lahir dari ketulusan hati bisa menjadi cahaya bagi orang lain. Tulisan yang memberi inspirasi, yang menguatkan semangat, atau yang menghibur di saat sedih, semuanya bisa bernilai amal jariyah. Bahkan, tulisan yang sederhana sekalipun—asal mengandung niat baik—dapat menjadi bekal pahala yang terus mengalir.

Mari kita lihat contoh sederhana. Bayangkan seorang guru menulis catatan kecil tentang pentingnya kejujuran, lalu catatan itu dibaca muridnya. Bertahun-tahun kemudian, murid itu tumbuh menjadi pribadi yang jujur dan amanah, bahkan mungkin mengajarkan nilai itu kepada anak cucunya. Bukankah itu artinya tulisan sang guru telah menjadi amal kebaikan yang abadi? Hal yang sama bisa terjadi dengan penulis mana pun. Kita tidak pernah tahu sejauh mana dampak tulisan kita menjangkau.

Perjalanan menulis juga sering kali penuh dengan pergulatan batin. Ada rasa takut dihakimi, rasa ragu apakah tulisan kita cukup berarti, dan rasa malas yang kadang mendera. Namun, jika kita mengingat bahwa setiap kata yang kita tulis bisa bernilai ibadah, maka perjalanan itu menjadi lebih ringan. Kita menulis bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk memberi manfaat kepada orang lain.

Sejarah mencatat, banyak peradaban besar bertahan karena tulisan. Ilmu-ilmu kuno bisa kita pelajari hari ini karena ada orang-orang yang menuliskannya. Bayangkan jika para ulama, cendekiawan, dan pujangga masa lalu enggan menulis, mungkin kita tidak akan pernah mengenal karya-karya berharga mereka. Dari sinilah kita bisa belajar bahwa menulis bukan hanya aktivitas pribadi, tetapi juga tanggung jawab sosial dan kultural.

Di era digital saat ini, kesempatan untuk menulis semakin luas. Tidak lagi terbatas pada buku cetak, tulisan bisa hadir dalam bentuk artikel daring, blog, atau bahkan unggahan media sosial. Namun, di balik kemudahan itu, tantangan pun hadir. Terkadang tulisan digunakan untuk menyebarkan kebencian, fitnah, atau hal-hal yang merugikan banyak orang. Di sinilah pentingnya kembali ke niat awal: menulis sebagai amal kebaikan. Setiap kata yang kita sebarkan hendaknya dipertimbangkan dampaknya. Apakah ia membawa kebaikan? Apakah ia bisa menguatkan orang lain? Atau justru sebaliknya?

Menulis juga merupakan cara untuk meninggalkan jejak. Hidup manusia terbatas, tetapi tulisan bisa melampaui waktu. Ketika seorang penulis wafat, karyanya tetap bisa dibaca dan memberi manfaat. Bahkan, sering kali tulisan justru menemukan makna lebih besar setelah penulisnya tiada. Dalam hal ini, menulis benar-benar menjadi salah satu jalan untuk meraih keabadian dalam arti yang paling sederhana.

Namun, perjalanan menulis tidak selalu mulus. Ada kalanya penulis harus menghadapi kritik, bahkan penolakan. Hal ini wajar, sebab tidak semua orang akan setuju dengan apa yang kita tulis. Tetapi kritik bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari sanalah kita belajar untuk memperbaiki diri, menajamkan argumen, dan memperluas sudut pandang. Sama halnya dengan pelaut yang belajar membaca arah angin, penulis pun harus belajar membaca arah zaman.

Pada akhirnya, menulis adalah tentang keberanian untuk berbicara melalui tulisan. Keberanian untuk menuangkan ide, untuk mengekspresikan perasaan, dan untuk berbagi pengalaman. Bukan berarti penulis harus selalu sempurna, tetapi ia harus jujur. Kejujuran dalam menulis akan sampai ke hati pembaca.

Pantun yang menjadi titik awal refleksi ini sederhana, tetapi pesannya sangat luas. Ia mengingatkan kita bahwa hidup adalah perjalanan, menulis adalah bekal, dan tujuan akhirnya adalah kebaikan. Selama kita menulis dengan niat yang tulus, maka setiap kata akan menjadi bagian dari amal yang bernilai di sisi Tuhan.

Seperti pelaut yang berlayar jauh, kita pun sedang berlayar dalam samudra kehidupan. Setiap kata adalah dayung, setiap paragraf adalah layar, dan setiap tulisan adalah arah yang menuntun kita. Semoga, pada akhirnya, tulisan-tulisan yang kita tanam menjadi pohon kebaikan yang memberi teduh bagi banyak orang.

Senin, 25 Agustus 2025

Komitmen Menulis Blog



Topic: KBMN PGRI 33 Pertemuan ke-6: KOMITMEN MENULIS DI BLOG
Tanggal: 18 Agustus 2025, Pukul: 19.00 WIB
Melalui Zoom Meeting link rekaman 

Mengikuti kegiatan dibuktikan pada waktu 1 : 19 : 21 



Malam pada hari HUT KE-80 RI sungguh luar biasa karena biasanya pelatihan di WAG dialihkan ke zoom secara online. Ini tantangan untuk mengikutinya dengan berbagai halangan dalam mempelajari pengalaman senior dalam berbagi ilmu literasinya dengan segudang prestasi yang tidak dapat diragukan lagi. Dedi Dwitagama memiliki banyak tayangan presentasi ketika melakukan kegiatan selama masa pengabdiannya maupun setelah pemsiun. 

Ketika memulai penulisan yang paling sulit itu adalah mencoba. Apabila langkah ini telah dijalani, tahap berikutnya akan mudah dihadapai walau banyak yang akan menjadi rintangannya. Sebaiknya segala sesuatu itu dinikmati prosesnya, happy dan bersyukur dengan segala kegiatan yang dilakukan

 

 

Mengatasi Writer's Block


Moderator : Gina Dwi Septiani, S.Pd., M.Pd. ( alumni gel 27)

Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan untuk menimba ilmu bersama. Tema ini dipilih karena hampir semua penulis, baik yang masih pemula maupun yang sudah berpengalaman, pasti pernah merasakan kebuntuan dalam menulis. Rasanya seperti kehilangan ide, tidak tahu harus memulai dari mana, bahkan seolah-olah semua inspirasi menguap begitu saja. Kondisi inilah yang disebut writer’s block atau sering disingkat WB.

Apa Itu Writer’s Block?

Menurut Wikipedia, writer’s block adalah kondisi ketika seorang penulis tidak mampu menghasilkan karya baru atau mengalami kemunduran dalam kreativitasnya. Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1947 oleh seorang psikiater Austria bernama Edmund Bergler.

Yang menarik, writer’s block tidak pandang bulu. Ia bisa menyerang siapa saja—baik penulis cerpen, puisi, novel, artikel berita, naskah film, maupun tulisan ilmiah. Bahkan penulis profesional yang karyanya sudah banyak beredar pun bisa tiba-tiba terserang kebuntuan ini.

Layaknya penyakit, WB memiliki tingkatan dari yang ringan hingga yang berat. Ada yang hanya berlangsung beberapa menit, tapi ada juga yang berlangsung hingga bertahun-tahun. Perbedaan ini sangat bergantung pada bagaimana seseorang berusaha melepaskan diri dari kondisi tersebut.

Faktor Penyebab Writer’s Block

Secara umum, ada tiga faktor utama penyebab terjadinya WB:

  1. Aspek Kognitif 🧠
    Biasanya muncul dari sifat perfeksionis, kebingungan menentukan fokus tulisan, atau terlalu sibuk memikirkan apakah tulisan ini akan bagus atau tidak.
  2. Faktor Emosi 💛
    Rasa takut dinilai, takut dikritik, atau kurang percaya diri terhadap kualitas tulisan sering kali membuat seseorang tidak berani menuangkan ide.
  3. Aspek Konteks
    Kondisi lingkungan juga memengaruhi. Gangguan dari luar, keterbatasan waktu, atau suasana hati yang tidak mendukung bisa membuat proses menulis terhambat.

Bapak/Ibu bisa berefleksi, faktor mana yang paling sering dialami. Ada yang lebih kuat di aspek kognitif, ada pula yang lebih sering terkendala pada emosi atau konteks.

Teknik Mengatasi Writer’s Block

Meski terlihat menakutkan, sebenarnya writer’s block bukanlah kutukan. Ia hanyalah “tamu sementara” yang bisa kita atasi dengan strategi yang tepat. Ada beberapa teknik yang bisa kita praktikkan:

1. Teknik 5W1H

Saat bingung memulai, gunakan enam pintu masuk pertanyaan: What, Who, When, Where, Why, How.

Misalnya, tanyakan saja, “Apa yang sedang terjadi saat ini?” Lalu jawab dengan satu kalimat. Dari sana, ide mulai mengalir. Jika ada pertanyaan yang terasa sulit, kita bisa melompat ke pertanyaan lain. Perlahan, jawaban-jawaban itu bisa disusun menjadi draft awal tulisan.

2. Teknik Pomodoro Mini 10×2

Teknik Pomodoro aslinya diperkenalkan oleh Francesco Cirillo pada akhir 1980-an. Prinsipnya membagi waktu kerja dalam interval fokus 25 menit diikuti istirahat singkat. Untuk mengatasi WB, kita bisa modifikasi menjadi versi mini: menulis 10 menit lalu istirahat 2 menit. Pola ini melatih otak tetap segar tanpa merasa terbebani.

3. Kerangka 3P (Peristiwa–Perasaan–Pelajaran)

Metode ini sederhana tapi efektif. Mulailah dengan menuliskan peristiwa apa yang dialami, lalu apa yang kita rasakan, dan terakhir pelajaran apa yang bisa diambil. Minimal, kita sudah memiliki tiga paragraf: pembuka, isi, dan penutup.

4. The Ugly First Draft

Banyak orang berhenti menulis karena ingin paragraf pertamanya langsung bagus. Padahal standar terlalu tinggi justru membuat macet. Solusinya, tulislah paragraf pertama dengan sengaja jelek, berantakan, bahkan penuh typo.

Contoh:
“Saya bingung. Tidak tahu harus menulis apa. Kenapa harus praktik, padahal saya belum siap. Yah, belum ada ide tidak apa-apa. Ho.”

Meski terlihat tidak bermutu, setidaknya kita sudah bergerak. Nanti, dari paragraf jelek itu bisa lahir kalimat pembuka yang lebih baik.

Langkah praktisnya:

  1. Buka halaman kosong dan langsung tulis.
  2. Atur timer 3–5 menit.
  3. Tulis apa adanya, bahkan curhatan.
  4. Jangan hapus.
  5. Setelah selesai, baca ulang dan ambil kalimat yang potensial.

5. Free Writing

Mirip dengan ugly first draft, tapi dilakukan lebih lama (5–10 menit). Kita menulis tanpa henti, tanpa edit, tanpa sensor. Apa pun yang muncul di kepala, tuliskan saja. Hasilnya mungkin berantakan, tapi tujuan utamanya adalah melatih otot menulis agar ide kembali mengalir.

Diskusi dan Tanya Jawab

Dalam sesi diskusi, beberapa pertanyaan muncul dari peserta.

Pak Fazar dari Garut menanyakan bagaimana cara membuat tulisan tetap runut meskipun menggunakan 5W1H secara acak. Jawabannya, setelah menulis secara acak, kita bisa membuat kerangka tulisan. Dengan kerangka, ide yang tersebar bisa dipetakan dan disusun secara runtut.

Kemudian Bu Yuyun dari “kota tahu” mengajukan tiga pertanyaan:

  1. Adakah langkah preventif menghadang WB saat mengejar deadline?
    → Ya, buat kerangka sejak awal, susun jadwal menulis, dan tetapkan prioritas.
  2. Apakah WB terkait dengan ketidakpastian tentang apa yang ingin ditulis atau bagaimana menyampaikannya?
    → Betul. Sering kali ide ada, tapi kita bingung fokus atau bingung gaya penyampaian. Jadi WB bukan karena ide hilang, melainkan karena arah menulis belum jelas.
  3. Bagaimana WB memengaruhi pencarian kebenaran atau koherensi tulisan?
    → WB bisa membuat kita terjeda, dan jeda ini kadang baik untuk memberi ruang refleksi. Namun, jangan sampai berlarut. Tulisan terbaik tetaplah yang selesai ditulis.

Penutup

Menghadapi writer’s block ibarat menghadapi gerimis. Ia memang menghambat langkah, tapi juga melatih kesabaran. Gerimis mengingatkan kita bahwa kekuatan tidak selalu datang dari derasnya hujan, melainkan dari ketekunan rintik-rintiknya.

Menulis itu butuh proses, dan kebuntuan adalah bagian dari proses tersebut. Dengan teknik kecil seperti 5W1H, Pomodoro, 3P, Ugly First Draft, atau Free Writing, kita bisa membuka jalan kembali.

Yang terpenting adalah jangan berhenti. Karena menulis, sebagaimana hujan, akan menemukan derasnya kembali jika kita terus bersabar.

Semangat menulis, Bapak/Ibu hebat. Writer’s block bukanlah musuh, melainkan tamu yang datang sesekali untuk kita kenali, agar semakin tangguh dalam perjalanan literasi.

Salam literasi. 🙏✨

 

Diksi dan Seni Bahasa



Diksi dan Seni Bahasa

Pertemuan kali ini mengangkat tema diksi sebagai jiwa bahasa. Diksi dipahami bukan sekadar pilihan kata, melainkan ruh yang mampu menghadirkan warna, rasa, dan makna dalam setiap tulisan. Dengan diksi yang tepat, kata-kata bisa mengungkapkan perasaan paling halus, menyampaikan pesan kuat, hingga meninggalkan kesan abadi.

Kelas dibuka dengan nuansa hangat: ajakan untuk bersandar sejenak dari penat, menenun ilmu, menyulam silaturahmi, sambil menikmati manis-pahit kehidupan layaknya secangkir kopi. Menulis dipandang sebagai cara mencatat sejarah, sebuah jejak bahwa kita pernah hadir di dunia ini.

Diksi dianalogikan seperti jatuh cinta: mampu membuat hidup lebih berwarna. Narasumber malam ini, Maydearly, yang dijuluki Ratu Diksi dari Lebak, Sunda, menunjukkan bagaimana kata bisa menari-nari di benak pembaca. Beliau mengingatkan bahwa menulis dengan hati akan melahirkan karya yang hidup dan penuh jiwa.

Materi utama menekankan pentingnya pancaindra dalam memperkaya diksi:

  • Sentuhan menghadirkan deskripsi fisik dan emosi.

  • Penciuman memberi nuansa memori dan atmosfer.

  • Perasa (taste) memperkuat imaji rasa dan perasaan.

  • Pendengaran menghadirkan suasana dan simbolisme suara.

Selain itu, dibahas pula perbedaan diksi dan majas. Diksi adalah pilihan kata, sementara majas adalah gaya bahasa. Keduanya saling melengkapi dalam puisi maupun tulisan lain.

Diskusi interaktif berlangsung dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Di antaranya tentang kebebasan dalam bentuk puisi, penggunaan rima, struktur puisi (fisik dan batin), hingga tips bagi pemula agar lebih piawai memilih kata. Jawaban menegaskan bahwa puisi bersifat bebas, rima tidak wajib, dan kekuatan puisi terletak pada diksi serta ekspresi.

Menjelang akhir sesi, Maydearly menekankan: “Diksi bukan sekadar kata, melainkan jendela rasa yang membuka jalan menuju keindahan makna.”

Kelas ditutup dengan ucapan syukur, doa, dan pesan bahwa diksi adalah nada dalam musik jiwa. Pertemuan malam ini bukan hanya belajar teori, melainkan juga merasakan bagaimana kata bisa hidup, memberi kesan, dan mengikat hati.



 

Senin, 18 Agustus 2025

Menulis Dongeng dan Cerita Fabel


Moderator    : Maesoroh, M.Pd.
Narasumber : Helwiyah, S.Pd., M.Pd.

Menulis dongeng bukan sekadar merangkai cerita, melainkan menanam benih keajaiban dalam hati pembaca. Fabel, misalnya, menjadi cermin kehidupan: hewan berbicara, manusia belajar, dan imajinasi tumbuh tanpa batas. Pena penulis ibarat tongkat sihir yang menghadirkan dunia baru sekaligus menyampaikan pesan moral.

Pengertian dan Ciri Dongeng
Dongeng adalah cerita fiksi yang bersifat imajinatif, biasanya sederhana, singkat, dan sarat makna.


Ciri khas dongeng antara lain:
  •  Mengandung pesan moral, hiburan, atau pendidikan.
  • Tokoh bisa berupa manusia, hewan, bahkan tumbuhan yang seolah hidup.
  • Latar waktu dan tempat tidak terbatas.
  • Alur cerita sederhana, biasanya dengan konflik dan solusi.
  • Bahasa bisa sederhana, namun menarik bila dirangkai indah.

Fungsi Dongeng 
Dongeng berperan penting dalam perkembangan imajinasi dan karakter anak. Ia menjadi media yang efektif untuk menanamkan nilai, memberi nasihat, sekaligus hiburan yang menyenangkan


Tips Menulis Dongeng
Beberapa hal yang disampaikan narasumber terkait proses menulis antara lain:
  • Menentukan judul: sebaiknya setelah cerita selesai, agar mewakili isi.
  • Menyusun alur: buat tujuan, lalu kembangkan konflik dan solusi.
  • Dialog: gunakan permainan kata agar cerita hidup.
  • Pesan moral: harus sampai dengan jujur, sederhana, dan sesuai usia pembaca.
  • Motivasi: berangkat dari dalam diri, menulis sebagai tantangan untuk mengasah kemampuan.
  • Tantangan utama: keberanian memulai dan mengatasi rasa ragu.
Pertanyaan Peserta & Jawaban Narasumber

  • Konflik dalam dongeng tidak harus masalah besar; cukup hal sederhana seperti rasa iri, kebohongan, atau kesedihan.
  • Keindahan bahasa lahir dari banyak membaca dan berlatih.
  • Rasa tidak percaya diri wajar, namun harus diatasi dengan keberanian memulai dan menerima kritik. Writer’s block bisa dihadapi dengan jeda sejenak lalu kembali menulis.
  • Isi dongeng harus sesuai sasaran pembaca, agar tidak sekadar “menghibur kosong” melainkan juga mendidik.
  •  Dongeng vs kisah nyata: dongeng bersifat fiktif, sedangkan kisah nyata bisa menjadi cerpen atau kisah inspiratif.
  •  Fabel untuk dewasa memungkinkan, meski jika sudah menyinggung isu sosial realistis ia lebih mendekati cerpen
  • Latar bisa nyata atau imajiner, tergantung kebutuhan cerita.
Penutup

Diskusi ditutup dengan pesan bahwa menulis dongeng adalah sarana menebar nilai kebaikan dengan cara menyenangkan. Setiap orang bisa memulainya tanpa harus menunggu sempurna. Kritik dan latihan akan membentuk keterampilan, dan yang terpenting adalah keberanian untuk terus berkarya.




TEKNIK PENULISAN RESUME



Moderator     : Mutmainah, M.Pd.

Setelah melahirkan buku pertamanya, penulis diajak bergabung bersama tim solid Omjay dengan peran awal sebagai "kang flyer". Dari sana, peran berkembang menjadi moderator, narasumber, layouter, desainer cover buku, hingga editor.

Membuat resume pelatihan adalah proses merangkum informasi utama yang telah disampaikan dalam pelatihan. Secara umum, resume adalah ringkasan dari sebuah tulisan, buku, artikel, atau materi pelatihan. Tujuannya untuk menyederhanakan isi agar mudah dipahami dan diingat. Resume berbeda dengan ringkasan biasa karena tetap menampilkan pokok-pokok penting tanpa menghilangkan inti informasi. Dalam bahasa Indonesia, resume identik dengan ringkasan, sementara dalam bahasa Inggris resume lebih dikenal sebagai daftar riwayat hidup (CV).

Dalam praktiknya, resume bisa ditulis dengan cepat menggunakan beberapa trik sederhana: menyisihkan waktu sebentar sebelum kegiatan dimulai, menulis pembuka yang relevan dengan materi, menutup dengan kesimpulan, serta menyajikannya dalam paragraf singkat agar tidak membosankan. Resume yang informatif ditandai dengan struktur rapi, bahasa padat, jelas, dan menunjukkan pemahaman isi, sedangkan resume yang membosankan cenderung bertele-tele, terlalu panjang, atau sebaliknya terlalu singkat tanpa makna.

Bahasa dalam resume dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk akademik, sebaiknya formal, sementara untuk blog atau media sosial boleh lebih santai asalkan tetap jelas. Bahkan, resume bisa dikembangkan menjadi sebuah buku dengan langkah sederhana: menyusun daftar isi, memilih kumpulan resume terbaik, merapikannya di MS Word, lalu mencari penerbit.

Dalam diskusi, juga muncul perbandingan resume dengan resensi dan sinopsis. Resume hanya merangkum isi, sementara resensi menambahkan ulasan dan opini penulis, dan sinopsis lebih ditujukan untuk memperkenalkan cerita. Agar terhindar dari plagiasi, penulis resume disarankan memahami isi materi terlebih dahulu, menuliskannya dengan gaya bahasa sendiri, serta mencantumkan sumber bila mengutip langsung.

Selain itu, membangun visibilitas resume di blog dapat dilakukan dengan mengoptimalkan SEO, menggunakan kata kunci yang relevan, menulis konten bermanfaat, menambahkan gambar, serta aktif berbagi di media sosial.

Sebagai penutup, ada pesan penting yang dapat dijadikan pegangan: “Menulis adalah terapi. Kita tidak perlu melakukannya agar terlihat keren di hadapan orang lain, melainkan sebagai cara untuk memberi makna dan perubahan.”








 

Gali Potensi Ukir Prestasi


 Moderator     : Arofiah Afifi, S.Pd.

Narasumber  : Aam Nurhasanah, S.Pd.

Aam Nurhasanah, seorang guru Bahasa Indonesia dari Cipanas, Lebak, Banten, adalah sosok inspiratif yang menekuni dunia menulis. Setelah mengabdi 12 tahun di sekolah swasta dan menjabat kepala sekolah, pada 2022 ia resmi diangkat sebagai guru PPPK di SMPN Satu Atap 4 Cipanas. Perjalanannya di dunia literasi dimulai saat bergabung dengan Komunitas Blogger Menginspirasi Nasional (KBMN). Dari situlah lahir puluhan karyanya, hingga kini tercatat sudah menulis 62 buku, dengan 4 buku solo, 1 buku duet dengan Prof. Richardus Eko Indrajit yang diterbitkan oleh penerbit mayor PT Andi Offset, serta puluhan buku antologi.

Menulis bagi Aam bukan sekadar hobi, melainkan jalan prestasi. Ia pernah menjadi juara lomba blog, menembus penerbit besar, hingga karyanya dipajang di rak toko buku ternama seperti Gramedia. Tidak berhenti di situ, ia juga aktif sebagai mentor, editor, dan narasumber, bahkan berhasil mengantarkan siswanya meraih juara.

Dalam berbagai forum, Aam kerap menekankan pentingnya menggali potensi diri. Potensi adalah kemampuan dasar yang bisa berkembang menjadi prestasi jika diasah dengan disiplin dan konsistensi. Ia berbagi langkah menemukan potensi, cara mengubahnya menjadi prestasi nyata, hingga bagaimana mengukur perkembangannya. Aam juga menekankan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan kesuksesan yang tertunda.

Baginya, menulis adalah panggilan jiwa. Setiap pengalaman bisa dijadikan ide, setiap kata adalah jejak, dan setiap karya bisa menjadi cahaya bagi orang lain. Pesannya sederhana namun kuat: jangan takut gagal, jangan takut mencoba, dan teruslah berkarya. Karena potensi dalam diri hanya akan berbuah prestasi bila kita berani merawat dan mengembangkannya.