Berdasarkan
indikator literasi Progress in
International Reading Literacy Studies (PIRLS) Indonesia berada pada
peringkat ke-42 dari 45 negara pada tahun 2011.
Memberi gambaran kepada pemerhati pendidikan tentang daya literasi
bangsa di mata dunia. Sebegitukah urutan literasi Indonesia? Kemana saja jiwa
merdeka berliterasi membangun negeri memperjuangkan kemerdekaan bangsa sebagaimana
memperebutkan kemerdekaan dari penjajahan?.
Literasi
bukanlah kata asing bagi bangsa yang berakar pada budaya negeri. Dikutip dari KBBI literasi merupakan suatu
kemampuan dari individu untuk mengolah sebuah informasi dan pengetahuan atau
wawasan serta kecakapan hidup. Hadir dalam ranah kehidupan di setiap sudut
negeri. Memberi ruh kepada insan yang haus akan ilmu kehidupan. Kepada guru
sebagai agen sosial yang diminta oleh masyarakat untuk memberikan bantuan
kepada warga yang akan dan sedang berada di bangku sekolah meningkatkan
literasi. Terkadang ada kata yang teruntai
‘berilah aku guru yang HEBAT (Hadapi tantangan, Energi maksimal, Bangun motivasi,
Ambil kesempatan dan Teguh berprinsip) literasi, yang dengan kurikulum yang
jelek sekalipun akan dapat dihasilkan lulusan yang hebat literasi’.
Literat
dapat ditandai bila seseorang sudah kompeten dan cakap dalam beradaptasi,
berfikir positif dan membicarakan solusi. Guru literat mampu mengurai data yang beredar di kancah
dunia menjadi rumus meningkatkan literasi. Menciptakan karya yang tidak lekang
oleh waktu. Buku cetak maupun digital. Konten inspiratif dan karya digital
lainnya. Perhitungan yang dapat ditingkatkan yaitu indikator Aktivitas Literasi
Membaca (Alibaca). Pada tahun 2019 Litbang Kemendikbud menyatakan tingkat aktivitas
literasi berjumlah 37,32 % yang berarti pada posisi rendah. Komponen
kegiatannya terbentuk atas empat indeks dimensi; kecakapan 75,92%, akses 23,
09%, alternatif 40, 49 % dan budaya 28,50 %. Sehingga guru literat dapat
memperdayakan keadaan atas dasar kesadaran belajar, kemampuan memahami realita,
dan mampu menstranformasikan pikiran ke dalam tindakan nyata di Era society 5.0. dimana kita ketahui bersama
bahwa kemampuan membaca merupakan fondasi dari pembangunan kualitas bangsa.
Sebagai
seorang guru yang memiliki kompetensi pada bidang yang diampunya di satuan pendidikan, perlu
menguasai 6 literasi dasar; baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial
serta budaya dan kewarganegaraan. Salah satunya
menguasai literasi digital. Pada tahun 2020, Indek Keberadaan Digital
(Digital Civility Index) Indonesia adalah salah satu yang terburuk di dunia,
urutan 29 dari 32 Negara, dan yang paling buruk di asia Tenggara berdasarkan
hasil Microsoft Indonesia Mews Center, 11 Feb 2020. Dari data tersebut
memberikan gambaran bahwa dimanakah posisi guru dalam data tersebut, bila
gurunya gagap dalam mengakses, memanfaatkan, mendistribusikan dalam pengunaan
perangkat teknologi, informasi dan komunikasi.
Sumber
yang berasal dari BPS (2022) dan Kominfo
(2020) dapat di analisa bahwa akses masyarakat ke teknologi informasi
semakin meningkat, namun tidak diikuti oleh kemampuan memilah informasi. Dibuktikan
dengan lima tahun terakhir, akses masyarakat terhadap Teknologi Informassi dan
Komunikasi (TIK) meningkat sangat pesat.
Proporsi masyarakat usia 15-19 dengan keterampilan TIK meningkat dari 27,04%
(2015) menjadi 64,26 % (2020). Meski demikian, masih terdapat isu kesenjangan
antarwilayah di mana pada tahun 2020 terdapat wilayah dengan proporsi
masyarakat yang memiliki keterampilan TIK sebesar 30,93%. Inovasi Teknologi
Digital diperlukan sebagai upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
mengakses, mengelola, serta memanfaatkan informasi dan pengetahuan untuk
peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan.
Masyarakat
berpengetahuan atau masyarakat literat menjadi fondasi sosial yang sangat kokoh
untuk mendorong proses transformasi masyarakat menuju kehidupan yang sejahtera
serta mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki watak kosmopolitanisme dan
berkarakter dalam budaya literasi. Seorang guru yang merupakan bagian dari
tokoh masyarakat menjadi tolak ukur dalam meningkatkan literasi bangsa. Hal ini
sekaligus menyampaikan visi Presiden periode 2020-2024, yaitu: “Terwujudnya
Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong
royong melalui penguatan budaya literasi”.
Hal
ini bisa kita lihat dari berbagai negara seperti Jepang yang menempati
peringkat paling tinggi dalam hal literasi dan numerasi, namun lebih dari 20%
penduduk dewasa dengan kemahiran paling tinggi justru tidak ada di pasar kerja.
Norwegia hanya 9% penduduk dewasa yang mahir literasi dan numerasi yang tidak
ada di pasar kerja. Begitu juga dengan Italia lebih serius lagi, kurang dari 5%
angkatan kerja yang mahir literasi dan numerassi, 1 dari 4 orang tidak tercatat
berada di pasar kerja dan 5% yang lainnya menganggur berdasarkan sumber OECD, Skilled for life? Key Findings From The Survey
of Adult Skills (2013).
Melirik dari sumber https://knowledge4all.com/country-profile?Countryld=1054
di atas. Indonesia memiliki
kinerja yang moderat di dalam kapasitas ilmu pengetahuan. Meraih peringkat
ke-87 dari 154 negara dalam Global
Knowledge Index 2021. Ini membuktikan bahwa Indonesia masih perlu melakukan
upaya peningkatan kapasitas di bidang pengetahuan melalui berbagai strategi
program dan kegiatan yang tepat, termasuk pengembangan akses teknologi
informassi dan penguatan literasi baru.
Menyingkapi
data tersebat berbagai inovasi yang lahir di revolusi industry 4.0 mempercepat perubahan pembelajaran dari kelas
konvensional menjadi hybrid learning/
blended learning atau kelas campuran. Percepatan terjadi dikala kondisi Covid-19 mengguncang dunia. Sanggup tak
sanggup guru dipaksa merubah pola nyaman untuk mempelajari inovasi
pembelajaran. LIterasi digital menjadi alternatif tersendiri dalam menguasai
inovasi pembelajaran. Berkah yang tidak dapat diukur ketika guru mengambil
peluang untuk meningkatkan kompetensi dengan berbagai pelatihan dan sejenisnya
pada masa itu. Mereka menerima berbagai input pemahaman kedalam pikirannya.
Menyerap informasi untuk memilah dan memilih keputusan terbaik yang mudah
digunakan serta berorientasi pada siswa.
Guru
yang melek teknologi sanggup menerapkan pola keterampilan abad 21 Creativity, Critical Thinking, Communication,
dan Collaboration (4C) secara maksimal. Terus berinovasi
mencipta dan berkarya. Banyak terobosan baru muncul selama kondisi covid
melanda. Merubah semua paradigma berpikir pemangku kepentingan pendidikan.
Muncul guru literat yang terus berprestasi menunjukan kemampuannya. Keluar dari
sekat-sekat yang membelenggu menjadi hamparan luas tanpa batas meningkatkan
karirnya (penulis, blogger, youtuber, enterpreneur dll). Memunculkan nama-nama baru
kepermukaan menatap perubahan pendidikan masa depan.
Terbuka
lebarnya pemanfaatan OER Open Educational
Resources dalam kegiatan pembelajaran
menemukan informasi memberdekakan guru menerima input pengetahuan dari segala arah. Guru yang sejatinya manusia
yang tidak pernah berhenti belajar terus bermetamorfosa mencerminkan hakikat
pembelajar dari ajaran bapak pendidikan Ki hajar Dewantara. Ketika teknologi
berperan penting dalam perekonomian dan aneka jenis pekerjaan yang memerlukan
kemampuan analisis dan keterampilan komunikasi, ada korelassi positif antara
kemampuan literasi (reading skills) dan produktivitas tinggi.
Bagi
seorang guru dalam membangun negeri tidak harus selalu dengan upaya yang besar,
tetapi cukup dengan meningkatkan kompetensi yang berasal dari
dalam diri individu untuk terus berkembang. Jejak perjuangan sekarang akan
tampak bila sudah melangkah lebih jauh. Berdiri sendiri tanpa melangkah karena
takut bergerak tidak akan membuat bumi berhenti berputar. Teruslah melangkah
sedikit demi sedikit. Awal besar dimulai dari langkah permulaan. Sekarang belum
terlambat untuk maju sebab bangsa yang maju adalah bangsa pembaca.