Minggu, 15 November 2020

Berkenalan dengan Group Menulis!

Menulis menyelesaikan janji yang terlepas dari busurnya kata--kata berangkai penuh makna, tapi belum lunas juga. Kepada siapa yang kena biarlah menyasar kemana saja yang terpenting tepat kesasarannya. Apanya yang kena? Hanya perasa yang tahu kalau tidak bisa  sentimental. Merangkai kata-kata butuh yang namanya kemampuan. Kemampuan yang mengalir seperti air yang menyalir dari mata air bukan dari air mata. Menulislah seperti air mengalir dari mana saja.

Awal mula mengenal group menulis karena iseng-iseng alias coba-coba, tak ada keinginan, tak ada hasrat. Setelah masuk salah satu group yang ada Om Jay dan Bu Kanjeng, mode on silent reader diaktifkan hanya menjadi pembaca info aktif, no action satu hurufpun. Itupun group pertama masuk tanpa titik koma sampai pada masa tertentu masih mode on nyimak. Setelah banyaknya info tentang group menulis dengan kesekian kalinya entah kenapa masuklah ke group menulis sekarang, group menulis gelombang 15. Ada apa dengan angka 15? Entahlah, dari sekian angka, di group 15 dimulai namanya kebangkitan baru sedikit keinginan menulis. Sedikit sudah mending daripada tidak ada sama sekali. Atau mungkin 15 adalah angka misterius di daerah rahasia di Amerika ya?

Setelah masuk group 15 perangai mode on silent reader masih aktif dipakai, sampai Om Jay sebagai admin menyuruh keluar dari group bila tidak mau menulis resume di blog pribadi. Ketawa sendiri ketika menulis tulisan berangkai huruf-huruf dibuatnya, mengenang diancam dulu baru bertindak. Menulis juga akhirnya dengan permateri pertama bu Kanjeng, menulis cuma tiga kalimat. Mendinganlah dari pada judulnya doang isinya layar putih segi empat.  Hari demi hari pun berlalu semenjak 03 Agustus 2020, begitupun dengan narasumber yang memberikan ilmunya silih berganti satu demi satu mengamalkan kemampuan menulisnya dari berbagai profesi. Berkenalan dilayar segi empat layar monitor dengan berbagai keahlian dengan bidangnya masing-masing, seru, bagaimana menerangkannya kalau cuma kita yang rasa?

Setelah dipikir pikir sampai sejauh ini buat apa menulis? untuk mendapatkan sertifikat ya? Buat buku untuk menambah angka kredit kah? Marah juga bacanya sudah sejauh ini menulis juga belum paham-paham. Menulislah tanpa alasan mungkin itu jawaban sederhana karena kalau sudah punya alasan ekornya panjang yang berakhir dengan tanda titik.

Dibalik group menulis ini sebenarnya tipe dasar T.A penelitian secara eksperiment S1 memang menulis, kesampaiannya ditahun 2020, lama juga ya sejak kelulusan tahun 2013. Buat apa juga mengenang masa lalu dengan deretan angka tahunannya. Sudahilah masa lampau dengan menghias masa depan dengan cerita semenarik pelangi. Buatlah kisah hidup masa depan dengan coretan huruf berangkai kata-kata yang menjadi jejak penanda pernah ada untuk menyemarakan hidup di layar monitor ini.

Menulispun seperti ayam gadis bertelor. Kadang ada kandang ngak. Ya maklum saja, sekarang posisi bukan di daerah kota dengan akses telekomunikasi yang stand by 24 jam nonstop. Apalagi listrik yang bisa dihitung jamnya kapan hidup dalam sehari. Punya medsospun mati suri, lah iya lah listrik sama sinyalnya tak ada ketika mau masuk, ada sih ada, sekedar kalau ada yang menanya 'apa punya medsos?' tapi contentnya sudah hari-hari berlalupun masih diwaktu masa lalu tidak ada yang up to date. Untung saja bernafasnya pakai oksigen bukan pakai tegangan listrik sama sinyal otomatis. Itulah kehidupan tulisan ini. Malangnya ketika diklat sama seminar melalui webinar alamat apa coba? Kalau Om Jay bilang ‘mati gaya’dan saya tambahkan ‘mati daya’, untung saja hidup bukan dikendalikan pakai remot kontrol.  

Beruntunglah orang yang berada di daerah yang listrik sama sinyal telekomunikasinya lancar, dan penggunaan kartu sim card bisa apa saja, manfaatkanlah dengan semaksimal mungkin. Ada dipelosok Indonesia yang jauh lebih parah kehidupannya. Yang penting dari semua itu adalah rasa syukur akan nikmat hidup sehinga dapat berkenalan di layar segi empat melalui rangkaian kata-kata. Syukur juga group menulisnya melalui asinkron WAG coba sinkron. Sudah terbayang kondisinya bila dimanjakan oleh telekomunikasi yang sudah seperti oksigen bagi yang hidup dengannya.