Rabu, 10 September 2025

Proofreading sebelum Menerbitkan Tulisan


Moderator : Sigid Purwo Nugroho, S.H.
Narasumber : Susanto, S.Pd.

Pada kesempatan kali ini, kegiatan rutin KBMN PGRI kembali menghadirkan ruang belajar bersama yang inspiratif. Acara berlangsung pada malam hari mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB, dan sebagaimana biasanya, kegiatan dibagi menjadi empat sesi utama: pembukaan, paparan narasumber, tanya jawab, serta penutup.

Acara dipandu oleh Sigid Purwo Nugroho, alumni KBMN PGRI Gelombang 23 sekaligus anggota Tim Solid Om Jay (TSO). Beliau bertugas sebagai moderator yang memandu jalannya kegiatan, menyapa peserta, serta memastikan setiap sesi berjalan lancar. Sebelum memasuki materi inti, doa bersama dipanjatkan agar kegiatan ini mendatangkan keberkahan, manfaat, serta dicatat sebagai amal kebaikan.

Narasumber dan Materi

Pada malam ini, peserta ditemani oleh narasumber inspiratif, yakni Bapak Susanto, S.Pd., yang akrab disapa “PakD Sus”. Beliau adalah seorang penulis sekaligus pembicara yang kerap berbagi pengalaman serta pengetahuan seputar dunia kepenulisan.

Tema yang diangkat malam ini adalah “Proofreading: Menjadi Editor Profesional untuk Tulisan Kita Sendiri”. Seperti yang dijelaskan moderator, materi ini tidak bertujuan menjadikan peserta editor profesional layaknya mereka yang bekerja di penerbit besar. Namun, peserta didorong untuk mampu menjadi editor bagi karya sendiri sebelum diserahkan kepada pembaca.

Ide dan Proses Menulis

Dalam pemaparan awal, PakD Sus mengingatkan bahwa setiap tulisan selalu berawal dari ide. Ide bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, baik puisi, cerpen, novel, esai, artikel motivasi, maupun karya nonfiksi lainnya. Ketika penulis menuangkan ide menjadi teks, ia telah memulai proses kreatif yang menuntut teknik, keunikan gaya, dan ketekunan.

Sebuah tulisan dinyatakan selesai jika gagasan yang ingin disampaikan sudah terakomodasi secara utuh. Apabila tulisan masih menggantung, berhenti di tengah jalan, atau bahkan hanya sekadar angan-angan, maka itu belum bisa disebut selesai.

Namun, menyelesaikan tulisan bukanlah tahap akhir. Ada satu langkah penting yang tidak boleh dilupakan: proofreading.

Apa itu Proofreading?

Proofreading adalah kegiatan membaca ulang sebuah teks secara cermat dengan tujuan menemukan dan memperbaiki kesalahan sebelum tulisan dipublikasikan. Inilah tahap paling akhir dalam proses menulis.

Seringkali penulis melewatkan detail kecil, seperti ejaan, tanda baca, atau tata bahasa, karena terlalu fokus pada isi. Ada pula penulis yang sengaja melanggar kaidah dengan alasan “ah, hanya salah huruf saja”. Padahal, detail mikro seperti itu justru penting, terlebih dalam penulisan ilmiah maupun publikasi online yang menuntut standar kebahasaan tinggi.

Kesalahan yang dikoreksi dalam proofreading meliputi:

  1. Tata bahasa dan ejaan.

  2. Keterbacaan dan kejelasan kalimat.

  3. Kesesuaian dengan topik dan tema tulisan.

Proofreading pada dasarnya adalah bentuk tanggung jawab penulis terhadap karyanya sendiri, agar pembaca mendapatkan pengalaman membaca yang baik tanpa hambatan.

Diskusi dan Tanya Jawab

Sesi diskusi berlangsung hangat dengan beragam pertanyaan dari peserta.

1. Sukarno dari Makassar
Beliau mengungkapkan kebingungannya: bagaimana bisa melakukan proofreading jika belum yakin benar atau salahnya tulisan? Moderator menanggapi dengan saran praktis: tinggalkan tulisan sejenak, lalu baca kembali di lain waktu. Jarak waktu akan membantu penulis lebih jernih melihat kesalahan. Alternatif lain, serahkan tulisan kepada orang lain untuk dikoreksi, tentu dengan konsekuensi bahwa gaya bahasa bisa sedikit berubah sesuai pembaca kedua.

2. Yuyun dari Sumedang
Dengan cara puitis, beliau bertanya mengenai tiga hal:

  • Bagaimana jika kalimat ambigu tetapi puitis?

  • Apakah ada standar mutlak untuk menilai teks sempurna?

  • Apakah proofreader berhak mengoreksi isi teks?

Jawaban moderator menekankan bahwa tujuan tulisan harus diperhatikan. Jika puisi, maka kaidah bisa lebih longgar. Untuk standar, penulis bisa merujuk pada EYD V, KBBI daring, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, serta pedoman pembentukan istilah. Adapun proofreader memang berwenang mengoreksi, tetapi untuk hal substansi sebaiknya dikonfirmasi kepada penulis.

3. Umi dari Kebumen
Beliau penasaran dengan Ruang Jurnal, platform yang disampaikan narasumber. Dijelaskan bahwa Ruang Jurnal merupakan perusahaan penyedia layanan penyusunan hingga penerbitan jurnal, termasuk konversi disertasi dan penelitian. Layanan ini berorientasi pada profit, namun tetap bisa menjadi solusi bagi penulis akademik.

4. NDY dari Bogor
Pertanyaan berikutnya menyinggung penggunaan alat bantu proofreading digital seperti Grammarly atau AI. Apakah lumrah mengandalkan teknologi? Moderator menjawab bahwa teknologi memang hanya alat bantu. AI bisa mempercepat kerja, tetapi tetap harus divalidasi oleh ilmu dan intuisi penulis. Tanpa itu, hasil bisa membingungkan. Penggunaan teknologi harus seimbang: membantu, bukan menggantikan sepenuhnya.

5. Fazar Azhari dari Garut
Pertanyaan terakhir menyentuh topik menulis jurnal agar mudah tembus SINTA. Narasumber menekankan bahwa hal ini membutuhkan pemahaman sistematika penulisan akademik dan konsistensi. Fazar juga diarahkan untuk mengikuti pelatihan menulis jurnal, baik gratis maupun berbayar, serta aktif mengirimkan tulisan ke penerbit indie.

Catatan Penting dari Narasumber

Dari seluruh rangkaian kegiatan, ada beberapa poin utama yang menjadi catatan penting:

  • Proofreading adalah tahap akhir menulis yang tidak boleh dilewatkan.

  • Kesalahan kecil sekalipun bisa mengurangi kualitas tulisan.

  • Penulis perlu membiasakan diri membaca ulang dan menyempurnakan karyanya.

  • Alat bantu teknologi dapat digunakan, tetapi intuisi dan pemahaman bahasa tetap nomor satu.

  • Dalam karya sastra, proofreader perlu berhati-hati agar tidak mengurangi keindahan artistik teks.

Kesimpulan

Kegiatan literasi malam ini menunjukkan betapa pentingnya langkah kecil bernama proofreading. Meskipun sering dianggap sepele, praktik ini justru menjadi pembeda antara tulisan biasa dan tulisan berkualitas.

Penulis bukan hanya dituntut kreatif dalam melahirkan ide, tetapi juga bertanggung jawab menjaga mutu bahasa. Proofreading adalah cermin kedisiplinan, kesungguhan, sekaligus bentuk penghormatan kepada pembaca.

Dari diskusi ini, peserta memperoleh wawasan praktis: meninggalkan tulisan sejenak untuk dibaca ulang, menggunakan sumber resmi bahasa Indonesia, memanfaatkan teknologi secara bijak, hingga memahami konteks sastra dan akademik. Semua itu menjadi bekal agar karya yang lahir bukan sekadar selesai, melainkan layak untuk dipublikasikan.

Acara ditutup dengan rasa syukur atas ilmu yang dibagikan, disertai harapan agar semangat menulis peserta semakin tumbuh. Kegiatan ini bukan hanya forum belajar, tetapi juga ruang kebersamaan, saling mendukung, dan memperkuat jejaring literasi Nusantara.


 

Minggu, 07 September 2025

Menulis Puisi

 



Moderator: Mutmainah, M.Pd.
Narasumber: Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd.

Menulis puisi sering diibaratkan seperti menari dengan kata-kata. Ia bukan sekadar aktivitas menuangkan kalimat ke atas kertas, melainkan proses mengguratkan perasaan dengan bahasa yang indah, menyulam imajinasi dengan harmoni, serta menyuarakan jiwa melalui diksi yang lembut. Tidak heran jika banyak yang menyebut puisi sebagai bentuk ekspresi paling murni dan jujur. Di dalam bait-bait puisi, seseorang dapat menumpahkan perasaan terdalam, mencatat pengalaman hidup, bahkan menyingkap sisi otentik yang barangkali tak bisa diungkapkan melalui bahasa sehari-hari.

Dalam forum Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) ke-33, topik “Seni Menulis Puisi” diangkat sebagai materi utama. Pertemuan ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat, mempertemukan para insan kreatif yang memiliki tekad untuk terus menulis. Sebagai moderator, Emut Lebak mengawali dengan kalimat penuh energi, mengajak semua peserta untuk membuka hati, meluaskan imajinasi, serta berani mengungkapkan keindahan yang ada di dalam diri.

Malam itu terasa istimewa karena materi disampaikan oleh seorang tokoh yang sudah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan sekaligus literasi, yaitu Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd. atau akrab disapa Ibu Hasanah. Beliau lahir di Sukabumi pada 10 Agustus 1967, seorang ibu dari tiga anak yang mendedikasikan hidupnya bagi kemajuan pendidikan dan literasi bangsa. Saat ini, Ibu Hasanah bertugas sebagai Pengawas Madrasah Aliyah di Kantor Kementerian Agama Sukabumi, sekaligus mengajar sebagai dosen di STAI Kharisma Cicurug.

Perjalanan kariernya sarat dengan prestasi. Pada tahun 2021, beliau berhasil meraih predikat Pengawas Berprestasi Tingkat Jawa Barat. Di tahun yang sama, beliau juga menerima penghargaan bergengsi sebagai salah satu penerima Anugerah Guru dan GTK Kemenag Berprestasi Tingkat Nasional, khususnya dalam kategori Pengawas Madrasah Berprestasi. Prestasi ini tentu saja tidak diraih dengan instan. Selain menjalankan tugas pengawasan, beliau senantiasa aktif memberikan motivasi dan dorongan kepada para guru agar terus meningkatkan kualitas diri serta semangat literasi.

Semangat literasi inilah yang menjadi ciri khas perjalanan beliau. Sejak 2021, Ibu Hasanah telah produktif menulis, baik puisi, pantun, cerita, maupun artikel nonfiksi. Karya-karyanya terkumpul dalam lebih dari 70 buku antologi. Tidak heran jika beliau kini dianggap sebagai sosok inspiratif dalam dunia literasi, khususnya di kalangan madrasah.

Dalam sambutannya, Ibu Hasanah menyampaikan rasa terima kasih dan kebahagiaan karena kembali dapat membersamai para penulis hebat KBMN. Beliau menegaskan bahwa dirinya bukanlah seorang pujangga atau sastrawan, melainkan hanya seseorang yang mencintai puisi. Bahkan, kecintaannya terhadap puisi lahir berkat motivasi dari KBMN, yang kemudian mendorongnya untuk terus menulis hingga melahirkan buku.

Apa Itu Seni Menulis Puisi?

Salah satu bagian menarik dalam forum ini adalah ketika pertanyaan dilontarkan: “Apa itu seni menulis puisi?” Jika ditanyakan pada mesin pencari atau kecerdasan buatan seperti ChatGPT, jawabannya akan menjelaskan bahwa seni menulis puisi adalah proses kreatif menggunakan bahasa untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, dan pengalaman dalam bentuk yang indah serta ekspresif.

Puisi dibangun melalui pemilihan kata-kata yang cermat, struktur yang rapi, penggunaan metafora yang kuat, serta irama yang mampu membangkitkan emosi. Ada puisi yang terikat dengan rima dan ritme tertentu, tetapi ada juga puisi modern yang lebih bebas dalam bentuknya. Meski begitu, esensi utamanya tetap sama: menyampaikan makna mendalam melalui bahasa yang padat dan penuh daya pukau.

Ibu Hasanah kemudian memperjelas, bahwa puisi bukan hanya rangkaian kata, melainkan juga ruh dan daya getar batin. Puisi menghadirkan suara jiwa penyair, menghidupkan perasaan, dan kadang menjadi doa yang diam-diam terucap dalam keheningan.

Unsur Penting dalam Menulis Puisi

Dalam penjelasannya, Ibu Hasanah menekankan beberapa unsur yang perlu diperhatikan oleh penulis puisi:

  1. Tema – ide pokok atau pesan utama yang ingin disampaikan.

  2. Nada dan rasa – sikap penulis terhadap tema, bisa lembut, tajam, reflektif, atau bahkan satir.

  3. Amanat – pesan atau nilai yang hendak dititipkan kepada pembaca.

  4. Diksi dan gaya bahasa – pemilihan kata-kata yang khas, indah, serta penuh makna.

Selain itu, puisi juga diperkaya oleh imaji, metafora, serta majas yang memperindah makna. Rima dan ritme bisa menambah musikalitas, walau tidak selalu menjadi keharusan dalam puisi modern.

Mengapa Disebut Seni?

Menulis puisi disebut seni karena membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menulis. Ia menuntut kepekaan rasa, kreativitas, dan intuisi untuk menangkap keindahan yang tak kasat mata. Seni puisi terletak pada bagaimana penyair mampu mengubah pengalaman sederhana menjadi ungkapan yang sarat makna, sehingga pembaca merasakan keindahan, kesedihan, kerinduan, atau bahkan harapan yang sama.

KBMN sebagai Ruang Tumbuh

Dalam forum KBMN, suasana belajar selalu terasa hangat dan mendukung. Ibu Hasanah mengajak semua peserta untuk menulis secara bebas. Menurutnya, yang terpenting adalah “menulis, menulis, menulis” tanpa harus terlalu khawatir pada aturan. Tema boleh beragam, ekspresi boleh bebas, sebab yang utama adalah keberanian menuangkan isi hati.

Beliau bahkan memberikan tantangan kecil: dua puisi terbaik yang dihasilkan malam itu akan mendapatkan hadiah berupa buku puisi. Tantangan ini semakin menyemangati peserta untuk serius mengasah kreativitasnya.

Definisi Menurut Ahli

Untuk memperkaya pemahaman, Ibu Hasanah juga menyampaikan definisi puisi menurut KBBI dan pandangan ahli sastra H.B. Jassin. Keduanya menegaskan bahwa puisi adalah karya sastra tulis yang menggunakan bahasa indah, padat, dan penuh makna untuk menciptakan emosi mendalam. Definisi ini memperkuat bahwa puisi memang tidak sekadar rangkaian kata, melainkan karya seni yang hidup.

Penutup Penuh Keakraban

Di akhir pertemuan, suasana semakin akrab. Ibu Hasanah menyampaikan salam hormat kepada Om Jay, Bu Kanjeng, tim solid KBMN, serta semua sahabat yang hadir. Beliau menegaskan bahwa keberadaannya di forum ini bukan sekadar untuk mengajar, tetapi juga untuk saling belajar, berbagi, dan menguatkan.

Ucapan “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” menutup sesi dengan penuh kehangatan. Malam itu bukan hanya pertemuan biasa, tetapi menjadi ruang di mana kata-kata bertransformasi menjadi seni, di mana puisi bukan sekadar bacaan, melainkan napas kehidupan.


Kesimpulan

Resume ini menegaskan bahwa seni menulis puisi adalah keterampilan sekaligus panggilan hati. Ia menuntut keberanian, kreativitas, dan kepekaan rasa. Melalui puisi, seseorang dapat mengekspresikan isi jiwa dengan bahasa yang indah dan penuh makna.

Pertemuan KBMN 33 bersama Dr. Hj. E. Hasanah, M.Pd. tidak hanya membuka wawasan tentang teknik menulis puisi, tetapi juga menghadirkan inspirasi. Bahwa siapa pun, bahkan yang awalnya merasa bukan pujangga, bisa menjadi penulis puisi ketika ada motivasi, ruang belajar, dan semangat untuk terus menulis.

KBMN menjadi wadah yang membuktikan bahwa literasi bukan sekadar kegiatan membaca dan menulis, melainkan gerakan bersama untuk menghidupkan kata, merawat budaya, serta menumbuhkan generasi kreatif yang mencintai sastra.