Acara dipandu oleh Sigid Purwo Nugroho, alumni KBMN PGRI Gelombang 23 sekaligus anggota Tim Solid Om Jay (TSO). Beliau bertugas sebagai moderator yang memandu jalannya kegiatan, menyapa peserta, serta memastikan setiap sesi berjalan lancar. Sebelum memasuki materi inti, doa bersama dipanjatkan agar kegiatan ini mendatangkan keberkahan, manfaat, serta dicatat sebagai amal kebaikan.
Narasumber dan Materi
Pada malam ini, peserta ditemani oleh narasumber inspiratif, yakni Bapak Susanto, S.Pd., yang akrab disapa “PakD Sus”. Beliau adalah seorang penulis sekaligus pembicara yang kerap berbagi pengalaman serta pengetahuan seputar dunia kepenulisan.
Tema yang diangkat malam ini adalah “Proofreading: Menjadi Editor Profesional untuk Tulisan Kita Sendiri”. Seperti yang dijelaskan moderator, materi ini tidak bertujuan menjadikan peserta editor profesional layaknya mereka yang bekerja di penerbit besar. Namun, peserta didorong untuk mampu menjadi editor bagi karya sendiri sebelum diserahkan kepada pembaca.
Ide dan Proses Menulis
Dalam pemaparan awal, PakD Sus mengingatkan bahwa setiap tulisan selalu berawal dari ide. Ide bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, baik puisi, cerpen, novel, esai, artikel motivasi, maupun karya nonfiksi lainnya. Ketika penulis menuangkan ide menjadi teks, ia telah memulai proses kreatif yang menuntut teknik, keunikan gaya, dan ketekunan.
Sebuah tulisan dinyatakan selesai jika gagasan yang ingin disampaikan sudah terakomodasi secara utuh. Apabila tulisan masih menggantung, berhenti di tengah jalan, atau bahkan hanya sekadar angan-angan, maka itu belum bisa disebut selesai.
Namun, menyelesaikan tulisan bukanlah tahap akhir. Ada satu langkah penting yang tidak boleh dilupakan: proofreading.
Apa itu Proofreading?
Proofreading adalah kegiatan membaca ulang sebuah teks secara cermat dengan tujuan menemukan dan memperbaiki kesalahan sebelum tulisan dipublikasikan. Inilah tahap paling akhir dalam proses menulis.
Seringkali penulis melewatkan detail kecil, seperti ejaan, tanda baca, atau tata bahasa, karena terlalu fokus pada isi. Ada pula penulis yang sengaja melanggar kaidah dengan alasan “ah, hanya salah huruf saja”. Padahal, detail mikro seperti itu justru penting, terlebih dalam penulisan ilmiah maupun publikasi online yang menuntut standar kebahasaan tinggi.
Kesalahan yang dikoreksi dalam proofreading meliputi:
-
Tata bahasa dan ejaan.
-
Keterbacaan dan kejelasan kalimat.
-
Kesesuaian dengan topik dan tema tulisan.
Proofreading pada dasarnya adalah bentuk tanggung jawab penulis terhadap karyanya sendiri, agar pembaca mendapatkan pengalaman membaca yang baik tanpa hambatan.
Diskusi dan Tanya Jawab
Sesi diskusi berlangsung hangat dengan beragam pertanyaan dari peserta.
-
Bagaimana jika kalimat ambigu tetapi puitis?
-
Apakah ada standar mutlak untuk menilai teks sempurna?
-
Apakah proofreader berhak mengoreksi isi teks?
Jawaban moderator menekankan bahwa tujuan tulisan harus diperhatikan. Jika puisi, maka kaidah bisa lebih longgar. Untuk standar, penulis bisa merujuk pada EYD V, KBBI daring, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, serta pedoman pembentukan istilah. Adapun proofreader memang berwenang mengoreksi, tetapi untuk hal substansi sebaiknya dikonfirmasi kepada penulis.
Catatan Penting dari Narasumber
Dari seluruh rangkaian kegiatan, ada beberapa poin utama yang menjadi catatan penting:
-
Proofreading adalah tahap akhir menulis yang tidak boleh dilewatkan.
-
Kesalahan kecil sekalipun bisa mengurangi kualitas tulisan.
-
Penulis perlu membiasakan diri membaca ulang dan menyempurnakan karyanya.
-
Alat bantu teknologi dapat digunakan, tetapi intuisi dan pemahaman bahasa tetap nomor satu.
-
Dalam karya sastra, proofreader perlu berhati-hati agar tidak mengurangi keindahan artistik teks.
Kesimpulan
Kegiatan literasi malam ini menunjukkan betapa pentingnya langkah kecil bernama proofreading. Meskipun sering dianggap sepele, praktik ini justru menjadi pembeda antara tulisan biasa dan tulisan berkualitas.
Penulis bukan hanya dituntut kreatif dalam melahirkan ide, tetapi juga bertanggung jawab menjaga mutu bahasa. Proofreading adalah cermin kedisiplinan, kesungguhan, sekaligus bentuk penghormatan kepada pembaca.
Dari diskusi ini, peserta memperoleh wawasan praktis: meninggalkan tulisan sejenak untuk dibaca ulang, menggunakan sumber resmi bahasa Indonesia, memanfaatkan teknologi secara bijak, hingga memahami konteks sastra dan akademik. Semua itu menjadi bekal agar karya yang lahir bukan sekadar selesai, melainkan layak untuk dipublikasikan.
Acara ditutup dengan rasa syukur atas ilmu yang dibagikan, disertai harapan agar semangat menulis peserta semakin tumbuh. Kegiatan ini bukan hanya forum belajar, tetapi juga ruang kebersamaan, saling mendukung, dan memperkuat jejaring literasi Nusantara.

